📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Buku Tulis Bersampul Batik

Kamar Nomor Tujuh · 22 Okt 2026 · 5 menit baca

Ayu tidak ingat memutuskan untuk masuk. Ia hanya ingat tangannya mendorong pintu itu sedikit lebih lebar, dan kakinya melangkah ke dalam.

Kamar nomor tujuh lebih kecil dari kamarnya. Atau mungkin terasa kecil karena penuh. Rak buku sampai ke langit-langit, berisi buku pelajaran bersampul plastik, majalah remaja, dan kaset yang disusun rapi menurut warna. Di dinding tertempel poster grup musik yang wajah-wajahnya sudah pudar dimakan matahari, dan sebuah kalender dari toko emas. Ayu mendekat untuk membaca tahunnya.

  1. Halaman Mei.

Kasur berseprai bunga itu rapi, bantalnya ditepuk-tepuk sampai mengembang. Tidak ada debu di meja belajar. Lampu belajar menyala dengan cahaya kuning yang hangat. Kamar ini tidak terlihat seperti gudang. Kamar ini terlihat seperti seseorang baru saja keluar sebentar untuk mengambil minum.

Ayu menunduk ke buku tulis di meja. Nama itu masih ada di sana, ditulis besar di tengah halaman: Ayu. Tetapi setelah dilihat dari dekat, di bawahnya ada tulisan lebih kecil.

Ayu, jangan lupa: fisika bab 7, hafalan rumus gerak. Ibu nanya terus kapan les.

Ayu membalik ke halaman depan. Di sampul dalam tertulis:

Buku harian Rahayu Darmi. Kelas 3 IPA 2. Kalau ketemu, kembalikan ke kamar 7. Jangan dibaca. (Kalau sudah terlanjur dibaca, jangan bilang Ibu.)

Ayu tersenyum tanpa sadar. Lalu ia teringat di mana ia berada, dan senyumnya hilang.

Ia membalik beberapa halaman lagi. Tulisannya sama: miring ke kanan, j yang melengkung ke kiri, titik di atas i berbentuk lingkaran kecil.

12 Maret. Ibu marah lagi karena aku pulang jam enam. Padahal cuma latihan paduan suara. Katanya anak perempuan jangan kelayapan. Aku bilang aku mau kuliah di Jakarta. Ibu diam terus masuk kamar. Aku nyesel ngomong gitu.

20 Maret. Belajar di kamar sampai jam dua. Lampu kamarku paling terang di rumah ini, kata Bapak dulu dia sengaja pasang yang 60 watt biar mataku nggak rusak. Jam dari Bapak jalan pelan, mungkin harus diputar lagi. Aku nembang Dhandhanggula biar nggak ngantuk. Pak Wardi angkringan pasti dengar, maaf ya Pak.

2 April. Les fisika diganti hari Kamis. Bu Ning bilang aku bisa masuk UI kalau rajin. Aku belum bilang ke Ibu. Ibu pasti bilang UI jauh, biayanya mahal, nanti siapa yang nemenin Ibu. Aku cuma pengin Ibu bangga. Atau setidaknya nggak sedih terus sejak Bapak nggak ada.

13 Mei. Di TV ramai sekali. Ibu matiin TV terus bilang, "Ndak usah nonton, nanti kepikiran." Tapi Ibu sendiri yang paling kepikiran. Aku dengar Ibu jalan bolak-balik di lorong sampai pagi.

Ayu berhenti membaca. Ada sesuatu yang tidak enak di dadanya, seperti membaca surat orang lain yang tidak sengaja terbuka di meja.

Dari lorong terdengar bunyi pintu.

Ayu membeku. Langkah kaki, pelan dan agak diseret. Langkah orang tua. Bu Darmi.

Ayu menutup buku harian itu, mematikan lampu belajar dengan tangan gemetar, lalu menyadari kebodohannya: kalau lampu ini mati, Bu Darmi akan tahu ada yang mematikannya. Ia menyalakannya lagi. Langkah kaki itu makin dekat.

Tidak ada tempat bersembunyi di kamar sekecil ini, kecuali di balik pintu. Ayu menempelkan punggungnya ke dinding, di belakang daun pintu yang setengah terbuka, dan menahan napas.

Langkah itu berhenti tepat di luar.

"Yu?"

Suara Bu Darmi. Bukan memanggil Ayu, mahasiswi dari Magelang. Suara itu memanggil dengan cara seorang ibu memanggil anaknya dari dapur, setengah menegur, setengah sayang.

"Yu, wis turu durung? Lampune kok isih murup." Sudah tidur belum? Kok lampunya masih nyala.

Ayu memejamkan mata.

Lama sekali tidak ada suara. Lalu terdengar napas panjang, seperti orang yang menahan tangis, dan langkah kaki itu berbalik, menjauh, pintu kamar Bu Darmi menutup.

Ayu menunggu sampai hitungan ke-300 sebelum keluar. Ia menutup pintu nomor tujuh pelan-pelan. Pintu itu tidak berbunyi sama sekali, padahal tadi engselnya mengerang panjang.


"Lampunya mungkin pakai timer," kata Sekar keesokan sorenya. "Bu Darmi nyalain jam segitu karena kebiasaan. Engsel pintu tua juga sering lepas sendiri kalau udara lembap. Kayu memuai."

"Terus yang nyanyi?"

"Kamu yakin itu bukan Bu Darmi?"

"Suaranya muda, Sekar. Kayak anak SMA."

Sekar menghela napas. Ia melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya. "Ayu, aku nggak mau ngetawain kamu. Tapi coba lihat dari sisi lain. Kamu capek ospek, tidur kurang, jauh dari rumah, terus dikasih cerita kamar terlarang. Otak manusia jago banget ngisi kekosongan."

"Dan kertas di bawah pintuku?"

Sekar tidak menjawab.

Nanda, yang sejak tadi diam di sofa, akhirnya bersuara. "Kamu masuk ke dalam, Yu?"

Ayu mengangguk.

"Terus?"

"Ada buku harian. Punya anaknya Bu Darmi. Rahayu. Tahun 1998."

Nanda memeluk bantal sofa lebih erat. "Mbak Ratri dulu juga pernah bilang soal buku. Katanya, bukunya pindah-pindah."

"Pindah ke mana?"

"Ke kamar orang yang masuk ke kamar tujuh."

Sekar berdiri. "Oke, cukup. Ini sudah jadi cerita api unggun. Aku mau belajar."


Ayu pulang dari kampus pukul delapan malam. Hujan baru reda, dan kebun belakang berbau tanah basah. Rumah sepi. Sekar ada praktikum malam, Nanda pulang ke Klaten untuk akhir pekan. Lampu kamar Bu Darmi sudah mati.

Ayu membuka pintu kamarnya, menyalakan lampu, dan menjatuhkan tas di kasur.

Lalu ia melihatnya.

Buku tulis bersampul batik cokelat itu tergeletak di meja belajarnya, tepat di tengah, sejajar dengan tepi meja seperti diletakkan oleh orang yang sangat rapi.

Ayu tidak menyentuhnya untuk waktu yang lama. Ia memeriksa jendela: terkunci dari dalam. Ia memeriksa pintu: tadi pagi ia menguncinya, dan kuncinya ada di tasnya sendiri.

Akhirnya ia duduk dan membuka buku itu. Halaman-halamannya sama seperti semalam, catatan Rahayu tentang sekolah, Ibu, dan Jakarta. Ia membalik terus sampai ke bagian akhir yang kosong.

Di halaman kosong terakhir, ada satu kalimat baru.

Bukan pensil. Tintanya biru, masih mengilap, seolah baru ditulis sore ini. Hurufnya miring, j-nya melengkung ke kiri.

Tolong putar jamnya kalau Ibu sudah siap.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Kamar Nomor Tujuh”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu