Cerita pendek gratis, episode baru terbit rutin
Tanpa biaya, tanpa iklan. Ikuti ceritanya dan kami kabari saat episode berikutnya terbit.
Pensil Warna Terakhir
Di pulau paling selatan Indonesia, sebatang pensil warna biru menjadi rebutan, lalu menjadi hadiah.
Resep yang Diwariskan
Tiga dapur, tiga resep, dan tiga orang yang akhirnya mengerti bahwa takaran terbaik tidak pernah tertulis.
Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Delapan surat yang ditulis, dilipat, lalu disimpan. Delapan cerita tentang kata-kata yang hampir tidak sampai.
Gelas Kedua di Meja Dekat Jendela
Tiga bulan, setiap pagi, ia memesan dua gelas kopi. Hanya satu yang diminum.
Kaleng Kas Kelas
Setiap Jumat, uang kas kelas berkurang lima puluh ribu. Setiap Senin, uangnya kembali. Bau cuko.
Catatan di Balik Kartu Pinjam
Setiap Jumat malam, sebuah buku yang dipinjam tahun 1983 kembali ke perpustakaan. Bersama sebuah pesan.
Canting yang Tidak Pernah Kering
Seorang anak yang dulu menolak belajar membatik, seorang ayah yang tangannya mulai gemetar, dan satu kain yang harus selesai tepat waktu.
Rantai Sepeda Abah
Liburan yang membosankan di bengkel sepeda kakek, sebuah kaleng tabungan, dan sepeda ontel tua milik nenek.
Antar Jemput Terakhir
Dua puluh dua tahun mengantar anak-anak sekolah, satu hari terakhir sebelum pensiun, dan klakson tiga kali yang selalu ditunggu.
Peron Empat
Stasiun tua yang akan ditutup, seorang mahasiswi yang memotret dengan ponsel, dan peron yang sudah dibongkar sejak 1982 tapi masih ramai setiap pukul 21.40.
Jalan Kaki ke Nyadran
Kakek tujuh puluh empat tahun bersikeras berjalan kaki ke makam istrinya di Gunungkidul. Cucunya yang sedang menunggu panggilan kerja terpaksa menemani.
Lembur Lantai Sembilan
Tutup buku akhir bulan, telepon dari lantai yang sudah lama kosong, dan satu nama yang belum dibayar sejak 2007.
Penumpang Dek Bawah
Kapal penyeberangan tengah malam, seorang sopir truk, dan anak kecil yang mencari ayahnya di antara roda-roda.
Titipan di Dek Empat
Dua puluh tiga titipan, satu kapal ke Ambon, dan sehelai kebaya pengantin yang hilang di Makassar.
Lentera untuk Stasiun Kalibaru
Empat puluh tahun lalu ia meminjam sebuah lentera. Kini ia naik kereta melintasi Jawa untuk mengembalikannya.
Bangku Barisan Kedua
Siswi pindahan dari Rote, logat yang ditertawakan, dan satu siswa yang selama ini memilih diam.
Koperasi Lantai Dua
Pengurus OSIS SMK butuh dana pentas seni, dan satu-satunya ide mereka adalah membuka lapak di lantai dua, tepat di atas kantin Bu Rum.
Mosi Diterima
Anak warung kopi, gadis yang membeku di depan mikrofon, dan anak asrama dari hulu Kapuas melawan sekolah juara bertahan.
Layang-Layang Pembawa Surat
Cerpen sekali baca tentang anak Makassar, angin timur, dan surat untuk ayah di tengah laut.
Kendi yang Tak Pernah Kosong
Kemarau panjang di sebuah dusun di Bima, dan kendi tanah liat yang hanya terisi selama airnya dibagi.
Pulau yang Muncul Saat Surut
Peta tulisan tangan kakek, sebuah pulau tempat barang-barang hilang berkumpul, dan satu suara yang ingin dibawa pulang.
Telepon dari Hong Kong
Enam tahun ibunya bekerja di Hong Kong. Dita punya satu permintaan, dan satu buku catatan untuk membuktikannya.
Bekal dari Bapak
Sejak Mama meninggal, bekal Grace selalu nasi goreng gosong. Sampai Bapak menemukan buku resep bertinta ungu.
Musim Tanam di Rumah Kakek
Diskors dari sekolah, Fikri dikirim ke desa di Sidrap. Kakeknya pendiam, tangannya rematik, dan mulai sering lupa.
Rapat Daring Pertama Kelurahan Sukamaju
Kantor kelurahan kecil, rapat video pertama dengan Pak Camat, dan satu tombol bergambar mikrofon yang tidak pernah ditekan.
Perang Galon Kos Mawar
Enam penghuni kos, satu galon bersama, dan pertanyaan yang memecah persahabatan: siapa yang tidak pernah ganti galon?
Kelontong Bu Narti Go Online
Minimarket buka di seberang jalan, cucu bilang "jualan online saja, Nek", dan kekacauan pun dimulai.
Musim Pala di Banda Neira
Guru kontrak setahun, pemandu kebun pala, dan pulau yang tidak suka orang tergesa.
Antrean Kamis Pagi
Dua termos teh, satu kursi tunggu, dan cinta yang datang di usia tujuh puluh.
Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima
Buku catatan yang tertinggal di mobil travel, dan pemuda yang mengembalikannya di tengah kabut.
Klub Lensa Retak
Empat siswa, empat ponsel biasa, dan satu lomba foto yang tidak menunggu siapa pun siap.
Kamar Nomor Tujuh
Kamar kosong nomor tujuh, jam dinding yang berhenti di 02.17, dan ibu kos yang menyimpan cerita.
Kardus Terakhir dari Batam
Dua belas tahun merantau, satu surat PHK, dan perjalanan panjang pulang ke kaki Rinjani.
Bendahara Dadakan RT 05
Pensiunan yang datang ke rapat demi gorengan, pulang membawa buku kas dan tiga grup WhatsApp.
Warung yang Datang Bersama Hujan
Warung kecil di Bandung yang hanya buka saat hujan, dan masakan yang mengembalikan kenangan.
Singgah Sebentar
Delapan kota, delapan cerita pendek tentang orang-orang biasa dan hari yang tidak biasa.
Paket untuk Rumah Nomor 17
Setiap Selasa, pesanan yang sama datang untuk rumah yang sudah lama kosong. Dan selalu ada yang membayar.
Dapur yang Tidak Pernah Tidur
Suaminya kena PHK, anaknya malu, dan tetangganya pemilik toko kue. Sri cuma punya oven tangkring dan resep ibunya.
Revisi Terakhir
Desainer freelance, klien toko roti yang rewel, dan logo yang tidak pernah selesai.
Kedai Kopi di Ujung Gang
Warisan kakek: kedai yang hampir bangkrut, dan buku catatan berisi rahasia para pelanggannya.