Episode 1 dari 1

Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima

Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Nadia baru menyadari buku catatannya hilang ketika mobil travel sudah pergi.

Ia berdiri di depan penginapan kecil di Bukittinggi, ransel di punggung, koper di tangan, dan merogoh tas selempang untuk ketiga kalinya. Ponsel ada. Dompet ada. Laptop ada, di ransel. Tetapi buku catatan bersampul kain cokelat itu, yang berisi tiga bulan kerja, tidak ada di mana pun.

Di dalam buku itu ada terjemahan setengah jadi sebuah novel dari bahasa Prancis, ditulis tangan karena Nadia selalu menerjemahkan bab pertama dengan pena sebelum mengetiknya. Itu kebiasaan yang ditertawakan teman-temannya, tetapi baginya, kalimat yang ditulis tangan terasa lebih jujur. Tenggat ke penerbit dua minggu lagi. Salinan di laptop baru sampai bab enam. Bab tujuh sampai sebelas hanya ada di buku itu.

Ia menelepon nomor travel. Seorang perempuan menjawab dengan logat Minang yang kental dan berjanji akan menanyakan ke sopir. Sopirnya sedang dalam perjalanan kembali ke Padang. Sinyal di jalan Lembah Anai tidak bagus. Nanti dikabari.

Nanti dikabari. Nadia tahu kalimat itu bisa berarti satu jam, satu hari, atau tidak sama sekali.

Ia menitipkan koper di penginapan, lalu berjalan tanpa tujuan, karena duduk diam di kamar hanya akan membuatnya menangis. Kakinya membawanya menuruni jalan berliku ke arah Ngarai Sianok. Lembah itu terbentang di bawah, dinding-dinding tebingnya tegak dan hijau, sungai kecil berkelok di dasarnya seperti tali yang dijatuhkan sembarangan.

Di tepi jalan ada kedai kayu kecil dengan papan bertuliskan Kawa Daun. Beberapa bangku panjang, tungku tanah liat, dan seorang lelaki tua yang menyeduh sesuatu di dalam tempurung kelapa yang dipasangi gagang bambu.

"Kawa, Nak?" tanya lelaki tua itu.

Nadia tidak tahu apa itu kawa, tetapi ia duduk dan mengangguk.

Minuman itu datang dalam tempurung yang hangat di telapak tangan. Warnanya cokelat kemerahan seperti teh, baunya seperti kopi yang sedang bermimpi menjadi daun.

"Daun kopi," kata lelaki tua itu, membaca wajah Nadia. "Zaman Belanda dulu, biji kopi diambil semua untuk dijual ke luar. Orang kampung cuma kebagian daunnya. Jadi daunnya kami sangrai, kami seduh. Lama-lama jadi kebiasaan."

"Jadi ini minuman orang yang tidak kebagian," kata Nadia.

"Minuman orang yang pandai membuat sesuatu dari yang tersisa," koreksi lelaki tua itu, tersenyum.

Nadia menghabiskan kawa pertamanya, lalu kedua. Ia menceritakan buku catatannya kepada lelaki tua itu, yang ternyata bernama Pak Datuak, karena memang begitu orang-orang memanggilnya. Pak Datuak mendengarkan sambil mengipasi tungku.

"Travel apa?" tanyanya.

Nadia menyebut nama travel itu. Pak Datuak tertawa pelan.

"Itu travel cucu saya," katanya. "Si Reno. Dia yang menyetir tadi siang?"

Nadia ingat sopir travel itu. Laki-laki muda dengan kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung, yang menyetir dengan tenang di kelok-kelok Lembah Anai dan sesekali menyanyi pelan mengikuti radio. Ia tidak bicara banyak. Hanya sekali, ketika Nadia mabuk darat di kelok keempat puluh, ia menepi tanpa diminta dan menyodorkan sebungkus permen jahe.

"Tunggu saja di sini," kata Pak Datuak. "Kalau dia sudah sampai Padang, pasti dia telepon. Dia itu, kalau menemukan barang orang, tidak bisa tidur sebelum dikembalikan. Sudah dari kecil begitu."

Maka Nadia menunggu.

Pukul empat, langit mulai berubah. Pukul setengah lima, kabut naik dari dasar ngarai. Bukan turun dari langit, tetapi benar-benar naik dari lembah, putih dan lembut, merayap di dinding tebing seperti susu yang dituang pelan-pelan ke dalam teh. Dalam lima belas menit, lembah itu hilang. Yang tersisa hanya putih, dan suara sungai di kejauhan, dan bau daun kopi yang disangrai.

Pukul lima tepat, sebuah mobil berhenti di depan kedai. Mobil travel yang sama.

Reno turun dengan kemeja kotak-kotak yang sama, memegang buku catatan bersampul kain cokelat dengan dua tangan, seolah membawa sesuatu yang bisa pecah.

"Kak," katanya, sedikit terengah. "Ini, kan? Jatuh di bawah jok belakang. Saya baru lihat waktu bersih-bersih di pool."

Nadia berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur bangku. Ia menerima buku itu, membukanya, membalik halaman demi halaman. Bab tujuh. Bab delapan. Sampai bab sebelas, semua ada.

"Kamu menyetir balik dari Padang?" tanyanya. "Untuk ini?"

"Tidak jauh, Kak. Cuma dua jam." Reno menggaruk kepalanya. "Lagi pula, kalau tidak dikembalikan, saya tidak bisa tidur."

Pak Datuak tertawa keras di balik tungku.

Mereka duduk berdua di bangku kayu, di tengah kabut, dengan dua tempurung kawa yang baru diseduh. Nadia tidak tahu harus bicara apa. Ia membalik-balik buku catatannya lagi, dan tiba-tiba berhenti di halaman terakhir bab sebelas.

Di pinggir halaman, di samping kalimat yang ia tandai dengan tanda tanya besar karena tidak bisa menemukan terjemahannya, ada tulisan tangan yang bukan miliknya. Pensil, huruf-huruf kecil yang hati-hati.

Kalimat Prancis yang membuatnya buntu selama seminggu kira-kira berarti: rindu kepada tempat yang belum pernah kita datangi. Nadia sudah mencoba sepuluh versi terjemahan. Semuanya terdengar kaku.

Di bawahnya, Reno menulis:

Maaf, Kak, saya baca sedikit waktu mencari nama pemiliknya. Di kampung saya ada pantun begini: Kok indak karano bulan, / tantu bintang indak ka tinggi. / Kok indak karano tuan, / indak ambo ka siko lai. Artinya kira-kira: kalau bukan karena tuan, saya tidak akan datang lagi ke sini. Mungkin tidak cocok. Tapi saya pikir, rindu kepada tempat itu sebenarnya rindu kepada orang yang membuat kita ingin datang.

Nadia membaca tulisan itu dua kali. Kabut di luar kedai semakin tebal. Ia mendengar Pak Datuak menuang air panas ke tempurung lain.

"Kamu baca bukuku," katanya.

Reno memerah sampai ke leher. "Maaf. Saya kira ada nomor telepon di halaman belakang."

"Kamu bisa bahasa Prancis?"

"Tidak sama sekali. Saya pakai aplikasi di ponsel." Ia menunduk. "Kalimatnya bagus. Saya cuma ingin tahu apa yang Kakak tanyakan dengan tanda tanya sebesar itu."

Nadia tertawa, dan tiba-tiba matanya basah, entah karena kabut atau karena kalimat itu akhirnya menemukan jalannya. Ia mengambil pena dari tas, membuka halaman yang sama, dan mencoret sepuluh versi terjemahannya yang lama.

Di bawahnya ia menulis versi kesebelas: rindu yang membuat kita ingin datang lagi.

"Lebih bagus?" tanya Reno ragu.

"Jauh lebih bagus," jawab Nadia. "Penerbit tidak perlu tahu ini dari seorang sopir travel."

"Sopir travel yang tidak bisa tidur," sela Pak Datuak dari balik tungku.

Mereka duduk sampai kabut mulai turun lagi ke dasar ngarai, sampai lampu-lampu kota menyala satu-satu di kejauhan. Reno harus kembali ke Padang malam itu. Nadia harus menyelesaikan bab dua belas sampai dua puluh.

Sebelum Reno pergi, Nadia merobek selembar halaman kosong dari buku catatannya. Ia menulis sesuatu, melipatnya, dan menyelipkannya ke saku kemeja kotak-kotak itu.

"Baca di Padang," katanya. "Jangan di kelok Lembah Anai. Bahaya."

Reno membacanya di Padang, dua jam kemudian, di bawah lampu pool travel yang berkedip. Isinya hanya alamat surel, sebuah tanggal tiga minggu lagi, dan satu kalimat:

Saya akan kembali ke Bukittinggi setelah naskah ini selesai. Bukan karena bulan, bukan karena bintang. Pesan kursi travel paling depan, ya. Saya tidak mau mabuk darat lagi.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu