📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 4 dari 4

Hitungan Ketiga Puluh

Kedai Kopi di Ujung Gang · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Dua puluh delapan. Dua puluh sembilan. Tiga puluh.

Laras menuang air ke cangkir, mengaduk tiga kali, lalu menutupnya dengan tatakan. Tangannya bekerja sendiri, karena kepalanya sibuk mendengarkan sunyi yang menggantung di meja dekat jendela.

Laki-laki di ambang pintu itu belum bergerak. Pak Hadi juga belum. Koran di tangannya kini tergeletak di pangkuan, terlipat setengah, seperti lupa harus diapakan.

"Masuk, Mas," kata Laras akhirnya. Suaranya terdengar terlalu riang di telinganya sendiri. "Di luar dingin."

Rendra melangkah masuk. Bel kecil di atas pintu berdenting lagi saat pintu menutup di belakangnya. Ia berhenti di depan meja bar, tidak di meja jendela, dan meletakkan ranselnya di bangku tinggi seolah butuh sesuatu untuk dipegang.

"Kopi tubruk," katanya pelan. "Tanpa gula."

Dari meja jendela, Laras melihat bahu Pak Hadi menegang sedikit.

Laras mengangguk, lalu berbalik ke rak toples. Ia mengambil gelas tinggi, bukan cangkir. Ia menyeduh kopi dengan takaran yang sama, menunggu ampasnya turun, lalu menuangkan susu kental manis yang banyak, terlalu banyak untuk ukuran siapa pun yang mengaku suka kopi pahit. Terakhir, satu sendok gula aren yang ia cairkan dengan sedikit air panas.

Ia meletakkan gelas itu di depan Rendra.

Rendra menatapnya. Lalu menatap Laras.

"Saya pesan tubruk."

"Di buku catatan Kakek tertulis lain," jawab Laras. "Kopi susu gula aren, banyak susunya. Katanya Mas cuma pura-pura suka kopi pahit kalau ada Bapak."

Ada suara kecil dari meja jendela. Laras butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa itu suara tawa. Pendek, serak, nyaris seperti batuk. Pak Hadi menutup mulutnya dengan kepalan tangan, tapi pundaknya masih bergetar.

"Darto," gumamnya. "Dia tulis itu juga?"

Wajah Rendra memerah sampai ke telinga. Ia mengangkat gelas, meneguk, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, garis di dahinya mengendur.


Mereka tidak langsung duduk satu meja. Itu terlalu cepat, dan Laras tahu itu. Rendra tetap di bar, Pak Hadi tetap di jendela, dan di antara mereka ada empat meja kosong yang terasa seperti sungai.

Tapi mereka mulai bicara. Tentang hal-hal yang aman.

"Gerobaknya dulu di depan gang, ya, Pak?" tanya Rendra, tanpa menoleh.

"Di depan warung Bu Ratmi. Sebelum dia jualan nasi kuning."

"Rodanya sering copot."

"Kamu yang bikin copot. Didorong sambil lari."

Laras pura-pura sibuk mengelap toples, padahal ia mendengar setiap kata. Rasanya seperti menonton dua orang yang belajar berjalan lagi setelah lama patah kaki: pelan, hati-hati, dan sesekali berpegangan pada apa saja yang ada di dekat mereka.

Pukul delapan kurang sedikit, seperti biasa, Pak Hadi melipat korannya. Ia berdiri, merapikan jaket parasutnya yang kebesaran, lalu berjalan ke pintu. Ia berhenti tepat di sebelah bangku Rendra.

Laras menahan napas.

"Kamis depan," kata Pak Hadi. Bukan pertanyaan. Bukan juga perintah. Hanya dua kata yang diletakkan di udara, seperti amplop di atas meja.

Rendra tidak menjawab. Tapi ia mengangguk, dan Pak Hadi melihatnya.

Bel berdenting. Pintu menutup.

Rendra memandangi pintu itu lama sekali, lalu menurunkan wajahnya ke gelas yang sudah kosong.

"Saya tidak tahu harus bilang apa ke dia," katanya. "Sepuluh tahun saya siapkan kalimatnya. Waktu ketemu, hilang semua."

"Mungkin tidak perlu kalimat," kata Laras. "Kakek saya bilang, untuk kopi dan untuk orang, jangan buru-buru."

Rendra tertawa kecil. "Itu kalimat favoritnya. Dulu saya kesal mendengarnya. Saya mau semuanya cepat. Kedai cepat besar, uang cepat datang." Ia memutar gelas kosong di tangannya. "Ternyata yang cepat cuma utangnya."

Laras menunggu. Ia belajar itu dari kakeknya, dari buku catatan itu: biarkan orang bercerita kalau ia sudah siap.

"Saya cuma tiga hari di Bandung," lanjut Rendra. "Masih ada urusan di Jakarta yang belum beres. Saya datang karena foto yang kamu kirim." Ia menatap sendok takar kecil di dinding. "Sendok itu saya yang beli. Di pasar loak, waktu umur sembilan belas. Darto bilang takaran pakai perasaan juga bisa, tapi saya ngotot harus pakai sendok."

"Dan sekarang Kakek selalu pakai sendok itu," kata Laras. "Pak Hadi juga."

Rendra diam. Matanya basah, dan ia buru-buru berpaling ke jendela.


Siang itu kedai cukup ramai. Bu Wulan datang dengan dua rekan gurunya. Dika mampir sepulang sekolah dan langsung mengambil alih bangku jendela, lalu terang-terangan menatap Rendra seperti melihat tokoh dari foto di dinding yang tiba-tiba hidup.

"Kakak yang di foto itu, kan?" tanya Dika. "Yang pegang gerobak?"

"Dulu," jawab Rendra. "Sekarang cuma pegang ransel."

Rendra tidak pergi. Ia membantu di balik meja bar tanpa diminta, menggiling kopi dengan gerakan yang jauh lebih luwes daripada Laras. Ia membetulkan tutup teko yang longgar dengan selembar karet. Ia mengajari Laras cara menuang susu supaya tidak bergumpal. Untuk beberapa jam, kedai itu terasa seperti yang ada di foto-foto dinding: ramai, hangat, sedikit berantakan.

Sore harinya, saat Laras menghitung uang di laci kasir, ia baru ingat amplop-amplop itu. Seratus dua puluh amplop berikat karet gelang, masih tersimpan di laci paling bawah. Surat-surat seorang ayah yang tidak pernah sampai ke tujuannya.

Ia memegang ikatan itu, menimbang-nimbang. Haruskah ia memberikannya sekarang, saat Rendra baru saja mulai tertawa lagi? Atau menunggu, sampai Kamis depan, sampai mereka sudah bisa duduk di meja yang sama?

Belum sempat ia memutuskan, pintu kedai terbuka tanpa ketukan.

Seorang perempuan berumur lima puluhan masuk dengan langkah tegas. Ia memakai blazer krem, tas kulit di lengan, dan kacamata baca yang tergantung pada tali di lehernya. Ia tidak melihat ke papan menu, tidak melihat ke foto-foto di dinding. Ia langsung berjalan ke meja kasir.

"Kamu cucunya Pak Darto?"

"Iya, Bu. Laras."

"Saya Hartini. Pemilik bangunan ini." Ia meletakkan selembar kertas di atas meja, tepat di sebelah ikatan amplop. "Saya sudah kirim surat bulan lalu. Tiga bulan sewa belum dibayar. Enam juta rupiah."

Rendra berhenti mengelap cangkir.

"Saya turut berduka soal kakekmu," lanjut Bu Hartini, suaranya sedikit melunak, lalu mengeras lagi. "Tapi ada yang mau menyewa tempat ini. Minimarket. Mereka sanggup bayar tiga kali lipat, setahun di muka."

Ia mengetuk kertas itu dengan ujung jarinya.

"Kamu punya waktu sampai akhir bulan. Sembilan hari lagi."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Kedai Kopi di Ujung Gang”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

★ 5,0 dari 1 pembaca
Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu