Telepon dari Hong Kong
Setiap Minggu pukul tujuh malam, Mbah Putri menyalakan lampu teras, menyapu lantai yang sudah bersih, dan menaruh ponsel di atas meja kayu dengan posisi berdiri, disandarkan ke toples kerupuk. Lalu ia duduk menunggu, tangannya meremas ujung kerudung, matanya tidak lepas dari layar.
Pukul tujuh lewat lima, ponsel itu berbunyi. Panggilan video. Wajah Ibu muncul, sedikit buram, dengan latar dinding putih dan rak sepatu dan kadang-kadang suara televisi berbahasa Kanton.
"Assalamualaikum, Mak! Dita mana?"
Dita, tujuh belas tahun, biasanya muncul di menit kelima, setelah berpura-pura sibuk mengerjakan PR. Ia sudah lupa sejak kapan ia mulai melakukannya. Mungkin sejak tahun ketiga ibunya bekerja di Hong Kong, ketika telepon Minggu malam mulai terasa seperti upacara bendera: wajib, berulang, dan selalu dengan kalimat yang sama.
Sudah makan? Sekolahmu bagaimana? Uang yang Ibu kirim cukup? Jaga Mbah, ya.
Enam tahun. Enam tahun Ibu merawat seorang nenek di apartemen kecil di Sha Tin, dan enam tahun Dita tumbuh dengan ibu yang tinggal di layar ponsel dua belas inci.
Malam itu, Dita muncul lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di sebelah Mbah Putri sebelum ponsel berbunyi, dan Mbah Putri meliriknya curiga.
"Tumben."
"Ada yang mau Dita omongin ke Ibu."
Ponsel berbunyi. Wajah Ibu muncul, lebih lelah dari biasanya, matanya cekung, rambutnya diikat asal. Di belakangnya, Dita bisa melihat sebuah koper terbuka di atas kasur.
"Assalamualaikum. Dita? Wah, sudah di depan kamera. Tumben."
"Ibu mau ke mana? Itu koper siapa?"
Ibu menoleh ke belakang, lalu tersenyum, senyum yang terlalu cepat. "Oh, itu. Majikan Ibu mau liburan ke Shenzhen, Ibu ikut jaga Nenek. Seminggu saja." Ia membenarkan letak ponselnya. "Mak, Dita, Ibu mau kasih kabar. Kontrak Ibu diperpanjang lagi. Dua tahun. Majikannya baik, gajinya naik sedikit. Uang kuliah Dita nanti aman."
Mbah Putri mengangguk-angguk, mengucap alhamdulillah pelan. Tapi Dita melihat tangan neneknya meremas ujung kerudung lebih keras.
Dua tahun lagi. Berarti delapan tahun. Berarti Dita akan lulus SMA, masuk kuliah, mungkin lulus kuliah, dan ibunya masih ada di layar dua belas inci.
"Bu," kata Dita. "Jangan diperpanjang."
Di layar, wajah Ibu membeku. Sinyal, pikir Dita sebentar. Tapi bukan. Ibunya hanya diam.
"Dita, kuliahmu..."
"Dita sudah diterima di Universitas Negeri Malang. Jalur prestasi. Beasiswa penuh. Pengumumannya kemarin." Dita mengangkat ponselnya sendiri dan menunjukkan layar surat penerimaan ke kamera. Tangannya gemetar sedikit. "Uang kuliahnya ditanggung. Uang hidupnya juga, sebagian."
Ibu mendekatkan wajahnya ke layar, menyipitkan mata, membaca. Mbah Putri menutup mulut dengan kedua tangan.
"Kenapa tidak bilang Ibu dari kemarin?"
"Dita mau bilang langsung. Bukan lewat chat."
Ibu menangis. Bukan tangis kecil yang biasa ia sembunyikan dengan pura-pura membenarkan ponsel. Tangis yang membuat bahunya berguncang, yang membuatnya harus meletakkan ponsel di kasur sehingga yang terlihat hanya langit-langit kamar dan sebuah lampu neon.
Mbah Putri ikut menangis. Dita tidak, karena ia masih punya satu hal lagi untuk dikatakan, dan ia sudah berlatih kalimat ini di depan cermin selama tiga hari.
"Bu. Ada lagi."
Wajah Ibu kembali ke layar, basah dan merah.
"Dita sudah setahun jualan es kopi susu di depan sekolah. Sama Rani. Pakai gerobak yang kami cat sendiri." Ia mengambil buku tulis bergaris dari bawah meja, buku yang sudah lecek di sudutnya. "Ini catatannya. Modal dari uang jajan, Bu, bukan uang kiriman Ibu. Dita ikuti cara di ebook gratis yang Dita baca. Hitung modal, hitung harga, catat semua."
Ia membuka halaman terakhir dan menunjukkan angkanya ke kamera.
"Tabungan Dita sekarang segini. Cukup buat beli tiket pesawat Ibu pulang. Sekali jalan."
Hening. Lama sekali. Televisi berbahasa Kanton di belakang Ibu terdengar sangat jelas.
"Ibu tidak usah perpanjang kontrak, Bu. Pulang saja. Dita kuliah di Malang, cuma dua jam dari sini. Mbah sudah tujuh puluh tahun, kakinya sering kesemutan. Dita tidak bisa jaga Mbah sambil kuliah." Suaranya mulai retak, dan ia benci itu. "Dita tidak minta Ibu berhenti kerja. Ibu bisa kerja di sini. Bikin kue, jahit, apa saja. Dita bantu. Dita cuma minta Ibu pulang."
Ibu tidak menjawab malam itu. Ia hanya bilang, "Ibu pikir dulu, Nak," dengan suara serak, lalu panggilan terputus karena majikannya memanggil dari kamar sebelah.
Mbah Putri memeluk Dita lama di teras, di bawah lampu kuning yang dikerubungi laron. "Kamu berani sekali," bisiknya. "Mbah tidak pernah berani bilang begitu ke ibumu."
"Mbah juga mau Ibu pulang, kan?"
Mbah Putri tidak menjawab. Tapi pelukannya makin erat.
Minggu berikutnya, pukul tujuh malam, Mbah Putri menyalakan lampu teras dan menyapu lantai seperti biasa. Dita duduk di sebelahnya sejak pukul enam lewat lima puluh.
Pukul tujuh lewat lima, ponsel berbunyi. Bukan panggilan video. Pesan suara.
Dita menekan tombol putar, dan suara Ibu memenuhi teras, sedikit tertutup bunyi bandara.
"Mak, Dita. Ibu sudah bicara sama majikan. Kontraknya tidak Ibu perpanjang. Ibu pulang bulan depan, tanggal dua belas. Tiketnya..." Suara Ibu terhenti, ada tawa kecil yang pecah jadi isak. "Tiketnya Ibu beli sendiri, Nak. Tabunganmu jangan dipakai. Pakai buat gerobak kedua. Ibu mau ikut jualan."
Mbah Putri menjatuhkan sapu.
Dita memutar pesan suara itu sebelas kali malam itu. Pada putaran kedua belas, ia berhenti, mengambil buku tulis bergaris yang lecek, membuka halaman baru, dan menulis dengan huruf besar-besar di bagian paling atas:
Rencana gerobak kedua. Penanggung jawab: Ibu.