Keuangan & Pajak

Cara Menghitung HPP Produk Makanan (Rumus dan Contoh Nastar)

Laris tapi uang tidak pernah terkumpul? Biasanya HPP belum dihitung lengkap. Ini rumus HPP produk makanan beserta contoh hitungan nastar per toples dan harga jualnya.

BukuPraktis · 20 Oktober 2026 · 6 menit baca

Banyak usaha makanan rumahan terlihat laris, tetapi uangnya tidak pernah terkumpul. Pesanan terus datang, dapur sibuk, namun saat akhir bulan kamu bingung ke mana larinya untung. Penyebab paling umum: harga jual ditentukan dari harga bahan saja, lalu "ditambah sedikit". Kemasan, gas, tenaga sendiri, dan alat yang lama-lama rusak tidak ikut dihitung. Di sinilah HPP (harga pokok produksi) berperan: total biaya untuk membuat satu produk sampai siap dijual.

Rumus HPP yang sederhana

Untuk usaha rumahan, rumus ini sudah cukup:

HPP per unit = (bahan baku + kemasan + biaya produksi lain + tenaga kerja + penyusutan alat) ÷ jumlah produk jadi

Hitung per satu kali produksi (satu adonan atau satu batch), lalu bagi dengan jumlah produk yang benar-benar jadi dan layak jual. Produk gagal atau yang dicicipi tidak ikut dibagi, tetapi biayanya tetap ikut ditanggung produk yang berhasil.

Contoh: nastar 10 toples

Misalnya satu adonan nastar menghasilkan 10 toples isi 250 gram.

Komponen Rincian Biaya
Tepung terigu 1 kg Rp14.000
Mentega/margarin 500 g Rp32.000
Gula halus 250 g Rp6.000
Telur 6 butir Rp12.000
Selai nanas 1 kg Rp45.000
Susu bubuk 100 g Rp8.000
Total bahan baku Rp117.000
Kemasan toples, stiker, pita: Rp7.500 x 10 Rp75.000
Gas dan listrik per adonan Rp15.000
Tenaga kerja 5 jam x Rp15.000 Rp75.000
Penyusutan oven Rp1.500.000 ÷ 300 kali pakai Rp5.000
Total biaya produksi Rp287.000

HPP per toples = Rp287.000 ÷ 10 = Rp28.700.

Kalau tadinya harga hanya dihitung dari bahan (Rp117.000 ÷ 10 = Rp11.700), selisihnya Rp17.000 per toples. Selisih inilah yang diam-diam "dimakan" usaha setiap kali kamu menjual.

Upah untuk dirimu sendiri wajib masuk HPP. Kalau tidak, usaha terlihat untung padahal kamu sedang bekerja gratis.

Dari HPP ke harga jual: markup atau margin?

Dua cara ini sering tertukar.

  • Markup dihitung dari HPP. Markup 50%: Rp28.700 x 1,5 = Rp43.050, dibulatkan menjadi Rp45.000.
  • Margin dihitung dari harga jual. Dengan harga Rp45.000, margin = (Rp45.000 − Rp28.700) ÷ Rp45.000 = sekitar 36%.

Kalau kamu ingin margin 40%, rumusnya: harga jual = HPP ÷ (1 − 0,4) = Rp28.700 ÷ 0,6 = Rp47.833, dibulatkan menjadi Rp48.000.

Target Rumus Harga (dibulatkan)
Markup 50% HPP x 1,5 Rp45.000
Margin 40% HPP ÷ 0,6 Rp48.000

Margin lebih jujur dipakai untuk melihat untung, karena potongan seperti diskon atau biaya marketplace juga dihitung dari harga jual. Kamu bisa mencoba angka usahamu di kalkulator HPP dan harga jual gratis di BukuPraktis.

Ingin lebih dalam? Artikel ini baru membahas sebagian kecil. Di ebook Hitung Modal & Harga Jual yang Untung, kamu akan mempelajari lebih jauh:

  • Menghitung harga pokok lengkap, termasuk susut, kemasan, gas, dan ongkos belanja yang sering terlupa
  • Membedakan modal alat, modal putar, dan biaya tetap bulanan termasuk penyusutan alat
  • Beda markup dan margin, harga pasar, dan laba per jam kerja

Ebook ini gratis, cukup masuk ke akunmu untuk membacanya. Lihat isi bukunya.

Skenario: apa yang terjadi kalau angkanya berubah?

HPP bukan angka sekali hitung. Lihat tiga skenario dari contoh nastar tadi, dengan harga jual tetap Rp48.000.

Skenario HPP per toples Untung per toples Margin
Kondisi awal Rp28.700 Rp19.300 sekitar 40%
Harga mentega naik jadi Rp72.000/kg Rp29.100 Rp18.900 sekitar 39%
Hanya 9 toples layak jual (1 gagal) Rp31.889 Rp16.111 sekitar 34%

Penjelasannya. Mentega 500 gram naik dari Rp32.000 menjadi Rp36.000, jadi total biaya naik Rp4.000 menjadi Rp291.000 dan HPP menjadi Rp29.100. Pada skenario ketiga, biaya Rp287.000 dibagi 9 menghasilkan Rp31.889. Satu toples gagal saja menggerus margin sekitar 6 poin persen, itu sebabnya mengendalikan susut dan kegagalan penting.

Sekarang tambahkan potongan penjualan. Misalkan marketplace memotong 10% dari harga jual. Dari Rp48.000 kamu menerima Rp43.200. Dikurangi HPP Rp28.700, untungnya Rp14.500 per toples, atau sekitar 30% dari harga jual. Kalau kamu tidak memperhitungkan potongan ini sejak awal, untung 40% yang kamu kira ternyata tinggal 30%.

Biaya yang paling sering terlupa

  1. Kemasan lengkap: bukan hanya toples, tetapi juga stiker, pita, kertas minyak, dan kantong.
  2. Gas, listrik, dan air: kecil per adonan, tetapi besar dalam sebulan.
  3. Bahan yang susut: mentega yang menempel di wadah atau selai yang tersisa. Tambahkan cadangan 3 sampai 5% dari biaya bahan bila sering terjadi.
  4. Potongan penjualan: biaya marketplace, ongkos kirim yang ditanggung penjual, atau diskon. Biaya ini tidak masuk HPP, tetapi harus tertutup oleh margin.
  5. Kenaikan harga bahan: hitung ulang HPP setiap kali harga bahan utama naik.
  6. Biaya belanja: ongkos transportasi ke pasar atau ongkir bahan yang dipesan online.

Langkah praktis menghitung HPP sendiri

  1. Tulis resep satu adonan lengkap dengan beratnya.
  2. Cari harga per gram atau per butir dari struk belanja terakhir.
  3. Hitung biaya bahan per adonan.
  4. Tambahkan kemasan, energi, tenaga, dan penyusutan alat.
  5. Bagi dengan jumlah produk jadi.
  6. Tentukan harga dengan target margin, lalu bandingkan dengan harga pesaing.

Supaya tidak menghitung dari nol setiap kali, buat satu lembar sederhana di buku tulis atau spreadsheet dengan susunan ini:

Bagian Isi yang dicatat
Resep per adonan Nama bahan, berat yang dipakai, harga beli, isi kemasan beli
Biaya per bahan Harga beli ÷ isi kemasan x berat yang dipakai
Biaya lain Kemasan per unit, gas/listrik per adonan, upah per jam, penyusutan alat
Hasil Jumlah produk jadi, HPP per unit, harga jual, margin

Contoh biaya per bahan: mentega dibeli Rp64.000 per kilogram, dipakai 500 gram. Biayanya Rp64.000 ÷ 1.000 g x 500 g = Rp32.000, sama dengan angka di tabel nastar. Dengan lembar seperti ini, saat harga mentega naik kamu cukup mengganti satu angka, lalu HPP dan margin langsung terlihat berubah.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menghitung dari resep, bukan dari hasil nyata. Resep tertulis 10 toples, padahal yang layak jual sering 9.
  • Mencampur markup dan margin. Markup 50% tidak sama dengan margin 50%.
  • Memakai harga bahan lama. Perbarui harga dari struk terbaru.
  • Menyamakan harga dengan pesaing tanpa menghitung sendiri. Pesaing mungkin punya biaya yang lebih rendah, atau justru sedang rugi.
  • Tidak menggaji diri sendiri. Usaha tampak sehat, padahal waktumu tidak dibayar.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah HPP sama dengan modal? Tidak. HPP adalah biaya membuat satu produk. Modal mencakup semua uang yang kamu siapkan untuk usaha, termasuk membeli oven, stok awal, dan biaya promosi.

Berapa margin yang wajar untuk makanan rumahan? Tidak ada angka baku. Banyak usaha makanan rumahan menargetkan margin 30 sampai 50% agar masih untung setelah diskon, ongkos kirim, dan bahan yang gagal. Sesuaikan dengan kondisi pasarmu.

Seberapa sering HPP perlu dihitung ulang? Setiap kali harga bahan utama berubah, resep diubah, atau ukuran kemasan diganti. Mencatat harga bahan sebulan sekali sudah membantu.

Kalau artikel ini membantu, langkah berikutnya ada di ebook Hitung Modal & Harga Jual yang Untung.

Mau lebih lengkap?

Pelajari sampai tuntas di “Hitung Modal & Harga Jual yang Untung”

Ebook gratis untuk kamu yang sudah berjualan tetapi belum yakin sebenarnya untung atau tidak. Banyak usaha kecil laris tetapi rugi diam-diam karena harga ditentukan dengan perkiraa...

Cukup masuk akun, tanpa bayar

Ebook gratis untukmu

Baca juga

Artikel lainnya

Semua artikel