Episode 1 dari 4

Kunci yang Ditinggalkan Kakek

Kedai Kopi di Ujung Gang · 06 Okt 2026 · 4 menit baca

Gang itu lebih sempit dari yang Laras ingat. Dulu, waktu kecil, ia bisa berlari di tengahnya sambil membawa layangan tanpa menyenggol apa pun. Sekarang koper beroda yang ia seret terus membentur pot-pot tanaman di depan rumah warga.

"Neng Laras? Ya Allah, sudah besar!"

Bu Ratmi, tetangga sebelah kedai, keluar sambil mengelap tangan di daster. Rambutnya sudah memutih, tapi suaranya masih sama nyaringnya.

"Turut berduka ya, Neng. Pak Darto itu orang baik. Sampai minggu terakhir pun masih buka kedai, padahal sudah batuk-batuk."

Laras hanya mengangguk. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya setiap kali nama kakeknya disebut. Ia terakhir pulang dua tahun lalu, waktu Lebaran, dan itu pun hanya sehari karena besoknya harus kembali ke Jakarta untuk rapat yang sekarang bahkan tidak ia ingat isinya.

Bu Ratmi menyerahkan sebuah kunci kuningan dengan gantungan kayu berbentuk cangkir. "Bapak titip ke Ibu. Katanya, kalau Laras pulang, kasih ini. Jangan ke pengacara, jangan ke siapa-siapa. Ke Laras."


Pintu kedai berderit panjang saat dibuka. Bau kopi lama, debu, dan kayu lembap menyambutnya sekaligus.

Kedai itu tidak besar. Empat meja kayu, satu bangku panjang di dekat jendela, dan meja bar dengan toples-toples kaca berisi biji kopi yang sudah tidak lagi berkilau. Di dinding, foto-foto pelanggan terpasang miring: orang-orang yang tertawa sambil memegang cangkir, beberapa di antaranya Laras kenali samar-samar dari masa kecilnya.

Di meja kasir tertumpuk amplop. Tagihan listrik. Tagihan air. Dan selembar surat dari pemilik bangunan: sewa tiga bulan belum dibayar. Mohon segera diselesaikan sebelum akhir bulan.

Laras duduk di bangku bar dan menatap surat itu lama sekali.

Tabungannya cukup untuk hidup beberapa bulan, tidak lebih. Rencananya sederhana: membereskan kedai, menjual peralatan yang masih layak, menyerahkan kunci ke pemilik bangunan, lalu mencari pekerjaan baru. Mungkin di Bandung, mungkin kembali ke Jakarta. Yang jelas, bukan di sini.

Ia membuka laci kasir untuk mencari buku pembukuan. Yang ia temukan justru sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat, tebal, dan ujung-ujungnya sudah melengkung karena sering dibuka.

Di halaman pertama, tulisan tangan kakeknya yang miring ke kanan:

Kedai ini bukan tentang kopi. Kopi hanya alasan orang datang. Yang membuat mereka kembali adalah merasa diingat.

Laras membalik halaman. Isinya bukan angka, melainkan nama-nama.

Bu Wulan. Kopi susu, gula setengah. Senin & Rabu, sebelum mengajar. Tanyakan kabar muridnya yang ikut lomba.

Mas Adit dan Mbak Rara. Dua es kopi, satu tanpa es batu (Rara gampang batuk). Sabtu malam. Mereka sedang menabung untuk menikah, jangan tawari kue mahal.

Dika. Cokelat panas. Datang kalau sedang dimarahi bapaknya. Biarkan dia duduk di bangku jendela, jangan disuruh pulang.

Halaman demi halaman, puluhan nama. Ada yang dicoret dengan keterangan kecil, pindah ke Surabaya, sudah meninggal, Al-Fatihah, menikah, sekarang datang bertiga!

Laras tertawa kecil tanpa sadar, lalu matanya panas.

Di halaman terakhir yang terisi, tinta pulpennya lebih tebal, seolah ditulis dengan menekan:

Pak Hadi. Kopi tubruk, tanpa gula. Setiap Kamis, jam tujuh pagi, meja dekat jendela. Jangan pernah tanya soal anaknya. Tunggu sampai dia sendiri yang cerita.

Di bawahnya, satu kalimat lagi, lebih kecil:

Kalau aku sudah tidak ada, siapa yang membukakan pintu untuknya hari Kamis?


Laras menutup buku itu dan melihat kalender di dinding. Kalender toko bangunan, masih menunjukkan bulan lalu. Ia menghitung dengan jarinya.

Besok hari Kamis.

Malam itu ia tidur di kamar kecil di belakang kedai, di kasur tipis yang dulu dipakai kakeknya untuk tidur siang. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membuka kedai besok. Tidak ada kopi segar, tidak ada susu, dan ia bahkan tidak tahu cara menyalakan mesin giling tua itu.

Tapi pukul enam pagi, ia sudah terbangun dan menyapu lantai.

Pukul setengah tujuh, ia membuka jendela dan membiarkan udara dingin Bandung masuk.

Dan tepat pukul tujuh, seseorang mengetuk pintu kedai tiga kali. Pelan, berjarak, seperti orang yang sudah melakukannya ratusan kali.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu