Episode 1 dari 2

Bolu Gulung untuk Bapak

Singgah Sebentar · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Setiap kali Rudi pulang ke Medan, Bapak selalu menjemputnya dengan angkot yang sama: angkot hijau trayek Amplas yang sudah dua puluh tahun ia kemudikan, catnya mengelupas di bagian pintu, dan stikernya bertuliskan "Doa Ibu" yang hurufnya tinggal separuh.

"Naik di depan," kata Bapak, tanpa menoleh. Itu sapaannya. Tidak ada pelukan, tidak ada "apa kabar". Bapak tidak pernah pandai dengan kata-kata semacam itu.

Rudi melempar ranselnya ke kursi belakang, lalu duduk di samping Bapak. Bau solar, minyak rambut, dan rokok kretek yang sudah lama dilarang Mamak bercampur jadi satu. Bau itu, entah kenapa, selalu membuat Rudi merasa umurnya mundur lima belas tahun.

"Masih narik, Pak?"

"Kalau tak narik, makan apa kita?"

Rudi diam. Gajinya di Jakarta sebenarnya cukup untuk membuat Bapak berhenti. Sudah tiga kali ia menawarkan, dan tiga kali pula Bapak menjawab dengan kalimat yang sama: "Bapak bukan orang yang bisa duduk saja di rumah."


Mamak sudah menunggu di depan rumah di Jalan Garu. Ia memeluk Rudi lama sekali, lalu menepuk-nepuk punggungnya seperti sedang memeriksa apakah anaknya masih utuh.

"Kurus kau. Makan apa di Jakarta? Angin?"

Di meja makan sudah tersedia arsik ikan mas, sayur daun ubi tumbuk, dan sambal andaliman yang membuat lidah bergetar. Bapak makan dengan cepat, seperti biasa, lalu kembali ke angkotnya karena ada penumpang langganan yang harus dijemput sore itu.

Setelah Bapak pergi, Mamak mengeluarkan sebuah kotak dari lemari. Kotak kardus bertuliskan nama toko bolu terkenal di Jalan Kruing.

"Ini dari bapakmu."

Rudi membuka kotak itu. Bolu gulung, masih rapi dalam plastiknya.

"Bapak beli bolu? Sejak kapan Bapak suka bolu?"

Mamak tersenyum, tapi matanya basah. "Bukan untuk dia. Untukmu. Setiap kali kau bilang mau pulang, dia antre di sana dari pagi. Kau tahu kan antreannya seperti apa kalau mau libur panjang?"

Rudi tahu. Waktu kecil, ia pernah ikut Mamak mengantre di sana dan menangis karena kakinya pegal.

Ia juga ingat bagaimana Bapak dulu mengantarnya ke sekolah dengan angkot yang sama, menurunkannya di depan gerbang sebelum penumpang lain naik, lalu berpura-pura tidak melihat ketika Rudi melambai. Teman-temannya punya bapak yang menyalami guru dan bertanya soal nilai. Bapak Rudi hanya membunyikan klakson dua kali, lalu pergi. Bertahun-tahun Rudi mengira itu tanda Bapak tidak peduli. Baru setelah dewasa ia tahu, klakson dua kali itu artinya Bapak menunggu sampai ia benar-benar masuk kelas, baru berani pergi menarik penumpang.

"Tapi dia tak pernah kasih langsung," lanjut Mamak. "Dia taruh di lemari, terus bilang ke Mamak, 'Kasih ke budak itu, bilang saja Mamak yang beli.' Sudah tiga tahun begitu."

Rudi memandangi bolu itu lama. Ia ingat, tiga tahun lalu, waktu pertama kali pulang setelah bekerja di Jakarta, ia pernah bilang dengan santai di telepon, "Di Jakarta tak ada bolu yang seenak bolu Medan." Hanya satu kalimat. Ia bahkan sudah lupa pernah mengatakannya.


Malamnya, Rudi tidak bisa tidur. Ia keluar ke teras dan mendapati Bapak sedang duduk di bangku kayu, memandangi angkotnya yang terparkir di depan rumah. Di tangannya ada segelas kopi.

"Belum tidur, Pak?"

"Mesin angkot itu bunyi aneh. Besok mau Bapak bawa ke bengkel Bang Tigor."

Rudi duduk di sebelahnya. Mereka diam cukup lama. Jangkrik berbunyi dari kebun tetangga.

"Pak," kata Rudi akhirnya, "terima kasih bolunya."

Bapak tidak menjawab. Ia menyeruput kopinya, lalu batuk kecil.

"Mamak yang beli."

"Mamak sudah cerita, Pak."

Bapak mendengus. "Mamakmu itu memang tak bisa simpan rahasia."

Rudi tertawa. Lalu, tanpa direncanakan, ia mengatakan sesuatu yang sudah lama ingin ia katakan.

"Pak, aku mau pindah kerja ke Medan."

Bapak menoleh untuk pertama kalinya malam itu. "Kenapa? Gaji di Jakarta kecil?"

"Bukan. Kantor buka cabang di sini. Aku yang minta dipindahkan."

"Kenapa?"

Rudi memikirkan jawaban yang tepat. Ada banyak alasan: macet Jakarta, kamar kos yang sempit, makanan yang tidak pernah terasa seperti rumah. Tapi alasan yang paling jujur adalah yang paling sulit diucapkan.

"Karena aku capek makan bolu tiap tiga bulan sekali, Pak. Aku mau makan bolu tiap minggu. Tapi Bapak tak usah antre lagi. Biar aku yang antre."

Bapak memandang lurus ke depan. Rahangnya mengeras, seperti sedang menahan sesuatu. Lalu ia berdiri, menepuk bahu Rudi dua kali, dan masuk ke rumah.

"Tidur," katanya dari balik pintu. "Besok temani Bapak ke bengkel."

Rudi duduk sendirian di teras setelah itu, memandangi angkot hijau di bawah lampu jalan. Dari dalam rumah, ia mendengar suara Bapak bicara pelan kepada Mamak, lalu suara Mamak tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak ia dengar. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi untuk pertama kalinya sejak tiba, ia merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.


Pagi harinya, Rudi bangun karena bunyi mesin angkot. Ia keluar dan melihat Bapak sudah duduk di balik kemudi, menunggu.

"Naik di depan," kata Bapak.

Rudi naik. Di dasbor, di samping tasbih dan foto Mamak waktu muda, ada sesuatu yang baru: selembar foto Rudi saat wisuda, diselipkan di bawah karet.

"Sejak kapan foto itu di situ, Pak?"

"Sejak kau wisuda," jawab Bapak. "Penumpang sering tanya siapa itu. Bapak bilang, itu anak Bapak. Kerja di Jakarta. Pintar dia."

Rudi menatap ke luar jendela supaya Bapak tidak melihat matanya. Angkot hijau itu berjalan pelan di Jalan Sisingamangaraja yang mulai ramai, melewati penjual lontong sayur, tukang becak motor, dan anak-anak sekolah berseragam putih biru.

"Pak, nanti kalau aku sudah pindah ke sini, Bapak masih mau narik?"

"Masih," kata Bapak. "Tapi mungkin cuma sampai sore. Sore Bapak mau jemput kau pulang kerja."

"Aku bisa naik ojek, Pak."

"Bapak tahu," jawab Bapak, lalu membunyikan klakson kepada seorang ibu yang melambai di pinggir jalan. "Tapi angkot Bapak masih kuat. Sayang kalau kursi depannya kosong."

Ibu itu naik di belakang. Bapak menginjak gas. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Rudi tidak merasa sedang pulang. Ia merasa sedang tinggal.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu