Klakson Tiga Kali
Pukul lima lewat empat puluh, Pak Lukas sudah duduk di balik kemudi minibus putih bergaris biru yang di kaca belakangnya tertempel stiker ANTAR JEMPUT SD KARYA BUKIT. Mesin sudah ia panaskan sepuluh menit, kaca sudah ia lap, dan termos kopi sudah ia selipkan di samping persneling, seperti setiap pagi selama dua puluh dua tahun.
Bedanya, hari ini ia memakai kemeja batik, bukan kaus berkerah seperti biasa. Istrinya yang memaksa.
"Hari terakhir, Pak," kata Bu Martha di depan pintu tadi, sambil merapikan kerah kemeja suaminya. "Masa pakai kaus yang sudah bolong ketiaknya."
"Anak-anak tidak lihat ketiak saya, Ma."
"Orang tuanya lihat."
Pak Lukas berumur enam puluh tahun. Rambutnya sudah putih seluruhnya, kacamatanya sudah dua kali ganti lensa dalam lima tahun terakhir, dan lututnya mulai protes setiap kali ia menginjak kopling terlalu lama di tanjakan. Yayasan sekolah sudah memberinya surat pensiun bulan lalu dengan bahasa yang sopan dan ucapan terima kasih yang panjang. Mulai Senin depan, seorang sopir muda bernama Dimas yang akan mengambil alih rutenya.
Ia memutar kunci dan menginjak gas pelan. Minibus itu berderak keluar dari garasi rumahnya di Gunung Samarinda, menuju rute yang sudah ia hafal sampai ke lubang-lubang di aspalnya.
Penjemputan pertama: Kompleks Perumahan Grand City, rumah nomor empat belas. Pak Lukas berhenti di depan pagar hitam dan, seperti biasa, menekan klakson tiga kali. Pendek, pendek, panjang.
Pintu rumah terbuka dan Kenzo, kelas dua, berlari keluar dengan tas punggung bergambar dinosaurus yang lebih besar dari tubuhnya. Di belakangnya, ibunya berdiri di teras melambai.
"Pagi, Opa Lukas!"
"Pagi, Kenzo. Sudah sarapan?"
"Sudah! Roti!" Kenzo naik, duduk di kursi paling depan seperti biasa, lalu menyodorkan sesuatu. Sebuah gambar dari krayon: minibus putih dengan garis biru, dan seorang laki-laki berambut putih di belakang kemudi, tersenyum lebar dengan gigi kotak-kotak. Di bawahnya tertulis dengan huruf besar-besar yang miring: OPA LUKAS JANGAN PERGI.
Pak Lukas menatap gambar itu lama. Lalu ia melipatnya hati-hati dan menyelipkannya di saku kemeja batiknya.
"Terima kasih, Kenzo."
"Opa beneran pergi?"
"Opa cuma pensiun. Masih di Balikpapan."
"Tapi besok bukan Opa yang klakson?"
Pak Lukas tidak menjawab. Ia menginjak gas pelan.
Penjemputan kedua sampai kesembilan berjalan seperti biasa, tapi tidak sepenuhnya biasa.
Di rumah Aisyah, ibunya menitipkan kotak bekal berisi kue bingka. "Buat Opa, kesukaan Opa kan?" Di rumah kembar Gilbert dan Grace, ayah mereka keluar dengan sarung dan menyalami Pak Lukas lewat jendela sopir, menggenggam tangannya lama tanpa banyak bicara. Di rumah Rafa, nenek Rafa yang dulu juga dijemput Pak Lukas waktu SD, dua puluh tahun lalu, sebelum ia pindah ke Samarinda dan kembali lagi sebagai nenek, berdiri di pagar dan berteriak, "Lukas! Kamu sudah tua!"
"Kamu juga, Ros!"
Semua anak tertawa.
Setiap kali, di setiap rumah, Pak Lukas menekan klakson tiga kali. Pendek, pendek, panjang. Dan setiap kali, ia memperhatikan sesuatu yang tidak pernah ia sadari selama dua puluh dua tahun: di jendela-jendela rumah, gorden tersibak. Orang-orang mengintip. Tetangga yang tidak punya anak sekolah, kakek-kakek di teras, ibu-ibu yang sedang menyapu halaman. Semua menoleh ketika klakson itu berbunyi.
Di kursi tengah, Aisyah yang sudah kelas enam berbisik pada temannya, cukup keras untuk Pak Lukas dengar, "Kata mamaku, orang sekompleks pakai klakson Opa buat jam weker. Kalau sudah bunyi, artinya jam enam lewat sepuluh."
Penjemputan terakhir: rumah kecil bercat kuning di ujung gang di Gunung Bahagia, rumah nomor tiga.
Pak Lukas berhenti dan menekan klakson tiga kali.
Tidak ada yang keluar.
Ia menunggu satu menit. Dua menit. Anak-anak di belakang mulai gelisah. Pak Lukas melirik jam di dasbor. Kalau menunggu lebih lama, mereka akan terlambat.
Lalu pintu rumah kuning itu terbuka dan seorang laki-laki muda keluar. Bukan anak SD. Laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahun, memakai seragam pegawai bank, menggendong seorang anak perempuan kecil berseragam taman kanak-kanak.
Pak Lukas menyipitkan mata di balik kacamatanya.
"Opa Lukas," kata laki-laki itu sambil mendekat ke jendela sopir. "Ingat saya?"
Pak Lukas menatap wajah itu lama. Ada sesuatu yang familiar di garis hidung dan alisnya yang tebal.
"Yosua," katanya akhirnya. "Kelas tiga. Yang selalu muntah di tanjakan Gunung Pipa."
Yosua tertawa keras. "Itu saya! Dua puluh tahun lalu. Opa selalu berhenti dan kasih saya permen jahe." Ia mengangkat anak perempuan di gendongannya. "Ini anak saya, Lidya. Baru masuk TK Karya Bukit tahun ini. Saya minta ke yayasan supaya dia masuk rute Opa, biar sempat sekali saja diantar Opa sebelum Opa pensiun."
Lidya menatap Pak Lukas dengan mata bulat. "Opa yang klakson tiga kali?"
"Iya."
"Papa bilang, kalau dengar klakson tiga kali, artinya harus cepat-cepat, tapi tidak boleh lari."
Pak Lukas tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tiba-tiba sempit.
Mereka tiba di sekolah di atas bukit pukul enam lima puluh, tepat waktu seperti biasa. Tapi di gerbang sekolah, tidak seperti biasa, ada keramaian.
Guru-guru berbaris. Kepala sekolah berdiri di depan dengan pengeras suara. Puluhan anak dari rute-rute lain berdiri memegang kertas-kertas bergambar. Dan di belakang mereka, ada orang tua, banyak sekali orang tua, sebagian di antaranya Pak Lukas kenali sebagai anak-anak yang dulu pernah ia antar.
Seseorang memasang spanduk dari kain di pagar: TERIMA KASIH OPA LUKAS. 22 TAHUN, 0 KALI TERLAMBAT.
"Itu tidak benar," gumam Pak Lukas sambil menghentikan minibus. "Saya pernah terlambat waktu banjir 2009."
"Opa," kata Aisyah dari belakang, "itu banjir. Bukan salah Opa."
Pak Lukas turun dari minibus. Kakinya terasa lebih berat dari biasanya. Bu Martha, istrinya, ternyata ada di sana, di barisan depan, memegang ponsel untuk merekam, matanya merah. Di sebelahnya berdiri Dimas, sopir muda yang akan menggantikannya, memegang kunci minibus cadangan dengan wajah gugup.
Kepala sekolah menyerahkan pengeras suara padanya. Pak Lukas menatap ratusan wajah di depannya dan menyadari ia tidak menyiapkan apa-apa untuk dikatakan. Dua puluh dua tahun ia hanya bicara dengan anak-anak di kursi belakang, tentang PR, tentang sarapan, tentang siapa yang mengambil pensil siapa.
Jadi ia tidak bicara. Ia hanya berbalik, berjalan ke Dimas, dan menarik anak muda itu ke balik kemudi minibus yang mesinnya masih menyala.
"Tiga kali," katanya pelan. "Pendek, pendek, panjang. Jangan pernah ganti."
Dimas mengangguk, lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, menekan klakson.
Pendek. Pendek. Panjang.
Dan ratusan anak di gerbang sekolah di atas bukit itu bersorak, seolah-olah klakson itu adalah bunyi bel yang paling mereka tunggu sepanjang tahun.
Malam itu, di rumah, Bu Martha menemukan suaminya duduk di teras dengan sebuah buku tulis kecil yang sudah lusuh. Pak Lukas membukanya di halaman terakhir. Di sana, selama dua puluh dua tahun, ia mencatat setiap amplop gaji yang ia pisahkan untuk tabungan pensiun, setiap uang sekolah anak-anak mereka yang lunas, setiap cicilan yang selesai. Di halaman terakhir, ia menulis satu baris baru:
Hari terakhir. Semua lunas. Termasuk yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Lalu ia mengambil gambar krayon dari saku kemejanya, gambar minibus dengan laki-laki berambut putih yang tersenyum dengan gigi kotak-kotak, dan menyelipkannya di antara halaman buku itu, tepat di bawah kalimat terakhirnya.