Episode 1 dari 1

Nasi Goreng Lagi

Bekal dari Bapak · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Grace membuka kotak bekalnya di jam istirahat pertama dan langsung menutupnya lagi.

Nasi goreng. Lagi. Sudah dua minggu, setiap hari, nasi goreng dengan telur mata sapi yang pinggirnya gosong dan kuningnya pecah. Kadang ditambah sosis yang dipotong miring, kadang tidak. Hari ini tidak.

"Bekalmu apa, Grace?" tanya Tiur, teman sebangkunya, yang sedang membuka kotak bekal bersusun tiga berisi nasi, ayam goreng kunyit, dan potongan semangka.

"Nasi goreng," jawab Grace pelan.

"Lagi?"

Grace tidak menjawab. Ia memasukkan kotak bekal itu kembali ke tas dan pura-pura membaca buku cerita. Perutnya berbunyi, tapi ia lebih memilih lapar daripada makan nasi goreng gosong di depan Tiur.


Bapak menjemputnya pukul satu siang di gerbang sekolah, dengan motor tua yang knalpotnya berisik dan jaket jins yang lengannya penuh benang. Bapak penjahit di sebuah kios kecil di Pasar Petisah, Medan, dan benang-benang itu selalu menempel di mana-mana: di rambut, di kerah, bahkan pernah sekali di bulu matanya.

"Bekalmu habis?" tanya Bapak, seperti setiap hari.

"Habis," bohong Grace, seperti setiap hari.

Di rumah, Grace membuang nasi goreng itu ke tempat sampah di belakang sebelum Bapak masuk. Ia sudah melakukannya empat kali minggu ini. Setiap kali, ada rasa bersalah yang menggigit, tapi rasa malu di depan Tiur lebih besar.

Bapak tidak tahu. Bapak sibuk. Sejak Mama meninggal tujuh bulan lalu, Bapak selalu sibuk: bangun subuh, memasak dengan wajan yang terlalu panas, mengantar Grace, menjahit sampai sore, menjemput, menjahit lagi di rumah sampai malam dengan mesin jahit Mama yang dulu Mama pakai untuk menjahit baju-baju Grace.

Grace tidak pernah melihat Bapak menangis. Bapak hanya menjadi lebih sibuk.

Dulu, bekal Grace selalu yang paling ditunggu di kelas. Mama memasukkan nasi dengan cetakan berbentuk bintang, ayam goreng berbumbu kunyit yang renyah di pinggir, dan kadang mi gomak dengan kuah kental berwarna kuning yang wanginya bikin teman-teman berkerumun. Setiap Jumat ada kue lapis legit potongan kecil, sisa pesanan tetangga. Mama tidak pernah menulis surat di bekal Grace. Mama tidak perlu. Bekalnya sendiri sudah seperti surat.

Sekarang bekalnya nasi goreng gosong, dan Grace tidak tahu cara bilang ke Bapak tanpa membuatnya sedih.


Malam itu, Grace terbangun karena haus. Lampu dapur menyala. Ia mengintip dari balik pintu.

Bapak duduk di kursi plastik, di depan kompor yang mati, dengan sebuah buku tulis bersampul plastik ungu terbuka di pangkuannya. Grace mengenali buku itu. Buku resep Mama. Mama selalu menulis di situ dengan pulpen bertinta ungu, karena katanya warna ungu membuat resep jadi lebih enak.

Bapak membaca halaman itu dengan dahi berkerut, bibirnya bergerak tanpa suara. Ia menunjuk sebuah baris dengan jarinya, lalu memandang bumbu-bumbu di rak dapur, lalu kembali ke buku. Lalu ia menutup buku itu, menutup mukanya dengan kedua tangan, dan diam lama sekali.

Grace mundur pelan-pelan ke kamarnya. Ia tidak jadi minum. Di kasur, ia menarik selimut sampai ke dagu dan mendengarkan bunyi kursi plastik di dapur yang tidak bergerak-gerak lagi sampai lama sekali.


Keesokan harinya, bekalnya nasi goreng lagi. Tapi kali ini, di sudut kotak, ada sepotong kecil ayam goreng yang gosong separuh, dan secarik kertas yang dilipat dua.

Maaf ayamnya gosong. Bapak sedang belajar. Bapak.

Tulisan Bapak besar-besar dan miring, seperti tulisan anak SD. Grace memandanginya lama.

"Apa itu?" tanya Tiur, mengintip.

Grace cepat-cepat melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. "Bukan apa-apa."

Tapi ia memakan bekalnya hari itu. Semuanya, termasuk ayam yang gosong. Rasanya pahit di bagian gosong dan asin di bagian lain, dan ia makan pelan-pelan sambil memunggungi Tiur.


Hari berikutnya, nasi goreng lagi, dengan tahu goreng yang hancur. Kertasnya bilang: Tahunya pecah waktu dibalik. Besok Bapak coba api kecil.

Hari berikutnya lagi, nasi goreng dengan sayur bayam yang terlalu lembek. Bapak lupa waktu. Bayam cuma sebentar, kata Mama di buku. Bapak baru baca sesudahnya.

Grace mulai menyimpan kertas-kertas itu di kotak pensilnya. Ia tidak membuang bekalnya lagi.

Tapi Tiur mulai memperhatikan.

"Kenapa kau makan sembunyi-sembunyi?" tanya Tiur suatu hari. "Bekalmu jelek, ya?"

Grace merasakan wajahnya panas. "Bukan urusanmu."

"Mamaku bilang, kalau bekal jelek, harusnya bilang ke mama, biar dibikinin yang enak." Tiur mengunyah ayam kunyitnya. "Kau bilang saja ke mamamu."

Kelas mendadak terasa sangat sunyi, meskipun di sekeliling mereka anak-anak lain masih ribut. Tiur baru pindah dua bulan lalu. Tiur tidak tahu.

Grace berdiri, membawa kotak bekalnya, dan berjalan keluar kelas tanpa bicara. Ia duduk di tangga dekat perpustakaan, membuka kotak itu, dan memandangi nasi goreng dengan telur yang kali ini tidak gosong, kuningnya bulat utuh, sempurna untuk pertama kalinya.

Di bawah telur ada kertas lagi.

Telurnya berhasil! Mama bilang rahasianya: minyak jangan terlalu panas, tutup wajannya sebentar. Bapak senang sekali. Semoga kau juga.

Grace menangis di tangga perpustakaan, diam-diam, dengan sendok di tangan. Ia tidak tahu apakah ia menangis karena Tiur, atau karena Mama, atau karena telur yang akhirnya berhasil, atau karena Bapak menulis Bapak senang sekali seperti anak kecil yang baru dapat nilai seratus.

Ketika bel masuk berbunyi, ia mengelap matanya, menghabiskan telurnya, dan memutuskan sesuatu.

Malam ini, ia akan masuk ke dapur waktu Bapak membaca buku resep Mama. Dan ia tidak akan mundur lagi ke kamar.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu