Lentera di Dalam Kardus
Kardus itu paling bawah di gudang, di bawah tumpukan majalah resep yang dulu dilanggan Bu Har dan tidak pernah sempat dibuang. Lakbannya sudah menguning dan lepas sendiri begitu Pak Harsono menariknya. Di dalamnya ada seragam kondektur yang terlipat rapi, topi berlambang roda bersayap, dan sebuah lentera minyak dengan kaca yang buram oleh debu empat puluh tahun.
Pak Harsono duduk di lantai gudang. Lututnya protes, tetapi ia tidak peduli. Ia mengangkat lentera itu pelan, seperti mengangkat bayi yang sedang tidur. Di dasar besinya masih ada goresan huruf yang dibuat dengan paku: SLMT – KLBR.
Slamet. Kalibaru.
"Kakek ngapain duduk di situ?"
Raka berdiri di ambang pintu gudang, ponsel di tangan kiri, sebungkus keripik di tangan kanan. Cucunya itu baru dua belas tahun, tetapi tingginya sudah menyamai bahu Pak Harsono. Sejak liburan semester dimulai seminggu lalu, Raka dititipkan di rumah ini karena ibunya, Wulan, sedang mengejar tenggat di kantor. Selama seminggu itu Raka lebih banyak bicara dengan layar daripada dengan kakeknya.
"Menemukan utang," jawab Pak Harsono.
"Utang apa?"
"Utang lentera."
Raka mengangkat alis, lalu kembali menatap ponselnya. Pak Harsono tersenyum sendiri. Ia sudah terlalu tua untuk tersinggung oleh anak yang bosan.
Malam itu, setelah makan malam yang sunyi, ia menceritakannya juga. Bukan karena Raka bertanya, tetapi karena cerita itu sudah terlalu lama ia simpan sendirian.
"Tahun delapan puluh enam," katanya, "Kakek masih kondektur muda. Kereta kami tertahan di Kalibaru, stasiun kecil di Banyuwangi, karena banjir menutup rel di depan. Hujannya seperti dituang dari langit. Lampu kereta mati. Penumpang ketakutan, ada bayi menangis, ada nenek yang sesak napas."
Raka masih menatap layar, tetapi jempolnya berhenti bergerak.
"Penjaga sinyal di sana namanya Pak Slamet. Dia datang menembus hujan membawa lentera ini, lalu lentera-lentera lain dari rumahnya. Dia membuka rumahnya untuk ibu-ibu dan anak-anak. Istrinya merebus air, membagikan teh. Sampai pagi. Waktu kereta akhirnya bisa jalan lagi, Kakek masih memegang lentera ini. Pak Slamet bilang, bawa saja dulu, kembalikan kalau lewat lagi."
"Terus?"
"Terus Kakek dipindah tugas ke jalur utara. Tidak pernah lewat Kalibaru lagi. Lalu menikah, punya ibumu, sibuk. Lentera ini masuk kardus. Kardus masuk gudang." Pak Harsono menghela napas. "Empat puluh tahun."
Raka akhirnya meletakkan ponselnya. "Pak Slamet masih hidup?"
"Kakek tidak tahu."
Hening sebentar. Di luar, motor tetangga lewat dengan knalpot yang terlalu bising.
"Kakek mau ke sana," kata Pak Harsono. "Naik kereta. Seperti dulu."
"Ke Banyuwangi? Naik kereta? Itu kan jauh banget, Kek. Naik pesawat aja."
"Utang yang dibuat di kereta, dibayar di kereta."
Raka memandangi kakeknya seperti memandangi soal matematika yang tidak masuk akal. Lalu, untuk pertama kalinya minggu itu, ia tertawa kecil. "Kakek aneh."
"Kakek tua. Itu beda."
Wulan, tentu saja, menolak keras lewat telepon.
"Bapak itu baru operasi lutut tahun lalu. Masa mau naik kereta ekonomi sampai Banyuwangi sendirian?"
"Tidak sendirian," kata Pak Harsono. "Ada Raka."
Di seberang telepon, Wulan diam cukup lama. Di sofa, Raka mendongak kaget. Ia tidak pernah diajak, apalagi ditanya.
"Raka itu baru dua belas tahun, Pak."
"Kamu dulu umur sepuluh sudah bisa beli tiket sendiri di loket Jatinegara."
"Itu zaman dulu."
"Kereta tidak berubah banyak, Lan. Yang berubah cuma kita yang jarang naik."
Perdebatan itu berlangsung tiga hari. Akhirnya Wulan mengalah dengan syarat panjang: ponsel harus selalu menyala, Raka harus mengabari setiap kali kereta berhenti di stasiun besar, obat lutut tidak boleh lupa, dan kalau ada apa-apa mereka harus turun dan naik bus pulang. Pak Harsono menyetujui semuanya tanpa membaca daftar itu sampai habis.
Raka sendiri tidak pernah ditanya mau atau tidak. Ia hanya diberi tahu. Malam sebelum berangkat, ia memasukkan dua kabel pengisi daya, satu power bank, dan headphone ke tas punggungnya, lalu memandangi lentera yang sudah dibersihkan kakeknya di atas meja.
Kacanya sekarang bening. Di cahaya lampu ruang tengah, lentera itu tampak seperti benda dari film lama.
Raka mengambil ponselnya dan memotretnya. Satu kali, dua kali. Ia mencoba sudut dari bawah, lalu dari samping dengan bayangan jatuh ke dinding. Foto ketiga membuatnya diam agak lama. Cahaya lampu menembus kaca lentera dan membuat lingkaran samar di taplak meja, seperti lentera itu menyala sendiri.
Ia tidak mengunggahnya ke mana-mana. Ia hanya menyimpannya.
Stasiun Pasar Senen pukul delapan malam ramai seperti pasar sungguhan. Orang membawa kardus diikat tali rafia, karung berisi entah apa, anak-anak tertidur di bahu orang tuanya. Pengumuman berulang dari pengeras suara bercampur dengan derit roda koper.
Pak Harsono berjalan pelan dengan tongkat di tangan kanan dan tas jinjing berisi lentera di tangan kiri. Ia tidak mau lentera itu dimasukkan ke bagasi. Raka berjalan di sampingnya, sesekali menoleh untuk memastikan kakeknya masih di situ.
"Kakek dulu kerja di sini?"
"Di semua stasiun. Kondektur itu orang yang tidak punya stasiun sendiri." Pak Harsono menunjuk peron dengan dagunya. "Dulu belum ada pagar-pagar ini. Orang bisa naik dari mana saja. Kami harus memeriksa karcis sambil melompati kaki orang yang tidur di lorong."
Kereta mereka sudah menunggu di jalur tiga, panjang dan berwarna putih biru, lampunya menyala terang. Seorang petugas muda memeriksa tiket di pintu gerbong. Ketika melihat tongkat Pak Harsono, ia membantu menaikkan tas dan menunjukkan kursi mereka.
"Terima kasih, Dik," kata Pak Harsono. Lalu, setelah ragu sejenak, ia menambahkan, "Saya dulu kondektur."
Petugas itu tersenyum lebar dan memberi hormat kecil dengan dua jari ke dahi. "Selamat jalan, Pak Senior."
Raka melihat kakeknya menegakkan punggung sedikit, seperti ada sesuatu yang tersambung kembali.
Pukul delapan lewat dua puluh, kereta bergerak. Pelan dulu, lalu lebih cepat. Lampu-lampu Jakarta mulai mundur ke belakang jendela.
Pak Harsono memangku tas berisi lentera. Raka memasang headphone, lalu melepasnya lagi ketika kakeknya mulai bersenandung pelan, lagu lama yang ia tidak kenal.
"Kek."
"Hm?"
"Kalau Pak Slamet sudah meninggal, gimana?"
Pak Harsono memandang ke luar jendela. Pantulan wajahnya sendiri, tua dan berkerut, menempel di atas lampu-lampu kota yang berlari.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, "kita kembalikan ke stasiunnya. Lentera itu milik orang yang menolong, Raka. Tapi pertolongannya milik tempat itu."
Raka tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi ia menyimpan kalimat itu, seperti ia menyimpan foto lentera tadi malam: tanpa dibagikan ke siapa-siapa, untuk dilihat lagi nanti.