Atap Bengkel dan Rp4,5 Juta
Rapat OSIS hari Senin selalu dimulai dengan kabar buruk, tapi kabar hari itu lebih buruk dari biasanya.
"Dana pentas seni tahun ini tidak ada," kata Pak Yanto, guru pembina OSIS, sambil meletakkan surat dari wakil kepala sekolah di meja. "Atap bengkel otomotif bocor parah. Seluruh anggaran kegiatan semester ini dialihkan untuk perbaikan."
Ruang OSIS di lantai dua SMK Negeri itu langsung riuh. Fajar, ketua OSIS kelas XI Teknik Kendaraan Ringan, memukul meja pelan. "Pak, pentas seni itu satu-satunya acara yang ditunggu semua jurusan. Anak tata busana sudah menjahit kostum sejak Agustus."
"Saya tahu," kata Pak Yanto. "Kalau kalian bisa mencari dana sendiri, sekolah mengizinkan pentas tetap jalan. Targetnya, menurut proposal kalian sendiri, empat setengah juta rupiah. Waktunya enam minggu."
Hening. Empat setengah juta dalam enam minggu terdengar seperti ingin naik ke Gunung Ungaran dengan sandal jepit.
Di ujung meja, Nisa mengangkat tangan. Ia bendahara OSIS, kelas XI Akuntansi, dan satu-satunya orang di ruangan yang membawa kalkulator ke rapat. "Bagaimana kalau kita berjualan?"
"Jualan apa?" tanya Fajar. "Sudah ada kantin Bu Rum."
"Kantin Bu Rum ada di lantai satu, di ujung sekolah," kata Nisa. "Anak-anak di lantai dua dan tiga malas turun saat istirahat pertama, karena waktunya cuma lima belas menit. Antre di kantin bisa sepuluh menit sendiri." Ia membuka buku catatannya. "Saya sudah hitung. Ada tiga ratus delapan puluh siswa di lantai dua dan tiga. Kalau sepuluh persen saja membeli es teh dari kita setiap hari, itu tiga puluh delapan gelas."
Yoga, siswa jurusan Tata Boga yang biasanya tidur di rapat, tiba-tiba membuka mata. "Saya bisa bikin roti sobek. Praktik kami minggu ini memang roti."
Pak Yanto mengangguk pelan. "Ide bagus. Tapi tolong dihitung serius. Jangan sampai kalian rugi dan malah menambah utang."
Malam itu, Nisa duduk di meja makan rumahnya di daerah Pedurungan dengan kalkulator, buku tulis, dan daftar harga dari toko grosir yang ia foto sore tadi. Ibunya, yang berjualan nasi kucing di depan rumah, sesekali melirik dari dapur.
"Hitung apa, Nis?"
"Modal es teh, Bu."
Ibunya tertawa, lalu duduk di sebelahnya. "Hitung semua. Teh, gula, es batu, gelas plastik, sedotan, plastik pembungkus. Jangan lupa gas, kalau kamu rebus teh di rumah. Dan jangan lupa tenagamu."
"Tenaga saya kan gratis, Bu."
"Tidak ada yang gratis," kata ibunya tegas. "Kalau tenagamu tidak dihitung, nanti kalian kira untung, padahal kalian cuma kerja bakti."
Nisa menulis semuanya. Satu gelas es teh ukuran 16 ons: teh Rp150, gula Rp400, es batu Rp300, gelas dan tutup Rp500, sedotan Rp50. Ditambah gas dan air sekitar Rp100. Total Rp1.500. Kalau dijual Rp3.000, untung Rp1.500 per gelas. Tiga puluh delapan gelas sehari, lima hari seminggu, enam minggu: Rp1.710.000. Masih jauh dari empat setengah juta.
Roti sobek Yoga: bahan sekitar Rp2.000 per potong, dijual Rp4.000. Kalau laku dua puluh potong sehari, enam minggu, tambahan Rp1.200.000. Ditambah alat tulis, pulpen dan buku tulis yang dibeli grosir, mungkin Rp500.000.
Totalnya hampir tiga setengah juta. Kurang satu juta. Tapi lebih masuk akal daripada tidak sama sekali.
Keesokan paginya, Nisa mempresentasikan hitungannya di depan pengurus OSIS. Fajar mengangguk-angguk, meski Nisa tahu ia hanya memahami separuhnya. "Kurangnya kita cari dari sponsor," kata Fajar. "Bengkel tempat saya PKL mungkin mau."
Mereka butuh tempat. Lorong lantai dua punya satu sudut kosong di dekat tangga, bekas tempat lemari piala yang sudah dipindah ke ruang kepala sekolah. Pak Yanto mengizinkan, asal kebersihan dijaga dan lapak ditutup sebelum jam pelajaran berikutnya.
Hari Rabu, Koperasi Lantai Dua dibuka. Mejanya pinjaman dari laboratorium Akuntansi, ditutup kain batik milik ibu Nisa. Termos es teh dua puluh liter dipinjam dari dapur Tata Boga. Yoga membawa enam puluh roti sobek yang masih hangat dalam kotak plastik. Fajar menempel papan kecil dari karton: KOPERASI LANTAI DUA. ES TEH 3RB. ROTI 4RB. HASILNYA UNTUK PENTAS SENI.
Bel istirahat pertama berbunyi pukul sembilan lewat empat puluh lima. Dalam lima menit, antrean sudah mengular sampai depan kelas XII Akuntansi. Siswa-siswa yang biasanya malas turun tangga berdesakan membeli es teh. Yoga kewalahan membungkus roti. Nisa mencatat setiap penjualan di buku dengan kecepatan yang membuat tangannya kram.
Dalam lima belas menit, empat puluh dua gelas es teh dan semua roti habis.
"Kita untung berapa, Nis?" tanya Fajar, terengah.
Nisa menghitung cepat. "Seratus delapan puluh tiga ribu rupiah. Untung bersih. Dalam lima belas menit."
Fajar melompat dan menabrak tiang. Yoga tertawa sampai menangis. Nisa menatap catatannya, tidak percaya. Kalau setiap hari seperti ini, target empat setengah juta bisa tercapai dalam lima minggu.
Saat mereka sedang membereskan meja, terdengar langkah kaki di tangga. Langkah yang berat dan pelan. Seorang perempuan paruh baya bertubuh gemuk dengan celemek bermotif bunga muncul di ujung lorong. Wajahnya merah, entah karena naik tangga, entah karena hal lain.
Bu Rum. Pemilik kantin.
Ia berhenti di depan meja koperasi, memandang termos yang kosong, kotak roti yang kosong, dan papan karton yang ditulis tangan. Lalu ia memandang Nisa, Fajar, dan Yoga bergantian.
"Jadi ini," katanya pelan, "yang membuat es teh saya tidak laku pagi ini."