Episode 1 dari 1

Peta di Kaleng Biskuit

Pulau yang Muncul Saat Surut · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Sejak Atok Hamid meninggal, rumah panggung di Tanjung Kelayang jadi terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang menghadap laut.

Dulu setiap magrib Atok duduk di beranda, memperbaiki jaring sambil berpantun keras-keras, dan Nek Salmah akan membalas dari dapur tanpa pernah keluar. Ardi tumbuh dengan pantun-pantun itu seperti tumbuh dengan bunyi ombak: selalu ada, tidak pernah ia hitung. Sekarang beranda itu hanya diisi angin dan jaring yang tidak lagi diperbaiki siapa pun.

Nek Salmah masih memasak, masih menyapu halaman, masih menanyakan apakah PR Ardi sudah selesai. Tapi ia tidak lagi membalas pantun siapa pun. Kalau ada tetangga yang iseng melempar sebait di depan rumah, Nek hanya tersenyum tipis lalu masuk.

"Nek sudah tidak pandai lagi," katanya suatu kali, ketika Ardi bertanya. Ardi tahu itu bohong. Neneknya hanya tidak punya lawan lagi.

Pagi itu hari Minggu, setahun lewat dua minggu sejak pemakaman. Nek Salmah menyuruh Ardi membersihkan para-para, loteng sempit di atas dapur tempat Atok menyimpan segala yang "nanti juga berguna". Ardi naik dengan senter dan karung plastik, bersin tiga kali karena debu, lalu mulai memilah: pelampung pecah, gulungan tali nilon, dua radio tanpa baterai, tumpukan koran tahun 2003.

Di pojok, tertutup terpal, ada kaleng biskuit bergambar kapal layar. Kalengnya berat. Ardi membukanya dengan susah payah karena tutupnya sudah berkarat.

Isinya bukan biskuit. Ada kaset pita dengan label tulisan tangan Atok, "Pantun Malam Jumat, 1998", tapi pitanya putus dan kusut seperti mi goreng. Ada kerang putih sebesar kepalan tangan. Ada pisau lipat kecil. Dan ada selembar kertas tebal yang dilipat delapan.

Ardi membuka lipatan itu pelan-pelan.

Itu peta. Bukan peta dari toko, tapi gambar tangan dengan pensil dan tinta biru. Garis pantai Tanjung Kelayang ia kenali langsung: batu-batu granit besar, tanjung kecil tempat ia biasa memancing, deretan pulau di lepas pantai. Atok bahkan menggambar pohon kelapa yang condong di dekat rumah mereka.

Tapi di tengah laut, agak ke utara dari Pulau Lengkuas, ada satu pulau yang tidak pernah Ardi lihat di peta mana pun. Bentuknya seperti kacang mete. Di atasnya Atok menulis dengan huruf kapital: PULAU LUPA.

Di bawah peta, ada catatan dalam tulisan Atok yang miring ke kanan:

Muncul hanya saat air paling surut di malam purnama atau bulan mati. Yang hilang berkumpul di sana. Boleh bawa pulang satu, asal tinggalkan satu yang kau sayang. Pulang sebelum air naik. Jangan ajak orang yang tidak percaya.

Ardi membacanya tiga kali. Lalu ia tertawa sendiri, pendek, karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Atok memang suka bercerita. Cerita tentang ikan pari sebesar pintu, tentang hantu laut yang takut pada bau terasi, tentang ikan yang bisa menyanyi kalau dipancing dengan umpan pantun. Semua orang di kampung tahu Atok Hamid adalah nelayan paling jujur sekaligus pendongeng paling tidak jujur.

Tapi peta ini bukan dongeng yang diucapkan sambil tertawa. Peta ini disimpan rapi, dilipat hati-hati, ditaruh bersama kaset dan kerang. Seperti sesuatu yang penting.

Ardi turun dari para-para membawa kaleng itu.

"Nek," panggilnya. "Nek pernah dengar Pulau Lupa?"

Nek Salmah sedang mengulek sambal. Tangannya berhenti satu ketukan, lalu bergerak lagi lebih cepat.

"Dongeng Atok kau," katanya tanpa menoleh.

"Ada petanya, Nek."

Kali ini ulekan berhenti sepenuhnya. Nek Salmah menoleh, melihat kertas di tangan Ardi, dan untuk sesaat wajahnya berubah. Ardi tidak bisa menjelaskan perubahan itu. Bukan kaget. Lebih seperti orang yang melihat surat lama yang sudah ia tahu isinya.

"Simpan saja," kata Nek akhirnya. "Jangan main-main ke laut malam hari."

Lalu ia kembali mengulek, dan percakapan itu selesai.

Malamnya Ardi tidak bisa tidur. Ia memutar-mutar kaset yang pitanya kusut itu di tangannya. Pantun Malam Jumat. Ia ingat kaset ini. Waktu kecil Atok sering memutarnya di radio tua sambil menunggu Nek Salmah selesai salat: rekaman Atok dan teman-temannya berbalas pantun di balai desa, diselingi tawa dan tepuk tangan. Suara Atok di kaset itu masih muda, masih nyaring.

Kaset itu satu-satunya rekaman suara Atok. Ponsel Atok dulu hanya ponsel jadul untuk menelepon, dan Atok tidak pernah mau difoto, apalagi direkam video. "Laut tidak butuh difoto," katanya selalu.

Dan sekarang pitanya putus.

Ardi sudah mencoba menyambungnya dengan selotip minggu lalu, sebelum ia tahu kaset ini ada di kaleng bersama peta. Rupanya Atok sendiri yang menyimpan kaset rusak itu. Mungkin Atok juga pernah mencoba memperbaikinya.

Yang hilang berkumpul di sana.

Kalau suara Atok bisa hilang, mungkinkah suara itu juga ada di sana?

Ardi membuka aplikasi kalender di ponselnya. Purnama berikutnya jatuh hari Rabu, tiga malam lagi. Ia membuka aplikasi pasang surut yang biasa dipakai nelayan di kampung. Air paling surut Rabu malam: pukul dua puluh tiga lewat empat puluh.

Ia menatap angka itu lama.

Esoknya di sekolah, Ardi duduk di sebelah Lina seperti biasa. Lina adalah anak Pak Rusli, montir mesin perahu satu-satunya di kampung, dan ia percaya pada tiga hal saja: obeng, kunci pas, dan tabel pasang surut.

"Kau pernah dengar Pulau Lupa?" tanya Ardi saat istirahat.

Lina mengunyah keripik singkongnya. "Pulau di dongeng Atok kau? Yang isinya sandal jepit hilang sedunia?"

Ardi terdiam. "Atok cerita ke kau juga?"

"Atok kau cerita ke semua anak di kampung ini," kata Lina. "Waktu aku kelas dua, aku nangis karena layang-layangku putus. Atok kau bilang layangan itu terbang ke Pulau Lupa dan sekarang dipakai kepiting untuk main."

Ardi mengeluarkan peta dari tasnya dan membentangkannya di meja.

Lina berhenti mengunyah. Ia mendekatkan wajahnya, menyentuh garis-garis pantai dengan ujung jari, lalu mengerutkan kening.

"Skalanya benar," gumamnya. "Jarak dari tanjung ke Lengkuas pas. Ini bukan gambar sembarangan."

"Purnama hari Rabu," kata Ardi. "Surut paling rendah jam dua belas kurang dua puluh."

Lina menatapnya. "Kau mau ke laut tengah malam karena peta dongeng?"

"Aku mau lihat saja. Dari pantai."

Lina diam lama. Lalu ia melipat peta itu dengan rapi, persis di lipatan-lipatan lamanya, dan mengembalikannya ke Ardi.

"Kalau cuma lihat dari pantai, aku ikut," katanya. "Supaya ada saksi waktu kau sadar itu cuma dongeng."

Rabu malam, bulan bulat dan pucat seperti kerupuk di atas Laut Natuna. Ardi menunggu sampai dengkur Nek Salmah terdengar dari kamar, lalu menyelinap keluar lewat pintu dapur. Lina sudah menunggu di bawah pohon kelapa yang condong, membawa senter kepala dan termos teh.

Pantai sangat sepi. Air sudah surut jauh; batu-batu granit yang biasanya separuh terendam kini berdiri utuh seperti punggung kerbau raksasa. Pasir basah berkilat diterpa cahaya bulan.

Mereka duduk di atas batu dan menunggu. Pukul sebelas. Sebelas lewat dua puluh. Lina menuang teh. Tidak ada apa-apa selain laut yang tenang dan suara serangga dari arah kebun.

"Lima menit lagi," kata Lina, "lalu kita pulang dan kau traktir aku mi rebus besok."

Pukul sebelas lewat empat puluh, tepat ketika air berhenti surut, Ardi melihatnya.

Mula-mula hanya kilau di utara Pulau Lengkuas, seperti cahaya bulan yang memantul di tempat yang salah. Lalu kilau itu meninggi, melebar, dan berubah bentuk. Garis daratan muncul pelan-pelan dari laut, seperti punggung makhluk yang terbangun. Ada pohon-pohon di atasnya. Ada sesuatu yang berkelip di puncaknya, seperti lampu mercusuar yang menyala dan padam bergantian.

Bentuknya seperti kacang mete.

Teh di tangan Lina tumpah ke pasir. Ia tidak menyadarinya.

"Ardi," bisiknya. "Itu tidak ada di tabel mana pun."

Ardi sudah berdiri. Jantungnya berdetak sangat keras sampai ia bisa mendengarnya di telinga. Di saku celananya, peta Atok terasa hangat.

"Perahu Atok masih ada di bawah rumah," katanya.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu