Mosi Diterima
Episode 1 dari 1

Tiga Kursi yang Tersisa

Mosi Diterima · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Rahmat tiba di depan ruang bahasa dengan napas terengah dan bau kopi tubruk yang masih menempel di seragamnya. Jam dinding di atas pintu menunjuk pukul tiga lewat dua puluh. Audisi tim debat seharusnya dimulai pukul tiga.

Pintunya terbuka sedikit. Dari celahnya ia melihat Bu Sekar duduk sendirian di balik meja guru, memijat pelipis. Kursi-kursi di depannya kosong, kecuali dua.

"Maaf, Bu," kata Rahmat sambil mengetuk. "Saya bantu Bapak tutup warung dulu. Tadi ada pelanggan yang tidak mau pulang."

Bu Sekar menatapnya lama. Ia guru bahasa Inggris paling disegani di sekolah, bukan karena galak, tapi karena tidak pernah lupa nama siapa pun. "Rahmat Hidayat, kelas XI IPS 2. Kamu yang tahun lalu menulis esai tentang warung kopi sebagai ruang publik."

"Iya, Bu."

"Duduk."

Rahmat duduk di kursi paling belakang, lalu sadar itu terlihat seperti orang yang mau kabur. Ia pindah ke barisan tengah. Di depannya ada dua orang. Yang pertama seorang siswi berkacamata dengan rambut diikat rapi, duduk tegak seperti sedang ujian. Di mejanya ada map plastik berisi kertas yang ditulis tangan rapat-rapat. Yang kedua seorang siswa bertubuh tinggi dengan kulit cokelat terbakar matahari, duduk menyamping sambil memutar pulpen di jari.

"Ini semua?" tanya Rahmat pelan.

Siswa tinggi itu menoleh dan tersenyum lebar. "Tadi ada sebelas. Tujuh mundur setelah tahu lombanya pakai bahasa Inggris semua. Dua lagi mundur setelah Bu Sekar bilang latihannya tiap sore sampai magrib." Ia mengulurkan tangan. "Agustinus. Panggil Gus saja. Dari Putussibau, tinggal di asrama."

"Rahmat."

Siswi berkacamata itu tidak menoleh. Bu Sekar yang menjawab untuknya. "Itu Mei Lin, XI IPA 1. Ia menyerahkan tulisan argumen terbaik yang pernah saya baca dari siswa kelas sebelas."

Mei Lin menunduk lebih dalam, seolah pujian itu sesuatu yang harus dihindari.

Bu Sekar berdiri dan menulis di papan dengan spidol hitam besar: THIS HOUSE WOULD BAN HOMEWORK.

"Lomba Debat Bahasa Inggris tingkat provinsi tinggal tiga minggu lagi," katanya. "Formatnya tiga lawan tiga. Setiap pembicara dapat tujuh menit. Mosinya diumumkan tiga puluh menit sebelum tanding, jadi kalian tidak bisa menghafal. Kalian harus bisa berpikir di tempat." Ia mengetuk papan. "Sekarang, masing-masing dua menit. Bebas memilih pihak. Rahmat, kamu yang terlambat, jadi kamu yang pertama."

Rahmat berdiri. Kakinya terasa seperti bukan miliknya. Ia membuka mulut dan yang keluar justru kalimat yang biasa ia dengar setiap pagi di warung ayahnya, ketika bapak-bapak pensiunan berdebat soal harga cabai.

"Ladies and gentlemen," katanya, lalu berhenti. Ia tidak yakin apakah itu cara yang benar untuk memulai. "Homework is... is like coffee. A little is good. Too much, you cannot sleep."

Gus tertawa keras. Bahkan Mei Lin mengangkat kepala sedikit.

Rahmat melanjutkan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, mencampur contoh dari kakaknya yang kuliah sambil bekerja dan teman-temannya yang mengerjakan PR di angkot. Saat bel kecil di meja Bu Sekar berbunyi, ia baru sadar sudah lewat dua menit.

"Grammar-mu berantakan," kata Bu Sekar datar. "Tapi kamu bicara kepada orang, bukan kepada kertas. Itu tidak bisa diajarkan. Gus."

Gus berdiri dengan santai, membela pihak sebaliknya. Ia bercerita tentang adik-adiknya di kampung yang belajar di bawah lampu minyak, tentang PR sebagai satu-satunya alasan orang tua mereka menanyakan sekolah. Bahasa Inggrisnya lebih lancar dari Rahmat. Ia membuat semua orang tersenyum, tapi argumennya melompat-lompat seperti ikan di perahu.

"Lucu, hangat, dan tidak jelas apa kesimpulannya," kata Bu Sekar. "Mei Lin."

Mei Lin berdiri. Map plastiknya ia genggam di depan dada seperti perisai. Ia menatap papan tulis, tidak menatap siapa pun.

"This house..." suaranya hampir tidak terdengar. "This house believes..."

Hening. Rahmat bisa mendengar kipas angin di langit-langit berdecit setiap kali berputar.

Mei Lin menelan ludah. Tangannya mulai gemetar. Kertas di dalam map bergetar dan menimbulkan bunyi kresek kecil. Lalu ia duduk kembali tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Bu Sekar tidak berkata apa-apa beberapa saat. Lalu ia berjalan ke meja Mei Lin, mengambil map itu, dan membacakan satu paragraf dengan suara keras. Paragraf itu tentang bagaimana PR yang terlalu banyak membuat anak-anak yang harus membantu orang tua bekerja tertinggal, bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka tidak punya waktu. Kalimatnya tajam dan tersusun rapi.

Rahmat terdiam. Itu argumen yang tadi ingin ia sampaikan, tapi tidak tahu caranya.

"Ini," kata Bu Sekar sambil mengembalikan map, "adalah alasan kenapa kamu ada di sini, Mei Lin. Masalahmu bukan isi kepala. Masalahmu adalah jarak antara kepala dan mulut."

Ia kembali ke depan kelas dan menatap ketiganya bergantian.

"Saya jujur saja. Kalian bukan tim yang saya bayangkan. Yang satu tidak bisa tepat waktu, yang satu tidak bisa berhenti bercanda, dan yang satu tidak bisa bicara." Ia menarik napas. "Tapi pendaftaran ditutup Jumat ini, dan sekolah kita tidak pernah absen dari lomba ini selama sepuluh tahun. Jadi pertanyaannya: kalian mau, atau tidak?"

Gus mengangkat tangan lebih dulu. Rahmat menyusul, setengah ragu. Mereka berdua menoleh ke Mei Lin.

Mei Lin menatap lantai lama sekali. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk.

"Bagus," kata Bu Sekar. "Satu hal lagi. Sekolah yang menjadi juara bertahan tiga tahun berturut-turut adalah SMA Cahaya Bangsa. Kaptennya bernama Kevin. Ia sudah ikut lomba debat sejak kelas tujuh, dan ia tidak pernah kalah di babak penyisihan." Bu Sekar menutup spidolnya. "Latihan pertama besok, pukul empat sore. Jangan terlambat, Rahmat."

Saat mereka keluar dari ruang bahasa, matahari sore Pontianak menyengat dari balik awan. Gus menepuk bahu Rahmat. "Warung kopi bapakmu di mana? Kita latihan di sana saja. Asrama saya bau kaus kaki."

Rahmat tertawa, lalu menoleh ke arah Mei Lin, yang sudah berjalan cepat menuju gerbang. "Mei Lin! Besok jadi, kan?"

Mei Lin berhenti tanpa berbalik. Ia mengangkat tangannya sedikit, entah melambai, entah sekadar menunjukkan bahwa ia mendengar. Lalu ia menghilang di balik deretan sepeda motor yang menjemput.

Malam itu, saat Rahmat membersihkan gelas-gelas di warung, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

"Ini Mei Lin. Maaf soal tadi. Saya tidak yakin bisa. Mungkin sebaiknya kalian cari orang lain."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Bahasa Inggris untuk Kerja & Wawancara

Banyak orang bisa membaca bahasa Inggris, tetapi kaku saat harus memperkenalkan diri di wawancara, menulis email ke atasan, atau menyela di rapat online. Yang kurang biasanya bukan...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu