Episode 1 dari 1

Rapat Daring Pertama Kelurahan Sukamaju

Rapat Daring Pertama Kelurahan Sukamaju · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Surat edaran itu datang hari Senin, dicap basah dan ditandatangani Pak Camat dengan tinta biru yang tebal. Isinya singkat: mulai bulan ini, rapat koordinasi bulanan seluruh kelurahan diadakan secara daring. Kamis pukul sembilan pagi. Setiap lurah wajib hadir, menyalakan kamera, dan menyampaikan laporan lima menit.

Pak Darto, Lurah Sukamaju sejak sebelas tahun lalu, membaca surat itu tiga kali di mejanya, lalu memanggil seluruh staf kelurahan ke ruang tengah. Seluruh staf itu berjumlah empat orang: Mbak Rini di bagian administrasi, Pak Sule di bagian umum, Bu Yanti di bagian pelayanan, dan Mas Gilang, tenaga honorer yang tugas utamanya mengurus arsip dan memberi makan kucing kantor bernama Mbah Kus.

"Rapat daring," kata Pak Darto. "Siapa yang pernah?"

Mbak Rini mengangkat tangan setengah. "Saya pernah ikut seminar daring, Pak. Waktu pelatihan aplikasi kependudukan."

"Bagus. Kamu jadi kepala operasi."

"Operasi apa, Pak?"

"Operasi supaya kelurahan kita tidak malu di depan Pak Camat."

Tiga hari berikutnya, kantor Kelurahan Sukamaju bersiap seperti akan menerima kunjungan menteri. Mbak Rini meminjam laptop dari ruang pelayanan, yang biasanya dipakai mencetak surat pengantar. Pak Sule mengecat ulang dinding di belakang meja lurah karena ada bekas rembesan air berbentuk peta Sulawesi. Bu Yanti membawa pot bunga anggrek dari rumahnya supaya latar belakang terlihat segar. Mas Gilang ditugasi satu hal penting: memastikan Mbah Kus tidak masuk ruangan lurah pada hari Kamis.

Sementara itu, Pak Darto menulis pidato. Laporan lima menit, kata surat edaran. Pak Darto menulis tiga halaman folio, bolak-balik, dengan tulisan tangan miring yang rapi. Isinya mulai dari jumlah penduduk, capaian imunisasi, perbaikan jembatan di RW tiga, sampai kisah sukses kelompok ibu-ibu pembuat keripik singkong yang baru saja ikut pameran di kabupaten.

"Pak, ini kepanjangan," kata Mbak Rini, membalik halaman ketiga.

"Lima menit itu kan kira-kira."

"Pak, ini kira-kira dua puluh menit."

"Saya bacanya cepat."


Kamis pagi pukul delapan, ruang lurah sudah siap. Laptop di atas meja, disangga tumpukan buku register penduduk supaya kameranya setinggi wajah. Anggrek di belakang. Dinding baru dicat, bau catnya masih terasa. Pak Darto memakai seragam dinas lengkap, lencana mengilap, peci baru.

Mbak Rini memberikan pengarahan terakhir.

"Pak, nanti di layar kelihatan kotak-kotak. Itu wajah lurah-lurah lain. Pak Camat yang kotaknya paling besar kalau sedang bicara. Kalau Pak dipanggil, tekan tombol ini, gambar mikrofon, supaya suara Bapak terdengar. Kalau tidak bicara, tombolnya dimatikan lagi, supaya suara kantor tidak masuk."

"Tombol mikrofon. Iya."

"Ulangi, Pak."

"Tekan mikrofon kalau mau bicara."

Mbak Rini mengangguk puas, lalu pergi ke ruang sebelah. Rencananya, ia akan mengawasi dari laptop kedua milik pribadinya, yang juga masuk ke rapat sebagai cadangan, dan memberi tanda lewat jendela kaca kalau ada masalah.

Pukul sembilan tepat, rapat dimulai. Layar laptop penuh kotak-kotak. Pak Darto melihat wajah-wajah yang ia kenal dari acara tujuh belasan kecamatan: Bu Lurah Sukasari yang selalu memakai bros besar, Pak Lurah Cibeber yang tampak baru bangun, dan Pak Lurah Mekarjaya yang menggunakan latar belakang gambar pantai Bali, padahal kantornya di pinggir sawah.

Pak Camat membuka rapat dengan sambutan panjang. Lalu ia mulai memanggil satu per satu.

Kelurahan Sukasari maju pertama. Bu Lurah berbicara dengan lancar, empat menit lima puluh detik. Kelurahan Cibeber kedua, tiga menit, dengan suara ayam berkokok di latar belakang. Kelurahan Mekarjaya ketiga, dan latar belakang pantainya membuat kepalanya menghilang setiap kali ia bergerak.

"Kelurahan Sukamaju, silakan, Pak Darto."

Pak Darto menegakkan punggung, merapikan peci, membuka halaman pertama pidatonya, dan mulai berbicara dengan suara lantang yang biasa ia pakai di upacara bendera.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Camat, yang saya hormati rekan-rekan lurah se-kecamatan. Izinkan saya menyampaikan laporan Kelurahan Sukamaju bulan ini."

Di layar, Pak Camat tersenyum dan mengangguk-angguk. Para lurah lain menatap kamera dengan wajah sopan. Pak Darto merasa yakin, dan membaca halaman pertama dengan penuh semangat: jumlah penduduk, angka kelahiran, imunisasi.

Di ruang sebelah, Mbak Rini memucat. Di laptopnya, kotak Kelurahan Sukamaju memperlihatkan Pak Darto yang berbicara penuh semangat, tetapi di pojok kotak itu ada ikon mikrofon merah yang dicoret.

Tidak ada suara sama sekali.

Mbak Rini berlari ke jendela kaca dan mengetuknya. Pak Darto, yang sedang serius membaca, mengira itu tanda penyemangat, dan mengangkat jempol ke arah jendela tanpa menoleh.

Mbak Rini mengetuk lebih keras, lalu membuat gerakan menekan dengan jari telunjuk. Pak Darto melihatnya dari sudut mata, mengira itu tanda "teruskan", dan membalik ke halaman kedua.

Di layar, Pak Camat mulai mengernyit. Lalu ia tersenyum lagi, karena ia mengira ini masalah sinyal. Para lurah lain mulai menulis di kolom obrolan.

Pak Darto, suaranya tidak ada.

Pak, unmute.

Pak Lurah Sukamaju, mikrofon.

Pak Darto tidak membaca kolom obrolan. Ia membaca pidato. Ia sudah sampai pada bagian perbaikan jembatan di RW tiga, dan untuk menekankan pentingnya jembatan itu, ia mengangkat tangan dan menggambar lengkungan jembatan di udara.

Di ruang sebelah, Mbak Rini menyerah pada jendela. Ia mengambil keputusan cepat. Dari laptopnya sendiri, ia menyalakan mikrofon, mengambil fotokopi pidato Pak Darto yang tertinggal di mejanya, dan mulai membacakan halaman kedua tepat di bagian yang sama, sambil menonton gerak bibir atasannya di layar untuk menyamakan kecepatan.

Maka rapat koordinasi kecamatan menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya: kotak Kelurahan Sukamaju memperlihatkan Pak Darto yang berpidato dengan gagah tanpa suara, sementara kotak kecil bernama Rini - Laptop Pribadi memperlihatkan dinding kosong, dan dari sanalah suara laporan terdengar, suara perempuan muda yang membaca dengan sangat cepat dan sedikit terengah-engah.

Pak Lurah Cibeber menutup mulutnya dengan tangan. Bu Lurah Sukasari tertawa sampai brosnya bergoyang. Pak Lurah Mekarjaya tertawa sampai kepalanya hilang lagi ke dalam pantai Bali.

Lalu, tepat ketika Mbak Rini sampai pada kisah sukses ibu-ibu pembuat keripik singkong, pintu ruang lurah terbuka. Mbah Kus, kucing kantor, yang sudah dijaga Mas Gilang sejak pagi, masuk dengan langkah santai, melompat ke meja, berjalan di depan laptop, dan duduk tepat di atas tombol keyboard.

Di layar, mikrofon Kelurahan Sukamaju menyala.

Dan seluruh kecamatan mendengar Pak Darto, yang sedang bersemangat sampai di puncak pidatonya, berseru dengan lantang: "...DAN ITULAH SEBABNYA KERIPIK SINGKONG SUKAMAJU, BAPAK CAMAT, LEBIH RENYAH DARIPADA KERIPIK KECAMATAN SEBELAH!"

Hening.

Pak Camat menatap layar. Para lurah menatap layar. Mbah Kus menatap kamera, lalu menguap lebar.

Lalu Pak Camat tertawa. Tawa yang panjang, sampai ia harus melepas kacamatanya.

"Pak Darto," katanya setelah reda, "itu laporan paling lengkap yang pernah saya dengar. Dibacakan dua orang, ditutup oleh kucing."


Sore harinya, sebuah surat edaran baru tiba di Kelurahan Sukamaju, ditandatangani dengan tinta biru yang tebal.

Perihal: Rapat koordinasi bulan depan. Mohon Kelurahan Sukamaju membawa keripik singkong untuk dibandingkan. Mbak Rini harap hadir sebagai pembaca laporan. Kucing boleh ikut.

Pak Darto menempelkan surat itu di papan pengumuman dengan bangga, tepat di bawah aturan baru yang ditulis Mbak Rini dengan huruf kapital dan spidol merah:

SEBELUM BICARA, LIHAT POJOK KIRI BAWAH. KALAU MIKROFONNYA DICORET, ITU BUKAN HIASAN.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Kerja Remote yang Produktif

Bekerja dari rumah terdengar menyenangkan sampai batas antara jam kerja dan jam istirahat mulai kabur. Buku ini membantumu membangun rutinitas, cara berkomunikasi, dan kebiasaan fo...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu