Amplop di Atas Meja Makan
Amplop cokelat itu tergeletak di tengah meja makan, di antara tempe goreng yang sudah dingin dan teko teh yang tidak disentuh siapa pun. Sri melihatnya sejak Mas Bambang pulang pukul dua siang, empat jam lebih awal dari biasanya, dan sejak itu amplop itu seolah ikut duduk bersama mereka.
"Pesangonnya keluar bulan depan," kata Mas Bambang akhirnya. Suaranya datar, seperti sedang membacakan jadwal kereta. "Pabrik tutup satu lini. Dua ratus orang, Sri. Bukan cuma aku."
Sri mengangguk. Dua puluh tiga tahun suaminya bekerja di pabrik garmen di Ungaran itu, dari operator jahit sampai mandor lini. Dua puluh tiga tahun berangkat subuh naik motor, pulang membawa bau kain baru dan kadang sebungkus martabak kalau habis gajian.
"Nadia jangan dikasih tahu dulu," lanjut Mas Bambang. "Dia lagi ujian."
"Dia sudah enam belas tahun, Mas. Dia pasti tahu kalau bapaknya di rumah terus."
Mas Bambang tidak menjawab. Ia berdiri, mengambil amplop itu, dan masuk ke kamar. Pintu ditutup pelan, tapi bunyinya terasa lebih keras daripada bantingan.
Malam itu Sri tidak bisa tidur. Ia berbaring di samping suaminya yang memunggunginya, mendengar napas yang terlalu teratur untuk orang yang benar-benar tidur. Di kepalanya, angka-angka berputar sendiri: uang sekolah Nadia, SPP Raka yang baru kelas empat, cicilan motor yang tinggal tujuh bulan, beras, gas, listrik.
Pukul dua pagi ia menyerah. Ia turun ke dapur, menyalakan lampu kuning di atas kompor, dan membuka lemari paling atas, tempat ia menyimpan barang-barang yang jarang disentuh. Di belakang toples kerupuk, terselip buku tulis bergaris bersampul plastik biru. Tulisan tangan ibunya memenuhi halaman-halamannya, miring ke kanan, dengan noda minyak di beberapa sudut.
Bolu pandan kukus. Telur 8 butir, gula 250 gram, terigu 250, santan kental 200 ml, air daun pandan dan suji secukupnya. Kocok sampai putih dan berjejak.
Di pinggir halaman, ibunya menulis dengan pensil: Untuk Sri kalau sedang sedih.
Sri tertawa kecil, lalu menutup mulutnya sendiri karena takut membangunkan orang rumah. Ibunya selalu begitu. Kalau Sri kecil menangis karena nilai jelek atau bertengkar dengan teman, ibunya tidak menasihati. Ia mengocok telur, dan rumah jadi wangi pandan, dan entah kenapa semua terasa bisa diatasi.
Ia mengeluarkan telur dari kulkas. Mixer tua merek yang sudah tidak diproduksi lagi berdengung pelan. Ia mengocok sambil menghitung dalam hati, bukan menghitung uang, tapi menghitung putaran, persis seperti ibunya dulu. Ketika adonan sudah putih dan berjejak, ia menuangnya ke loyang, menyalakan dandang, dan duduk di kursi plastik sambil menunggu.
Dapur mulai wangi. Untuk pertama kalinya sejak siang, dadanya terasa sedikit longgar.
"Ibu masak jam berapa?"
Raka berdiri di ambang pintu dapur dengan rambut mencuat dan seragam merah putih yang kancingnya salah lubang. Matanya terpaku pada bolu hijau yang sudah dipotong-potong di atas nampan.
"Subuh tadi. Sini, kancingnya dibenerin."
"Boleh bawa ke sekolah? Buat Bu Win. Bu Win kemarin bawain aku pisang goreng waktu aku lupa bawa bekal."
Sri membungkus empat potong dengan kertas roti dan memasukkannya ke kotak bekal Raka. Ia tidak memikirkannya lagi. Pagi itu terlalu sibuk: Nadia turun dengan muka ditekuk karena ujian matematika, Mas Bambang duduk di teras menatap motor seperti menatap teman lama, dan Sri sendiri harus ke pasar sebelum harga cabai naik lagi.
Sore harinya, ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal.
Selamat sore, Bu. Saya Winarti, wali kelas Raka. Maaf mengganggu. Bolu pandan yang dibawa Raka tadi Ibu yang buat? Enak sekali, lembut dan tidak terlalu manis. Kebetulan Sabtu depan saya giliran arisan guru, 20 orang. Apakah Ibu menerima pesanan? Kalau bisa sekalian dua jenis kue lain, dibuat kotak snack.
Sri membaca pesan itu tiga kali. Lalu ia menunjukkannya kepada Mas Bambang, yang sedang membuka-buka koran lowongan di ruang tamu.
"Terima saja," kata suaminya tanpa mengangkat kepala. "Daripada kamu nggak tidur cuma buat bikin kue gratis."
"Aku nggak pernah jualan, Mas."
"Dulu kamu bikin seratus kotak waktu nikahan adikmu."
"Itu gratis. Itu keluarga."
Mas Bambang akhirnya menurunkan koran. Ada sesuatu di matanya yang Sri tidak bisa baca, campuran lelah dan sesuatu yang mirip harapan, atau malu, atau keduanya.
"Sri," katanya pelan. "Sekarang kita yang perlu."
Malam itu Sri duduk di meja makan dengan buku resep ibunya, kalkulator Raka, dan selembar kertas bekas kalender. Ia menulis: Kotak snack isi 3. Bolu pandan, kue sus, risoles. Lalu ia menulis harga bahan yang ia ingat dari pasar tadi pagi, menjumlahkannya, dan membaginya dua puluh.
Angkanya keluar sekitar delapan ribu lima ratus per kotak untuk bahan saja. Ia ingat harga kotak snack di toko kue dekat pasar sekitar dua puluh ribu. Ia menulis Rp15.000 dan melingkarinya dua kali. Lebih murah sedikit, pikirnya, supaya orang mau mencoba.
"Ibu mau jualan kue?"
Nadia berdiri di belakangnya, masih memakai kaus olahraga sekolah, membawa gelas kosong. Matanya membaca kertas itu, lalu pindah ke wajah ibunya.
"Bu Win pesan dua puluh kotak buat arisan."
"Bu Win wali kelasnya Raka." Nadia meletakkan gelas di bak cuci, sedikit terlalu keras. "Terus nanti siapa lagi? Ibu mau pasang tulisan di pagar? Teman-temanku lewat depan rumah tiap hari, Bu. Tika, Salsa, semuanya."
"Memangnya kenapa kalau mereka lewat?"
"Nggak apa-apa." Nadia mengangkat bahu, gerakan yang sejak setahun terakhir menggantikan separuh kosakatanya. "Cuma, Bapak di rumah terus, Ibu jualan kue. Orang pasti nanya."
Sri ingin menjawab banyak hal. Bahwa tidak ada yang memalukan dari bapak yang kehilangan pekerjaan karena pabriknya tutup. Bahwa dulu neneknya menyekolahkan Sri dari jualan kue juga. Bahwa uang sekolah Nadia bulan depan tidak akan muncul sendiri dari langit.
Tapi Nadia sudah naik ke kamarnya. Pintu ditutup, sama pelannya dengan pintu Mas Bambang siang tadi.
Sri menatap kertas itu lama. Lalu ponselnya bergetar di atas meja.
Bu, saya sudah transfer uang muka Rp150.000 ya. Sisanya Sabtu waktu kue diantar. Terima kasih, ditunggu kuenya. Oh ya, Ibu Lurah juga ikut arisan. Beliau penasaran.
Di luar, gang sudah sepi. Di dapur, lampu kuning masih menyala, dan buku resep bersampul biru masih terbuka di halaman yang sama: Untuk Sri kalau sedang sedih.
Sri mengambil pensil, dan di bawah tulisan ibunya, ia menambahkan satu baris kecil: Dan kalau sedang perlu.