Kopi Tubruk Tanpa Gula
Laki-laki di depan pintu itu berumur sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya kurus, jaket parasutnya kebesaran, dan di tangannya ada koran yang dilipat rapi. Ia menatap Laras sebentar, lalu melirik ke dalam kedai seperti mencari seseorang.
"Pak Darto…"
"Kakek saya sudah meninggal, Pak. Tiga minggu lalu." Laras menelan ludah. "Saya cucunya. Laras."
Laki-laki itu diam cukup lama. Lalu ia mengangguk pelan, sekali, seakan menerima kabar yang sebenarnya sudah ia duga.
"Hadi," katanya. "Saya pulang saja, Neng. Kedainya pasti belum buka."
"Buka, Pak," jawab Laras, lebih cepat dari yang ia rencanakan. "Silakan. Meja dekat jendela, kan?"
Pak Hadi menatapnya dengan heran, lalu masuk dan duduk di tempat yang Laras sebutkan.
Masalahnya, Laras belum pernah membuat kopi tubruk.
Ia menemukan sisa biji kopi di toples paling belakang, menggilingnya dengan penggiling manual karena mesin listriknya tidak mau menyala, lalu menyeduhnya dengan air dari teko yang mendidih terlalu lama. Hasilnya pahit, berampas tebal, dan baunya agak gosong.
Ia menyajikannya dengan tangan sedikit gemetar.
Pak Hadi menyesap sekali. Wajahnya tidak berubah. Ia menyesap lagi, lalu meletakkan cangkir.
"Airnya terlalu panas," katanya datar. "Darto selalu menunggu sebentar setelah mendidih. Kira-kira sampai kamu selesai menghitung sampai tiga puluh."
"Maaf, Pak. Saya buatkan lagi."
"Tidak usah." Pak Hadi berdiri, dan untuk sesaat Laras mengira ia akan pergi. Tapi laki-laki itu justru berjalan ke balik meja bar. "Sini. Saya tunjukkan."
Tangannya yang berurat bergerak dengan yakin. Ia menakar kopi dengan sendok kecil yang tergantung di dinding, sendok yang Laras kira hanya hiasan. Ia menuang air setelah menghitung dalam hati, mengaduk tiga kali, lalu menutup cangkir dengan tatakan.
"Biarkan ampasnya turun. Jangan buru-buru." Ia menatap Laras. "Darto selalu bilang begitu. Untuk kopi, dan untuk orang."
Mereka duduk berhadapan di meja jendela, menunggu ampas kopi turun. Di luar, gang mulai ramai oleh anak sekolah dan tukang sayur.
"Bapak sudah lama jadi pelanggan di sini?"
"Dua puluh tiga tahun." Pak Hadi membuka korannya, tapi tidak membacanya. "Sejak kedai ini masih berupa gerobak di depan gang."
Laras ingin bertanya lebih banyak. Tentang kakeknya, tentang dua puluh tiga tahun itu, tentang kenapa harus hari Kamis. Tapi kalimat di buku catatan itu terngiang: Jangan pernah tanya soal anaknya.
Jadi ia diam. Dan anehnya, diam itu terasa nyaman.
Pukul delapan kurang sedikit, Pak Hadi melipat korannya dan mengeluarkan dompet.
"Tidak usah, Pak. Kopinya kan Bapak sendiri yang buat."
Pak Hadi tersenyum tipis, senyum pertama yang Laras lihat pagi itu. Ia tidak mengeluarkan uang. Dari saku jaketnya, ia mengambil sebuah amplop putih yang sudah lecek, lalu meletakkannya di meja.
"Ini untuk Darto. Setiap bulan saya titipkan. Sekarang…" Ia berhenti. "Sekarang saya titipkan ke kamu saja."
Sebelum Laras sempat bertanya, Pak Hadi sudah berdiri, mengangguk sekali, dan keluar. Bel kecil di atas pintu berdenting.
Laras memandangi amplop itu lama sekali sebelum membukanya.
Isinya bukan uang. Di dalamnya ada selembar foto lama: seorang pemuda berumur dua puluhan, berdiri di balik gerobak kopi dengan celemek kebesaran, tertawa ke arah kamera. Di sebelahnya, Kakek Darto yang masih berambut hitam merangkul bahunya.
Di balik foto, tulisan tangan yang bukan milik kakeknya:
Darto, kalau Rendra pulang ke kedai, tolong kabari saya. Kalau dia tidak mau bertemu, tidak apa-apa. Cukup bilang padanya bahwa bapaknya masih minum kopi yang sama.
Di bagian bawah, sebuah tanggal. Sepuluh tahun yang lalu.
Laras membalik amplop itu dan baru menyadari ada tumpukan amplop serupa di laci kasir, terikat karet gelang. Ia menghitungnya dengan jari yang mulai dingin.
Seratus dua puluh amplop. Satu untuk setiap bulan, selama sepuluh tahun.