📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Jam Emas di Kebun Raya

Klub Lensa Retak · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

"Kita tidak bisa mengalahkan kamera mereka," kata Nara pada Selasa sore, di bawah pohon kenari besar dekat gerbang Kebun Raya. "Jadi kita harus mengalahkan cahayanya."

Bayu mengangkat alis. "Cahaya bisa dikalahkan?"

"Maksudku, kita pakai cahaya lebih pintar." Nara membuka catatan di ponselnya, hasil begadang membaca artikel fotografi sampai jam satu malam. "Jam segini, menjelang matahari terbenam, cahaya datang dari samping dan warnanya hangat. Orang menyebutnya jam emas. Bayangan jadi panjang, tekstur kelihatan, wajah tidak silau."

"Jam emas," ulang Tiara sambil menulis di buku kecilnya dengan pulpen hijau, lalu menggarisbawahinya dua kali seperti rumus yang pasti keluar di ujian. "Berapa lama?"

"Kira-kira satu jam sebelum matahari terbenam. Di Bogor, kalau mendung, bisa hilang begitu saja."

Mereka berempat masuk dengan tiket pelajar. Bayu mengecek jam di ponselnya dua kali dalam lima menit. Pukul 15.10.


Latihan pertama adalah garis bantu. Gilang menunjukkan cara menyalakan kisi di pengaturan kamera: dua garis tegak dan dua garis mendatar yang membagi layar menjadi sembilan kotak.

"Jangan taruh benda utama tepat di tengah," katanya pelan, kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan di depan mereka. "Taruh di salah satu titik pertemuan garis. Mata orang lebih suka itu."

Tiara mencoba memotret bunga teratai di kolam. Fotonya tetap simetris, teratai tepat di tengah, pantulan sempurna di bawahnya.

"Ini melanggar aturan," kata Bayu.

"Aturan boleh dilanggar kalau ada alasannya," balas Tiara. "Simetri juga komposisi."

Gilang melihat foto itu lama, lalu mengangguk. "Pantulannya jadi alasan."

Tiara tersenyum. Bayu pura-pura terkejut. "Gilang memuji orang. Catat, Tiara, catat."

Nara tertawa, dan untuk sesaat Kebun Raya terasa seperti ruang kelas yang paling menyenangkan di dunia.


Latihan kedua lebih sulit: mengunci fokus dan cahaya. Nara mengajari mereka menekan lama di layar sampai muncul kotak kuning, lalu menggeser ikon matahari ke bawah supaya bagian langit yang terang tidak menjadi putih polos.

"Kalau langitnya hilang, fotonya kehilangan cerita," jelas Nara. "Lebih baik sedikit gelap daripada terlalu terang. Yang gelap masih bisa dinaikkan sedikit saat edit. Yang sudah putih, hilang selamanya."

Bayu mencoba di bawah deretan pohon palem. Masalahnya langsung kelihatan: retakan di layar membuat ia sulit melihat kotak kuning. Ia memiringkan ponsel, mencari celah di antara garis retak.

"Ponselmu nggak apa-apa?" tanya Tiara.

"Kameranya masih sehat. Layarnya saja yang lagi patah hati." Bayu menekan tombol, lalu melihat hasilnya. Cahaya sore menembus sela-sela daun palem, membentuk garis-garis terang di udara yang lembap. Di bawahnya, seorang petugas kebun menyapu daun kering, siluetnya kecil di antara batang-batang tinggi.

Mereka berempat terdiam.

"Ini," kata Nara pelan, "foto yang bisa menang."

Bayu menggaruk kepala, tidak terbiasa dipuji. "Kebetulan."

"Kebetulan yang kamu tunggu," kata Gilang. "Kamu nunggu petugasnya masuk ke garis cahaya. Aku lihat."

Bayu tidak menjawab. Ia hanya menatap fotonya, dan Nara melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah ia lihat: bangga, sekaligus takut kehilangan.


Langit berubah oranye. Mereka sibuk memotret: Tiara dengan deretan bangku taman yang membentuk garis menuju kejauhan, Gilang dengan embun di jaring laba-laba yang menangkap cahaya, Nara dengan sepasang kakek-nenek yang duduk berdampingan, dipotret dari belakang supaya wajah mereka tetap milik mereka sendiri.

Lalu Bayu melihat jam. Pukul 15.52.

"Aku duluan," katanya tiba-tiba, memasukkan ponsel ke saku.

"Sekarang? Jam emasnya baru mulai," protes Tiara.

"Udah janji sama orang." Bayu sudah setengah berlari menuju gerbang. "Kirim hasilnya di grup ya!"

Nara memandangi punggungnya yang menjauh. Ini sudah kedua kalinya Bayu pergi tepat sebelum jam empat, dan ia selalu memakai kalimat yang sama: ada urusan, udah janji.


Tanpa Bayu, mereka bertiga duduk di bangku dekat kolam dan memilih foto. Gilang membuka aplikasi edit bawaan ponsel dan menunjukkan apa yang biasa ia lakukan: menaikkan sedikit bayangan, menurunkan sorotan yang terlalu terang, lalu berhenti.

"Segitu saja?" tanya Tiara.

"Peraturan lomba melarang menambah atau menghapus benda," kata Gilang. "Boleh mengatur terang, kontras, warna, dan memotong. Kalau kebanyakan, foto kelihatan seperti lukisan murahan."

Tiara mencatat dengan pulpen merah: tidak boleh tambah atau hapus benda. Lalu ia berhenti menulis.

"Aku ditolak Optika karena Reza bilang fotoku tidak punya rasa," katanya tiba-tiba. "Katanya rapi tapi kosong."

Nara menggeser ponsel Tiara dan membuka foto deretan bangku tadi. Di ujung garis bangku, cahaya oranye jatuh di satu bangku saja, dan di atasnya ada sepatu kecil yang tertinggal. "Ini tidak kosong," katanya. "Ini cerita anak yang lupa sepatunya karena terlalu senang main."

Tiara menatap fotonya sendiri seperti melihatnya untuk pertama kali. Gilang mengangguk sekali, tanda setuju yang mulai mereka pahami.

Matahari hilang di balik pepohonan, dan jam emas berakhir lebih cepat dari yang mereka kira.


Pukul lima lewat, Nara pulang lewat jalan belakang Pasar Bogor. Bau asinan, sayur, dan genangan bekas hujan bercampur di udara. Lampu-lampu kios mulai menyala, kuning dan pucat.

Lalu ia melihatnya.

Di ujung lorong pasar, seorang anak laki-laki berseragam abu-abu yang sudah ditutupi jaket lusuh mendorong gerobak berisi toples-toples besar. Toples asinan, berwarna merah dan hijau, berderak setiap kali roda gerobak melewati lubang. Seorang perempuan paruh baya berjalan di sampingnya, satu tangan memegang pinggang seperti sedang menahan sakit.

Anak laki-laki itu menoleh. Mata mereka bertemu.

Bayu.

Untuk sepersekian detik, ia tidak tersenyum. Wajahnya pucat seperti orang yang ketahuan mencontek. Lalu ia meletakkan gerobak, berjalan cepat ke arah Nara, dan berhenti terlalu dekat.

"Nara," katanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar di antara riuh pasar. "Tolong. Jangan bilang siapa-siapa. Jangan ke Tiara, jangan ke Gilang, jangan ke Bu Ratna."

"Bay, aku cuma..."

"Janji dulu."

Di belakang Bayu, perempuan itu memanggil namanya, lalu terbatuk panjang. Bayu menoleh, kembali menatap Nara, dan untuk pertama kalinya Nara melihat temannya itu hampir menangis.

"Janji," bisik Nara.

Ia tidak tahu bahwa janji itu akan menjadi beban paling berat yang ia bawa sampai hari pameran.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Fotografi Ponsel

Kamera ponsel hari ini sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan foto yang memukau. Yang membedakan foto biasa dan foto yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah cara kamu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu