Episode 1 dari 1

Bangku Barisan Kedua

Bangku Barisan Kedua · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Aku duduk di bangku barisan kedua, dekat jendela yang menghadap lapangan basket. Dari situ aku bisa melihat semuanya: papan tulis, meja guru, dan wajah setiap orang yang maju ke depan kelas.

Itu sebabnya aku melihat wajah Yohana setiap kali ia membaca.

Yohana pindah ke kelas kami di bulan Agustus, dari sebuah SMA di Pulau Rote. Ayahnya pegawai pelabuhan yang dipindahtugaskan ke Kupang. Ia bertubuh kecil, berkulit gelap karena matahari pantai, dengan rambut keriting yang selalu diikat rapi dengan karet gelang merah. Hari pertama, Ibu Martha, wali kelas kami, memintanya memperkenalkan diri.

"Nama saya Yohana Ndun," katanya. "Dari Rote Ndao. Beta suka baca buku dan..."

Di barisan belakang, seseorang menirukan logatnya. "Betaaa suka baca buku." Panjang, diayun-ayun, dibuat-buat. Sebagian kelas tertawa.

Aku juga tertawa.

Bukan karena lucu. Logat Yohana tidak lucu. Separuh dari kami juga memakai kata "beta" di rumah. Aku tertawa karena Dion, yang menirukan, adalah anak paling disegani di kelas. Ayahnya pejabat di kantor gubernur, dan ia punya kebiasaan memilih satu orang setiap semester untuk dijadikan bahan lelucon. Semester lalu, korbannya Yosef, yang akhirnya pindah sekolah. Semester ini, aku takut korbannya aku. Tertawa bersama Dion adalah cara paling aman untuk tidak menjadi bahan tertawaan.

Yohana tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum kecil dan kembali ke bangkunya di barisan paling depan.

Sejak hari itu, setiap kali Yohana bicara di kelas, entah membaca, menjawab soal, atau presentasi, Dion dan teman-temannya menirukan logatnya dari belakang. Kadang keras, kadang berbisik. Kadang dengan suara burung kakatua. Ibu Martha pernah menegur, tapi Dion selalu pura-pura sedang batuk.

Yohana tidak pernah membalas. Ia membaca dengan suara yang makin lama makin kecil, sampai di bulan Oktober, guru-guru mulai memintanya membaca lebih keras, dan ia hanya mengangguk tanpa mengubah apa pun.

Aku melihat semuanya dari bangku barisan kedua. Aku melihat tangannya meremas ujung buku setiap kali suara dari belakang terdengar. Aku melihatnya makan siang sendirian di bawah pohon kesambi di dekat kantin. Aku melihatnya pulang lebih cepat dari siapa pun, berjalan cepat ke halte bemo dengan kepala tertunduk.

Dan aku tidak melakukan apa-apa.

Suatu Senin, Ibu Martha memberi tugas yang aneh. "Tulis surat untuk dirimu sendiri, sepuluh tahun dari sekarang. Ceritakan satu hal yang kamu banggakan dari dirimu sekarang, dan satu hal yang kamu sesali. Jujur. Hanya saya yang membaca."

Aku menulis bagian yang membanggakan dengan mudah: aku masuk tim basket sekolah. Lalu aku sampai di bagian penyesalan, dan penaku berhenti.

Aku duduk menatap kertas itu sampai bel pulang berbunyi. Di rumah, aku menatapnya lagi sampai tengah malam. Setiap kali aku mencoba menulis sesuatu yang lain, misalnya nilai matematika yang jelek atau membentak adikku, kalimatnya terasa bohong. Yang terus muncul di kepalaku hanya satu gambar: tangan Yohana yang meremas ujung buku, dan suaraku sendiri yang ikut tertawa.

Akhirnya aku menulisnya. Satu halaman penuh. Tentang bagaimana aku tertawa supaya tidak ditertawakan. Tentang bagaimana aku memilih aman. Tentang bagaimana aku, yang duduk di bangku barisan kedua, sebenarnya yang paling jelas melihat semuanya, dan memilih untuk berpura-pura tidak melihat.

Aku mengumpulkan surat itu hari Rabu, dalam amplop tertutup.

Hari Jumat, Ibu Martha memintaku tinggal sebentar setelah pelajaran. Kupikir aku akan dimarahi. Ternyata ia hanya meletakkan suratku di meja, belum dibuka amplopnya kembali, dan memandangku lama.

"Saya sudah baca," katanya. "Terima kasih sudah jujur. Saya tidak akan memberi tahu siapa pun isinya."

Aku mengangguk, malu.

"Tapi saya mau bertanya satu hal," lanjutnya. "Surat ini untuk dirimu sepuluh tahun lagi. Menurutmu, apa yang ingin dia dengar darimu? Bahwa kamu menyesal? Atau bahwa kamu berhenti?"

Aku tidak menjawab. Ia tidak memaksa.

Senin berikutnya, pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu Martha meminta Yohana membacakan puisi karangannya sendiri di depan kelas. Yohana berdiri dengan ragu, membawa selembar kertas, dan berjalan ke depan.

"Judulnya Lontar," katanya pelan.

Di belakang, Dion sudah menyiapkan wajah. Teman-temannya menahan tawa.

Yohana mulai membaca. Puisinya tentang pohon lontar di Rote, tentang ibunya yang menyadap nira di pagi buta, tentang gula lempeng yang dijual ke pasar, tentang laut yang selalu terdengar dari jendela kamarnya. Ia membaca dengan logatnya, karena memang begitulah ia bicara, dan kata "beta" muncul di baris ketiga.

"Betaaa," suara Dion terdengar dari belakang, diayun-ayun, diikuti tawa kecil.

Yohana berhenti. Tangannya meremas kertas.

Dan aku, entah kenapa, berdiri.

Aku tidak merencanakannya. Kakiku bergerak sendiri, seperti saat melompat merebut bola rebound. Kursiku bergeser dengan bunyi keras di lantai. Seluruh kelas menoleh.

"Dion," kataku. Suaraku bergetar, lebih keras dari yang kuinginkan. "Berhenti."

Kelas sunyi. Dion menatapku dengan heran, lalu dengan senyum miring. "Kenapa, Kris? Kamu juga suka ketawa, kan?"

"Iya," kataku. Jujur, karena sudah terlanjur jujur di surat itu. "Aku juga ketawa. Selama tiga bulan. Itu salahku. Tapi aku berhenti hari ini. Dan kamu juga."

Hening yang panjang. Aku bisa mendengar suara bola basket memantul dari lapangan di luar jendela.

Lalu, dari barisan tengah, Maria, ketua kelas, berdiri. "Kris benar," katanya. Kemudian Yeremias, yang biasanya hanya tidur. Kemudian dua anak perempuan di dekat pintu. Mereka tidak bilang apa-apa, hanya berdiri.

Dion memandang sekeliling. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia terlihat tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengangkat bahu, berpura-pura tidak peduli, dan menunduk ke ponselnya.

Ibu Martha, yang sejak tadi diam di meja guru, berdeham. "Yohana," katanya lembut. "Silakan lanjutkan dari awal."

Yohana menatap kami yang berdiri. Lalu ia membaca puisinya dari awal. Suaranya masih pelan di bait pertama, lalu menguat di bait kedua. Saat sampai di kata "beta", ia membacanya dengan jelas, tidak ragu, seperti meletakkan sesuatu yang berharga di atas meja.

Kali ini tidak ada yang tertawa.

Saat ia selesai, Ibu Martha bertepuk tangan lebih dulu. Kami menyusul. Aku masih berdiri, dan baru sadar lututku gemetar.

Istirahat siang itu, aku berjalan ke pohon kesambi di dekat kantin. Yohana duduk di sana dengan bekal nasi jagung dan sepotong ikan kuah asam.

"Boleh duduk?" tanyaku.

Ia menggeser sedikit. Kami makan dalam diam beberapa saat.

"Terima kasih," katanya akhirnya.

"Jangan," kataku. "Aku ikut tertawa tiga bulan. Aku tidak pantas dapat terima kasih."

Yohana menatap lapangan basket, lalu menatapku. "Tiga bulan kau tertawa. Tapi tadi kau berdiri. Beta pilih ingat yang tadi."

Malam itu aku menulis surat kedua untuk diriku sepuluh tahun lagi. Bukan untuk Ibu Martha. Untukku sendiri. Isinya pendek.

"Hari ini aku berhenti. Semoga kamu tidak pernah mulai lagi."

Aku menyimpannya di laci meja belajar, di bawah piala basket pertamaku.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu