Episode 1 dari 1

Kain di Atas Gawangan

Canting yang Tidak Pernah Kering · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Bau malam panas menyambut Sari sebelum pintu rumah terbuka. Bau itu tidak pernah benar-benar hilang dari rumah di gang kecil Kauman ini, menempel di kusen, di tirai, bahkan di bantal yang dulu ia pakai waktu SMA. Di Jakarta, ia sempat lupa bau itu. Sekarang, begitu turun dari becak dengan tas ransel dan satu koper kecil, ia langsung ingat semuanya.

"Mbak Sari." Mbok Tun membuka pintu. Kerudungnya miring, jari-jarinya kebiruan oleh sisa pewarna indigo. "Bapak di kamar depan. Sudah bisa duduk, tapi belum boleh banyak omong."

"Bimo?"

"Ke rumah sakit lagi, ambil obat. Katanya Mbak naik kereta pagi."

Sari mengangguk. Ia melepas sepatu, lalu berhenti di ambang ruang tengah. Di sana, di bawah jendela yang menghadap halaman belakang, sehelai kain mori terbentang di gawangan bambu. Separuhnya sudah berisi garis-garis malam yang rapi, menyilang membentuk jaring segi delapan, bintang kecil di setiap pertemuannya. Separuh lainnya masih putih, hanya ada bekas pensil tipis.

"Jlamprang," kata Mbok Tun pelan. "Pesanan Bu Lestari. Buat nikahan cucunya. Bapak sudah ngerjakan dua minggu sebelum jatuh."

"Kapan nikahannya?"

"Delapan minggu lagi. Tanggal tujuh Desember."

Sari menatap kain itu lama. Ia tahu apa artinya separuh kain putih itu. Ia tahu berapa jam dibutuhkan untuk mencanting satu baris saja. Ia juga tahu, lebih dari siapa pun, bahwa ia tidak bisa melakukannya.

Kamar depan terasa lebih sempit dari yang ia ingat. Pak Harjo duduk bersandar pada dua bantal, sarung kotak-kotak menutupi kakinya. Wajahnya sedikit turun di sisi kiri. Ketika melihat Sari, mata kanannya berkedip lebih cepat.

"Kok pulang," katanya. Suaranya pelan, kata-katanya agak terseret. "Kerjaanmu?"

"Cuti, Pak." Sari duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu dulu kokoh, penuh kapalan di ruas jari telunjuk karena puluhan tahun menjepit canting. Sekarang tangan itu bergetar halus, seperti daun yang tertiup angin. "Dua minggu."

"Dua minggu." Pak Harjo mengulang, lalu tertawa kecil tanpa suara. "Kain itu butuh delapan."

"Bapak jangan mikir kain dulu."

"Bapak mikir apa lagi, Ri? Mikir tembok?"

Sari menunduk. Itu nada yang sama dengan sepuluh tahun lalu, ketika ia bilang mau kuliah jurnalistik di Jakarta dan tidak mau meneruskan rumah batik. Waktu itu ayahnya tidak marah. Ia hanya diam lama, lalu bilang, "Ya sudah. Canting itu tidak bisa dipaksa." Kalimat itu lebih menyakitkan dari bentakan mana pun.


Bimo pulang menjelang magrib membawa kantong plastik obat dan dua bungkus nasi megono. Ia memeluk kakaknya sebentar, canggung, seperti dua orang yang lama tidak saling menelepon kecuali untuk urusan transfer uang.

"Mbak sudah lihat kainnya?" tanya Bimo sambil membuka bungkus nasi.

"Sudah."

"Mustahil selesai." Bimo menyuap nasi dengan cepat. "Mbok Tun bisa nyanting, tapi matanya sudah tidak kuat buat garis halus. Pembatik lain di kampung ini sudah penuh pesanan semua. Ini musim nikahan."

"Terus?"

"Ya kita batalkan. Kembalikan uang muka Bu Lestari." Bimo menatap kakaknya. "Dan Mbak, ada yang harus kita omongkan."

Sari menunggu.

"Ada orang mau beli rumah produksi ini. Pak Wijaya, yang punya pabrik batik printing di Buaran. Harganya bagus. Cukup buat biaya terapi Bapak, cukup buat renovasi rumah, sisanya bisa ditabung."

"Bapak tahu?"

"Belum." Bimo meletakkan sendoknya. "Mbak, coba lihat kenyataan. Siapa yang mau meneruskan? Aku sudah tiga tahun jualan kain printing lewat online, Mbak tahu sendiri hasilnya. Mbak di Jakarta. Bapak tidak bisa nyanting lagi. Rumah ini cuma jadi tempat malam membeku."

Dari kamar depan terdengar batuk kecil. Keduanya terdiam. Mereka tidak tahu apakah ayah mereka mendengar.


Malam itu Sari tidak bisa tidur. Ia keluar ke ruang tengah, menyalakan lampu bohlam kuning yang menggantung di atas gawangan. Di meja kecil di sebelahnya, ada wajan kecil berisi malam yang sudah membeku, kompor kecil, dan sebuah kotak kayu berisi canting-canting dengan berbagai ukuran cucuk. Canting milik ayahnya yang paling tua bergagang bambu yang sudah menghitam dan licin.

Sari mengambilnya. Bobotnya ringan sekali, tapi entah mengapa terasa berat di tangannya.

Waktu kecil, ia sering duduk di dingklik di sebelah ayahnya, memperhatikan bagaimana ujung tembaga itu meluncur di atas kain, meninggalkan garis cokelat tipis yang rapi. Ayahnya selalu meniup ujung canting sebelum menyentuhkan ke kain. "Biar malamnya tidak terlalu panas, biar tidak mbleber," katanya. Sari kecil ikut meniup, padahal ia tidak memegang apa-apa.

Lalu ada hari ketika ia mencoba sendiri, umur dua belas tahun. Malamnya menetes terlalu banyak, membentuk noda besar di tengah kain pesanan. Ayahnya tidak marah, tapi kain itu harus diulang dari awal, dan Sari mendengar ibunya berbisik di dapur, "Sudah, jangan dipaksa anaknya." Sejak hari itu Sari tidak pernah menyentuh canting lagi. Ia memilih buku, lalu kota, lalu pekerjaan yang jauh dari bau malam.

Ia menyalakan kompor kecil. Malam di wajan perlahan mencair, mengeluarkan bau yang membuat matanya panas, entah karena asap atau karena hal lain.

"Tiup dulu."

Sari terlonjak. Pak Harjo berdiri di ambang pintu kamar, berpegangan pada kusen, tubuhnya condong. Mbok Tun pasti lupa menutup pintu kamar.

"Bapak! Kok bangun?"

"Tiup dulu ujungnya," ulang ayahnya, mengabaikan pertanyaan itu. Ia melangkah pelan, satu tangan di dinding, sampai akhirnya duduk di dingklik di samping Sari. Napasnya berat. "Kamu ingat, kan?"

Sari menatap canting di tangannya, lalu kain putih di gawangan. "Pak, aku tidak bisa."

"Bapak juga dulu tidak bisa." Pak Harjo menatap kain itu. "Sekarang juga tidak bisa lagi. Jadi kita sama."

Sari ingin tertawa, tapi yang keluar justru isak kecil yang ia tahan.

"Delapan minggu," kata ayahnya pelan. "Bapak tidak minta kamu tinggal. Bapak cuma minta kamu coba satu baris."

Sari mencelupkan canting ke wajan. Malam cair memenuhi nyamplungannya. Ia meniup ujung cucuk, seperti yang dulu diajarkan, lalu mendekatkannya ke kain di bawah garis pensil paling ujung.

Tangannya gemetar. Tidak sehebat tangan ayahnya, tapi cukup untuk membuat ujung canting bergoyang.

Setetes malam jatuh di luar garis.

Sari menahan napas. Di sebelahnya, Pak Harjo tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tangannya yang bergetar, lalu menunjuk satu titik di pojok kain, di bagian yang sudah ia canting sendiri dua minggu lalu. Di sana, di antara garis-garis yang nyaris sempurna, ada setitik malam kecil yang melenceng.

"Itu punya Bapak," katanya. "Hari pertama setelah kepala Bapak mulai pusing."

Di luar, azan subuh masih lama. Di dalam, di bawah bohlam kuning, seorang ayah dan anaknya duduk berdampingan di depan kain yang separuhnya masih putih. Dan dari arah kamar Bimo, tanpa mereka sadari, terdengar pintu yang dibuka sedikit, lalu ditutup lagi pelan-pelan.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Bisnis Online Modal Kecil

Memulai bisnis online tidak harus menunggu modal besar atau punya gudang sendiri. Yang dibutuhkan adalah produk yang tepat, hitungan harga yang benar, dan cara berjualan yang teruk...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu