Brief Satu Paragraf
Pesan itu masuk pukul 23.48, ketika Dinda sedang memindahkan logo klinik gigi dua piksel ke kiri untuk ketujuh kalinya.
"Selamat malam, Mbak Dinda. Saya Raka dari Roti Kenanga, Kotabaru. Saya butuh logo baru. Yang hangat, tapi modern. Seperti roti, tapi jangan terlalu roti. Kalau bisa selesai minggu ini. Terima kasih."
Dinda membaca pesan itu tiga kali. Hangat tapi modern. Seperti roti tapi jangan terlalu roti. Ia menoleh ke kucingnya, Bolu, yang sedang tidur di atas tumpukan kertas sketsa.
"Kamu ngerti maksudnya?"
Bolu tidak menjawab. Bolu jarang menjawab.
Dinda sudah tiga tahun menjadi desainer lepas. Ia hafal jenis-jenis klien seperti tukang bakso hafal jenis pembeli: ada yang tahu persis maunya, ada yang tahu persis tidak maunya, dan ada yang baru tahu maunya setelah melihat sepuluh hal yang tidak ia mau. Klien dengan brief satu paragraf biasanya masuk golongan ketiga.
Ia membalas dengan templat yang sudah ia rapikan bertahun-tahun.
"Selamat malam, Mas Raka. Terima kasih sudah menghubungi. Supaya saya bisa memberi penawaran yang pas, boleh saya kirim formulir brief singkat? Isinya lima pertanyaan: siapa pembeli utama, di mana logo akan dipakai, tiga kata yang menggambarkan toko, contoh logo yang disukai dan tidak disukai, dan tenggat. Untuk logo, biaya saya Rp2.500.000 termasuk dua kali revisi, dengan uang muka 50 persen sebelum mulai."
Balasan datang tiga menit kemudian. Sebuah bukti transfer. Rp1.250.000.
Lalu satu pesan lagi.
"Formulirnya saya isi besok. Bisa ketemu di toko? Jam lima pagi."
Dinda menatap layar. Jam lima pagi. Ia biasanya baru tidur jam tiga.
"Jam lima pagi, Mas?"
"Iya. Jam segitu tokonya paling jujur."
Dinda tidak tahu apa artinya toko yang jujur, tetapi uang muka sudah masuk, dan ia punya aturan sederhana: kalau uang muka sudah masuk, ia hadir.
Kotabaru pukul 04.52 masih abu-abu. Lampu jalan menyala kuning, dan gedung-gedung tua peninggalan Belanda berdiri diam seperti sedang menunggu seseorang membangunkannya. Dinda memarkir motornya di depan sebuah ruko berdinding krem dengan papan nama kayu yang catnya mengelupas. Tulisan "Roti Kenanga" di papan itu digambar tangan, hurufnya miring sedikit ke kanan, dan di sebelahnya ada gambar bunga kecil berkelopak lima.
Pintu toko terbuka setengah. Dari dalam keluar bau yang membuat Dinda lupa ia belum tidur: mentega, gula yang sedikit gosong, dan sesuatu yang hangat dan manis yang tidak bisa ia namai.
"Mbak Dinda?"
Seorang laki-laki keluar dari balik etalase. Tingginya sedang, rambutnya ditutup topi kain, dan celemeknya penuh tepung sampai ke kerah. Wajahnya serius dengan cara yang membuat Dinda langsung merasa ia sudah datang terlambat, padahal ia datang delapan menit lebih awal.
"Mas Raka?"
"Silakan duduk. Lima menit lagi roti sobeknya keluar."
Itu saja. Tidak ada basa-basi, tidak ada "maaf merepotkan pagi-pagi". Raka kembali ke dapur, dan Dinda duduk di satu-satunya kursi di toko itu, kursi rotan yang berderit setiap kali ia bergerak.
Ia memakai lima menit itu untuk mengamati. Etalasenya kaca tua dengan bingkai kayu. Di dindingnya ada jam bulat yang jarumnya terlambat sepuluh menit, kalender dari toko bahan kue, dan sebuah bingkai foto yang ditutup kain putih. Dinda penasaran, tetapi ia tahu batas. Ia datang untuk logo, bukan untuk membuka kain orang.
Raka keluar membawa nampan. Roti sobek di atasnya mengilap, cokelat keemasan, dan uapnya naik pelan ke udara dingin.
"Coba," katanya.
"Ini bagian dari brief?"
"Iya."
Dinda menyobek satu bagian. Rotinya lembut, sedikit asin di kulitnya, manis di dalam. Ia mengunyah pelan, dan untuk sesaat ia lupa bahwa ia sedang bekerja.
"Enak," katanya jujur.
"Itu warnanya." Raka menunjuk kulit roti. "Saya mau logonya warna itu. Warna roti yang baru keluar jam lima pagi. Bukan cokelat. Bukan oranye. Itu."
Dinda mengeluarkan buku sketsanya. Ia menulis: warna roti jam 5 pagi. Di bawahnya ia menulis lagi, kecil: klien bicara dengan perumpamaan, minta contoh visual.
"Pembeli utamanya siapa, Mas?"
"Orang yang lewat sebelum kerja. Ibu-ibu yang pesan untuk arisan. Dulu juga anak sekolah, tapi sekarang anak sekolah belinya di minimarket."
"Logonya mau dipakai di mana saja?"
"Papan nama. Kantong kertas. Label harga. Instagram." Ia berhenti. "Dan proposal."
"Proposal apa?"
Raka diam sebentar, lalu mengambil nampan kosong. "Pokoknya dipakai di mana-mana."
Dinda mencatat proposal??? dan memberi dua tanda tanya tambahan.
"Tiga kata untuk menggambarkan toko ini?"
Raka menatap etalase lama sekali. Dinda menunggu. Di dapur, sebuah pengatur waktu berbunyi, dan Raka tidak bergerak.
"Pagi," katanya akhirnya. "Pulang. Dan..." Ia menggaruk tengkuk. "Ibu."
Dinda berhenti menulis. "Ibu?"
"Maksud saya, rasanya seperti masakan ibu. Tulis saja hangat."
Dinda menulis hangat, lalu di sebelahnya, tanpa sadar, ia juga menulis ibu dengan huruf kecil sekali.
"Contoh logo yang Mas suka?"
Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan logo sebuah kedai kopi di Jakarta yang sedang ramai di media sosial: huruf tipis, banyak ruang kosong, warna pucat.
"Yang begini."
"Dan yang Mas tidak suka?"
Raka menunjuk ke luar, ke papan nama kayu dengan huruf miring dan bunga kecil.
"Yang itu."
Dinda menoleh ke papan itu, lalu kembali ke Raka. Ada sesuatu di cara laki-laki itu menunjuk, cepat, seperti menyentuh sesuatu yang panas.
"Logo lama mau dibuang total?"
"Diganti total," jawab Raka. Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang: "Tapi papannya jangan dibuang. Disimpan."
"Jadi diganti, tapi disimpan."
"Iya."
"Modern, tapi hangat."
"Iya."
"Seperti roti, tapi jangan terlalu roti."
Raka mengangguk dengan serius, seolah semua itu masuk akal.
Dinda menutup buku sketsanya. Ia sudah bertemu banyak klien yang bingung. Tetapi Raka tidak terlihat bingung. Ia terlihat seperti orang yang tahu persis apa yang ia mau, hanya saja yang ia mau itu saling bertabrakan.
"Tenggatnya minggu ini, Mas?"
"Jumat depan paling lambat. Lebih cepat lebih baik."
"Kenapa Jumat depan?"
Raka sudah berbalik ke dapur. "Karena Sabtunya ada rapat keluarga."
Dari lantai atas terdengar suara langkah pelan, lalu suara perempuan tua memanggil, "Raka? Rotinya sudah keluar? Ibu cium baunya."
Wajah Raka berubah. Garis serius di dahinya melunak sekejap, lalu mengeras lagi.
"Sudah, Bu. Ibu tunggu di atas saja, nanti Raka antar."
Ia menoleh ke Dinda. "Saya kirim formulirnya siang ini. Terima kasih sudah datang, Mbak."
Itu jelas sebuah pengusiran yang sopan. Dinda membereskan tasnya. Di pintu, ia berhenti dan menoleh sekali lagi ke bingkai foto yang ditutup kain putih.
Kainnya bergeser sedikit tertiup angin dari pintu. Dari celahnya, Dinda melihat sudut sebuah foto lama: seorang perempuan muda berdiri di depan toko ini, tersenyum, memegang papan nama kayu yang catnya masih baru.
Di tangannya, ada gambar bunga kecil berkelopak lima.
Dinda pulang dengan perut kenyang roti sobek dan kepala penuh pertanyaan. Di lampu merah Tugu, ponselnya bergetar. Formulir brief dari Raka, jauh lebih cepat dari janjinya.
Semua kolom diisi pendek-pendek. Kecuali satu kolom terakhir, catatan tambahan, yang diisi satu kalimat:
"Tolong jangan tanya soal papan nama yang lama."