Tulisan di Leher Kendi
Di Dusun Oi Mbo, orang mengukur kemarau dengan ember.
Bulan Juni, satu keluarga masih bisa menimba dua puluh ember sehari dari sumur bersama di bawah pohon asam. Bulan Agustus, sepuluh. Bulan Oktober ini, timba yang diturunkan ke sumur itu kembali dengan lumpur cokelat yang harus diendapkan semalam sebelum bisa dipakai mencuci piring.
Truk tangki dari Kabupaten datang setiap Selasa. Orang-orang mengantre dengan jeriken sejak subuh, dan setiap keluarga mendapat jatah yang dicatat Pak Kadus di buku bersampul plastik. Jatah itu cukup untuk minum dan masak. Untuk mandi, orang sudah belajar mandi dengan satu gayung.
Bu Hasnah membuka warung kecil di ujung dusun, menjual kopi, mi instan, gula pasir, dan es lilin yang sekarang tidak lagi bisa dibuat karena air terlalu mahal. Suaminya bekerja di proyek jalan di Dompu dan pulang sebulan sekali. Anaknya, Fikri, kelas lima SD, setiap sore membantu menjaga warung sambil mengerjakan PR.
Sore itu, Bu Hasnah membereskan rumah almarhumah ibunya, rumah panggung kayu di belakang warung yang sudah tiga bulan kosong. Ia tidak pernah sanggup masuk ke sana sejak pemakaman. Tapi pemilik tanah hendak menyewakannya, dan barang-barang harus dikeluarkan.
Di kolong dapur, di antara tumpukan periuk dan tampah, ada sebuah kendi tanah liat. Kendi tua, warnanya merah bata kusam, dengan cerat kecil di samping dan leher panjang. Ibunya dulu selalu menaruh kendi ini di beranda, penuh air, untuk siapa pun yang lewat. Tukang ojek, anak-anak sekolah, pedagang ikan keliling. Bu Hasnah kecil sering kesal karena kendi itu harus diisi ulang tiga kali sehari.
"Kenapa air kita dikasih ke orang, Ma?" tanyanya dulu.
"Karena air bukan punya kita," jawab ibunya. "Kita cuma dititipi."
Bu Hasnah mengangkat kendi itu. Lebih berat daripada yang ia duga. Ketika ia memiringkannya, ada bunyi cairan di dalamnya.
Air. Penuh.
Ia mengerutkan kening. Ibunya meninggal tiga bulan lalu. Rumah ini tertutup rapat selama itu, di musim kemarau terpanas. Air apa pun di dalam kendi seharusnya sudah lama menguap, atau setidaknya berbau.
Ia menuang sedikit ke telapak tangan. Airnya dingin, jernih, dan berbau tanah basah sehabis hujan. Bau yang sudah lima bulan tidak tercium di Oi Mbo.
Di leher kendi, terukir dengan tulisan tangan yang ia kenal, tulisan ibunya yang selalu miring ke kiri:
Tuang untuk yang haus, jangan simpan untuk diri.
Bu Hasnah membawa kendi itu ke warung dan menaruhnya di atas meja, di sebelah toples kerupuk. Ia belum tahu harus berbuat apa dengannya.
Pukul empat sore, rombongan anak SD lewat sepulang les mengaji. Mereka berjalan lunglai di bawah matahari, bibir pecah-pecah, kerudung dan peci miring. Salah satu dari mereka, Nurul, anak penjual ikan, berhenti di depan warung dan menatap kendi itu.
"Bu," katanya ragu. "Boleh minta minum sedikit?"
Biasanya Bu Hasnah akan bilang tidak. Bukan karena pelit. Karena air sekarang dihitung dengan jeriken, dan jatah Selasa harus cukup sampai Selasa berikutnya. Tapi kendi ini bukan jatahnya. Kendi ini milik ibunya.
Ia mengambil gelas plastik dan menuang air dari cerat kendi untuk Nurul. Lalu untuk adiknya. Lalu untuk anak ketiga, keempat, kelima. Sembilan anak, masing-masing satu gelas penuh, dan beberapa minta tambah.
Ketika anak terakhir pergi sambil berterima kasih, Bu Hasnah mengangkat kendi itu untuk memeriksa sisanya.
Kendi itu masih penuh. Seberat tadi siang. Tidak berkurang setetes pun.
Ia duduk di bangku warung dan menatap kendi itu sampai magrib.
Selama seminggu, Bu Hasnah mencoba memahami aturannya. Ia menuang air untuk tukang ojek yang mangkal di depan warung. Penuh lagi. Ia menuang untuk Pak Kadus yang mampir membeli rokok. Penuh lagi. Ia menyiram tanaman cabai di pot depan warung yang hampir mati. Kendi itu tetap penuh, dan cabainya bertunas lagi dalam tiga hari.
Lalu, pada suatu malam, karena penasaran sekaligus lelah, ia menuang air kendi ke ember untuk mandinya sendiri.
Air yang keluar dari cerat hanya sedikit. Lalu menetes. Lalu berhenti. Ketika ia mengangkat kendi itu, isinya tinggal sepertiga. Dan baunya tidak lagi seperti tanah sehabis hujan, tapi seperti air sumur biasa.
Bu Hasnah menatap ember setengah penuh di depannya dengan wajah panas. Rasanya seperti ketahuan mencuri oleh ibunya sendiri.
Besok paginya, ia menuang sisa air di ember itu untuk kambing tetangga yang terikat kehausan di bawah pohon asam. Kendi itu penuh lagi sebelum siang.
Tuang untuk yang haus. Jangan simpan untuk diri.
Ia mengerti sekarang.
Bu Hasnah tidak bercerita kepada siapa pun. Tapi di dusun sekecil Oi Mbo, tidak ada yang bisa dirahasiakan lebih dari dua minggu. Anak-anak bercerita kepada orang tuanya tentang air dingin di warung Bu Hasnah yang tidak pernah habis. Tukang ojek bercerita kepada sesama tukang ojek. Pak Kadus, yang mampir setiap hari kini, mulai memandangi kendi itu dengan mata menyipit.
Lalu suatu sore, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan warung. Yang turun adalah Haji Jafar, pemilik ladang tembakau terluas di dusun sebelah, yang ladangnya sudah dua bulan kering dan daun-daunnya menguning.
Ia tidak membeli apa-apa. Ia hanya berdiri di depan meja warung, menatap kendi tanah liat di sebelah toples kerupuk.
"Saya dengar Ibu punya kendi yang tidak pernah kering," katanya dengan senyum lebar. "Berapa harganya?"