Minimarket di Seberang Jalan
Pagi itu Bu Narti membuka rolling door tokonya dengan suara yang sudah dikenal satu pasar. Kreeek, grodak, grodak. Pak Joko, penjual bakso di sebelah, langsung menoleh dan mengangkat tangan seperti biasa.
"Pagi, Bu Narti. Hari ini bakal ramai, lho."
"Ramai kenapa? Ini bukan tanggal muda."
Pak Joko mengangkat dagunya ke seberang jalan. Bu Narti menoleh, dan kain lap di tangannya hampir jatuh.
Bangunan bekas toko bangunan yang tiga bulan ditutup seng itu sekarang terang benderang. Kacanya bening, lampunya putih, dan di atas pintunya terpasang papan besar bertuliskan SERBAMART. Ada balon gapura merah putih. Ada dua karyawan muda berseragam yang sedang menyusun keranjang belanja dengan rapi seperti tentara. Ada pengeras suara yang memutar lagu dangdut versi remix.
"Promo pembukaan," kata Pak Joko. "Minyak goreng dua liter tiga puluh ribu."
Bu Narti menghitung dalam kepala. Ia sendiri membeli dari distributor dua puluh sembilan ribu delapan ratus.
"Itu jual rugi," katanya.
"Namanya juga minimarket, Bu. Ruginya dicicil sama kantor pusat."
Hari itu toko Bu Narti tetap buka sampai magrib, tetapi yang datang hanya tiga orang. Mbah Darmi membeli korek api. Seorang anak SD membeli es lilin. Dan Pak Joko membeli sebungkus kerupuk, yang Bu Narti curigai hanya karena kasihan.
Malamnya Dimas pulang dari les dan menemukan neneknya duduk di depan buku utang bersampul batik, menatap kolom yang hampir kosong.
"Nek, kok sepi?"
"Orang-orang belanja ke sana." Bu Narti menunjuk jendela dengan pulpen. "Ke toko yang lampunya kayak rumah sakit itu."
Dimas meletakkan tas, lalu duduk di kursi plastik di depan neneknya. Ia anak kelas dua SMA yang tingginya sudah melewati pintu dapur, tetapi masih suka mencomot kacang bawang dari stoples dagangan.
"Nek, gimana kalau kita jualan online?"
Bu Narti menatapnya seperti cucunya baru saja mengusulkan mereka terbang ke bulan memakai sapu lidi.
"Online itu yang di HP?"
"Iya. Pakai WhatsApp. Nanti Nenek bikin katalog, orang tinggal pesan, kita antar."
"Nenek sudah punya WhatsApp," kata Bu Narti bangga. "WA-nya Dimas, kan?"
"Bukan, Nek. Itu WhatsApp Nenek sendiri. Aku cuma yang pasang."
"Ya sama saja."
Dimas menghela napas panjang dengan sabar, kemampuan yang ia latih selama tiga tahun mengajari neneknya menyimpan nomor telepon. "Nek, Bu Sri yang jualan peyek itu sekarang tiap hari dapat pesanan dari grup perumahan. Semua lewat HP."
Telinga Bu Narti bergerak sedikit. Bu Sri adalah teman satu arisannya, dan juga orang yang selalu memamerkan gelang barunya di setiap pertemuan.
"Bu Sri bisa?"
"Bisa, Nek. Fotonya jelek-jelek, tapi tetap laku."
Bu Narti diam lama. Lalu ia menutup buku utangnya dengan bunyi plak.
"Ya sudah. Besok kita coba. Tapi kalau Nenek malu-maluin, kamu yang tanggung jawab."
Keesokan sorenya, toko tutup lebih cepat. Dimas duduk di meja kasir dengan ponsel neneknya, sementara Bu Narti berdiri di belakangnya, membungkuk, dan bernapas sangat dekat dengan telinga cucunya.
"Pertama, kita ganti nama profil," kata Dimas. "Sekarang namanya masih 'Narti Hp Baru'."
"Lho, memang HP-nya baru."
"Dua tahun lalu, Nek."
Mereka sepakat pada nama TOKO NARTI KLATEN. Lalu Dimas menjelaskan soal deskripsi toko, jam buka, dan alamat. Bu Narti mendiktekan semuanya dengan suara keras seperti sedang menelepon ke luar negeri.
"Jual sembako, rokok, gas, galon, es batu. Bisa utang untuk yang dikenal."
"Nek, yang utang jangan ditulis."
"Kenapa? Itu kan pelayanan."
"Nanti orang satu kabupaten minta utang."
Bu Narti mengalah dengan wajah tidak rela. Lalu Dimas sampai pada bagian yang paling penting.
"Sekarang foto profil. Harus foto toko, biar orang percaya."
"Pakai foto Nenek saja. Biar orang kenal."
"Foto toko, Nek."
"Tokonya kan sudah kelihatan dari jalan. Mukanya Nenek yang belum."
Perdebatan itu berlangsung sepuluh menit dan berakhir dengan kompromi: foto Bu Narti berdiri di depan toko. Dimas menyuruh neneknya keluar, berdiri di depan rolling door, dan tersenyum.
"Senyum, Nek."
"Ini sudah senyum."
"Itu kayak mau marahin orang utang."
Akhirnya, setelah sebelas kali jepret, Dimas mendapatkan foto yang lumayan. Bu Narti tersenyum, rolling door terbuka, papan nama toko kelihatan. Dimas memasangnya sebagai foto profil, lalu pamit karena teman-temannya sudah menunggu untuk main futsal.
"Nanti malam aku buat katalognya, Nek. Jangan diutak-atik dulu, ya."
"Iya, iya."
Tentu saja Bu Narti mengutak-atiknya.
Pukul sembilan malam, ia duduk di ruang tengah dengan kacamata baca, membuka foto profil barunya, dan merasa ada yang kurang. Wajahnya terlalu kecil. Ia ingin yang lebih jelas. Maka ia membuka galeri, menggulir, dan memilih foto lain yang menurutnya lebih bagus pencahayaannya.
Ia menekan simpan dengan puas, lalu tidur nyenyak.
Pagi berikutnya, ponselnya berbunyi tanpa henti. Bu Narti mengira itu pesanan pertama. Ia membuka WhatsApp dengan jantung berdebar.
Pesan pertama dari Bu Sri: Bu Narti, foto profilnya kok jemuran?
Pesan kedua dari grup arisan: Wah, dasternya bagus Bu, beli di mana?
Pesan ketiga dari Pak Joko, yang tinggal tiga meter dari tokonya: Bu, itu kolor Pak Harso kelihatan.
Bu Narti membuka profilnya sendiri. Di sana, terpampang jelas dan sangat terang, foto halaman belakang rumahnya. Tiga daster, dua handuk, dan satu celana kolor mendiang suaminya yang masih ia simpan dan cuci setiap bulan karena sayang.
Di bawahnya tertulis besar-besar: TOKO NARTI KLATEN. Jual sembako, rokok, gas, galon, es batu.
Di saat yang sama, ponselnya berbunyi sekali lagi. Sebuah nomor yang tidak ia kenal.
Selamat pagi, saya mau pesan gula pasir. Seratus kilo. Bisa diantar hari ini?