Bus Malam ke Sidrap
Bus malam berhenti di depan sebuah warung kopi yang lampunya sudah separuh padam. Kondekturnya membangunkan Fikri dengan menepuk lutut, bukan bahu, seolah takut mengagetkan.
"Sidrap, Dek. Ini sudah Pangkajene. Kakekmu yang mana?"
Fikri mengucek mata. Di luar jendela, langit masih gelap, dan udara yang masuk dari pintu bus berbau tanah basah dan asap kayu. Ia tidak tahu kakeknya yang mana. Terakhir ia bertemu kakeknya waktu kelas tiga SD, waktu neneknya meninggal dan seluruh keluarga pulang kampung selama tiga hari. Yang ia ingat hanya punggung lelaki tua yang duduk di tangga rumah panggung, merokok tanpa bicara sementara orang-orang dewasa menangis di dalam.
Sekarang ia lima belas tahun, dan ia di sini karena hukuman.
Di bawah lampu warung, seorang lelaki kurus berpeci hitam berdiri di samping motor bebek tua. Kemejanya dimasukkan rapi ke celana kain, dan sandal jepitnya berwarna beda kiri dan kanan. Ia tidak melambai. Ia hanya menatap pintu bus sampai Fikri turun, lalu mengangguk sekali.
"Fikri," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya, Kek."
Kakek mengambil ransel Fikri tanpa bertanya, mengikatnya di jok belakang dengan karet ban dalam yang dipotong panjang, lalu menunjuk ke bagian depan jok. "Duduk di belakang ransel. Pegang pinggang Kakek."
Mereka melaju di jalan kecil yang diapit sawah. Fikri tidak bisa melihat apa-apa selain sorot lampu motor yang kuning dan bergoyang, tapi ia bisa mendengar katak, ribuan katak, bersahutan seperti stadion yang menunggu pertandingan dimulai. Angin subuh menusuk kaus tipisnya. Ia ingin bilang dingin, tapi kakeknya tidak bicara sepanjang jalan, dan rasanya aneh menjadi orang pertama yang memecah diam.
Rumah kakek masih sama dengan yang ia ingat, hanya lebih kecil. Rumah panggung kayu dengan tiang-tiang tinggi, tangga di samping, dan kolong yang dipakai menyimpan gabah, alat bajak, dan sebuah sepeda onthel tanpa ban. Di halaman depan ada pohon mangga yang daunnya hampir menyentuh atap.
Di dalam, kakek menunjuk sebuah kamar di ujung. "Itu kamar ibumu dulu."
Kamar itu bersih, terlalu bersih untuk kamar yang sudah lama tidak dipakai. Kasur kapuk dilapisi seprai bunga-bunga yang masih kaku karena baru disetrika. Di atas meja kecil ada termos, gelas, dan sepiring kue tradisional yang dibungkus daun pisang.
"Barongko," kata kakek dari pintu. "Tetangga yang bikin. Makan kalau lapar."
Lalu ia pergi, dan Fikri mendengar langkahnya menuruni tangga.
Fikri duduk di kasur dan mengeluarkan ponselnya. Sinyalnya satu garis, kadang hilang. Di grup kelasnya, pesan-pesan terakhir masih membicarakan dia. Fikri dikirim ke kampung, lol. Mampus, ga ada wifi. Salah sendiri mukul Rendy. Ia mematikan layar dan berbaring.
Ia tidak menyesal memukul Rendy. Rendy sudah berbulan-bulan mengejek ayahnya yang kena PHK, menyebutnya "pengangguran berdasi" di depan semua orang. Yang ia sesali adalah wajah ibunya di ruang kepala sekolah, dan kalimat ayahnya di mobil sepulang dari sana: "Kamu ke rumah Kakek dulu sampai skorsingmu selesai. Ayah dan Ibu perlu mengurus banyak hal di sini."
Banyak hal. Fikri tahu maksudnya. Mencari kerja. Menjual mobil. Pindah kontrakan. Hal-hal yang tidak mau mereka bicarakan di depannya.
Ia terbangun karena suara sapu lidi. Matahari sudah tinggi, dan kamarnya panas. Dari jendela, ia melihat kakeknya menyapu daun mangga di halaman dengan gerakan yang pelan dan teratur, seperti sedang menggambar sesuatu di tanah.
Di dapur ada nasi, ikan kering, dan sambal dalam cobek batu. Fikri makan sendiri. Kakeknya tidak masuk.
Siangnya, ia menemukan kakeknya di kebun belakang, berjongkok di antara bedengan yang setengahnya ditumbuhi rumput liar. Ada tanaman cabai yang daunnya keriting, tomat yang buahnya kecil-kecil, dan deretan pot plastik hitam berisi tanah yang tidak ditanami apa pun.
"Itu punya nenekmu," kata kakek tanpa menoleh, seolah tahu Fikri sedang menatap pot-pot kosong itu. "Dia yang tanam semua. Kakek cuma tahu sawah."
"Kenapa kosong?"
Kakek mencabut sehelai rumput, memandanginya, lalu membuangnya. "Sudah enam tahun. Kakek tidak tahu dia tanam apa di situ."
Fikri tidak tahu harus menjawab apa. Ia memandangi tangan kakeknya. Jari-jarinya bengkak di sendi, bengkok ke arah yang tidak seharusnya. Waktu mencabut rumput tadi, kakeknya meringis sedikit, cepat sekali, lalu wajahnya kembali datar.
"Tangan Kakek kenapa?"
"Rematik. Biasa, orang tua." Kakek berdiri pelan, berpegangan pada tiang jemuran. "Besok kita ke sawah. Musim tanam. Kau ikut."
"Saya kan ke sini buat sekolah daring, Kek. Ada tugas."
Kakek menatapnya untuk pertama kali sejak subuh. Matanya kecil dan tajam di balik keriput, dan Fikri merasa sedang ditimbang.
"Sekolah daringmu jam berapa?"
"Jam delapan sampai jam dua belas."
"Sawah jam lima sampai jam tujuh," kata kakek. "Cukup waktu."
Malam itu listrik padam pukul sembilan. Kakek menyalakan lampu minyak dan meletakkannya di meja ruang tengah. Mereka duduk berhadapan, dan Fikri, yang tidak punya pilihan lain, akhirnya bertanya.
"Kakek tahu kenapa saya dikirim ke sini?"
"Ibumu cerita." Kakek menyesap kopi hitamnya. "Kau pukul temanmu."
"Dia ejek Ayah."
Kakek mengangguk pelan. Lampu minyak membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak di dinding papan. Fikri menunggu nasihat, menunggu ceramah tentang kesabaran dan tidak boleh berkelahi, seperti yang ia dengar dari semua orang dewasa minggu ini.
Tapi kakek hanya bilang, "Ayahmu orang baik. Dia lamar ibumu di tangga rumah ini. Hujan-hujan, basah semua. Kakek suruh dia pulang dulu ganti baju, dia tidak mau. Katanya takut berubah pikiran."
Fikri tertawa, tidak sengaja. Ia tidak pernah mendengar cerita itu.
"Besok bangun sebelum azan," kata kakek sambil meniup lampu minyak. "Kalau kau tidak bangun, Kakek tinggal."
Dalam gelap, Fikri mendengar langkah kakeknya ke kamar, lalu bunyi kasur kapuk yang ditiduri. Ia tetap duduk sebentar, mendengar katak dan jangkrik, dan untuk pertama kalinya sejak naik bus, dadanya tidak terasa sesak.
Ia memasang alarm pukul empat. Lalu, ragu-ragu, ia memasang satu alarm lagi pukul empat lewat lima.