📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Rumah Berjendela Biru

Paket untuk Rumah Nomor 17 · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Jalan Kenanga Gang III memang sesempit kata Mas Anto.

Bima dan Tika memarkir motor di depan warung kopi di mulut gang, lalu berjalan kaki. Kiri-kanan rumah berdempetan, pagar besi bercat hijau, jemuran melintang di atas kepala. Seekor kucing oranye tidur di atas jok motor yang tertutup sarung.

Rumah nomor 17 ada di tengah gang. Mereka mengenalinya bahkan sebelum melihat nomornya.

Jendelanya biru. Bukan biru langit, bukan biru tua, melainkan biru satin yang agak pudar, persis warna pita di laci Ibu. Catnya mengelupas di sudut-sudut, tapi warnanya masih bertahan.

Pagarnya digembok. Di balik pagar, teras kecil berlantai tegel kuning. Ada dua pot tanaman lidah mertua di sudut.

"Mas," bisik Tika. "Lihat terasnya."

Bima melihat. Butuh beberapa detik sampai ia mengerti maksud adiknya.

Teras itu bersih. Tidak ada daun kering, tidak ada debu tebal, tidak ada sampah plastik yang biasanya terselip di rumah kosong. Tanah di pot lidah mertua terlihat lembap, seperti baru disiram.

"Rumah kosong enam tahun," kata Tika pelan, "tapi terasnya disapu."

Bima mendekat ke pagar. Gemboknya bukan gembok kunci biasa, melainkan gembok angka berwarna kuningan dengan empat roda kecil. Rodanya menunjukkan angka acak, seperti sengaja diputar setelah dikunci. Di kotak surat yang menempel di tembok, tidak ada tumpukan brosur atau tagihan. Kotak itu kosong dan bersih.

Di atas pintu, tertempel stiker kecil yang hampir pudar. Bima harus menyipitkan mata untuk membacanya. Gambar perempuan berkerudung memegang tampah, dengan senyum yang agak miring.

Stiker yang sama dengan yang ada di setiap bungkus kerupuknya.

"Ibu pernah ke sini," kata Bima, lebih kepada dirinya sendiri.

"Atau orang di rumah ini sayang sekali sama kerupuk Ibu," kata Tika. "Sampai stikernya ditempel di pintu."

Seorang anak kecil yang sedang bermain kelereng di depan rumah sebelah memperhatikan mereka dengan curiga. Bima tersenyum kepadanya. Anak itu tidak membalas, lalu masuk ke rumah dan memanggil ibunya.


Bapak pemilik warung di mulut gang bernama Pak Mansur. Ia mengenal Pak Wiryo sejak sebelum gang itu diaspal.

Warung itu kecil: dua bangku panjang, etalase kaca berisi gorengan, dan dinding penuh kalender dari toko bangunan. Di seberang warung, ada pos ronda dengan tembok bergambar layangan warna-warni. Gambar itu sudah pudar dimakan hujan, tapi garisnya masih tegas, jelas dibuat oleh orang yang terbiasa memegang kuas.

"Pak Wir itu pensiunan guru gambar," katanya sambil menuang kopi untuk mereka berdua, padahal tidak ada yang memesan. "Orangnya pendiam, tapi kalau anak-anak minta digambarkan layangan, langsung digambarkan. Gambar di tembok pos ronda itu, beliau yang bikin."

"Beliau tinggal sendiri?" tanya Bima.

"Sama istrinya, Bu Wir, sama cucunya. Rara." Pak Mansur menghela napas. "Orang tua Rara meninggal waktu dia masih kecil, sakit dua-duanya, berselang setahun. Jadi Rara dibesarkan kakek-neneknya. Anaknya pintar, lincah. Dulu sering bantu-bantu di rumah produksi kerupuk... siapa itu..."

"Ibu Sri?" tanya Tika cepat.

"Nah! Ibu Sri. Di Rungkut sana." Pak Mansur menatap mereka berdua, lalu menatap stiker kerupuk yang kebetulan tertempel di helm Tika. Matanya menyipit. "Lho, kalian ini..."

"Kami anaknya," kata Bima.

Pak Mansur diam sebentar, lalu mengangguk pelan-pelan. "Turut berduka. Saya dengar dari langganan saya."

Bima mengangguk. Ia mengalihkan pembicaraan. "Kenapa Pak Wiryo pindah, Pak?"

"Bu Wir meninggal akhir 2019. Terus Rara sama kakeknya bertengkar hebat. Saya nggak tahu soal apa, orang sekampung cuma dengar suaranya. Setelah itu Rara pergi bawa tas besar." Pak Mansur memandang ke arah gang. "Beberapa bulan kemudian Pak Wir pamit. Katanya ikut anaknya di Malang. Rumahnya dikunci. Sejak itu kosong."

"Rara pernah kembali?"

"Nggak pernah kelihatan." Pak Mansur berhenti. "Tapi ya... teras itu bersih terus, Mas. Saya nggak tahu siapa yang nyapu. Saya buka warung jam enam, tapi kadang sudah bersih duluan."


Tetangga sebelah rumah nomor 17, di nomor 15, adalah seorang ibu berusia enam puluhan bernama Bu Narti. Ia membuka pintu dengan curiga, lalu melunak begitu Tika menyebut nama Ibu Sri.

"Oalah, kerupuk pita biru itu," katanya. "Iya, dulu tiap Selasa pagi Pak Wir duduk di teras nunggu kurirnya Bu Sri. Kerupuknya buat Rara. Rara itu kalau pulang sekolah langsung buka kerupuk, makan sambil ngerjakan PR."

"Bu Narti tahu siapa yang menerima paket sekarang?" tanya Bima. "Kurir kami bilang ada perempuan bertopi."

Bu Narti terlihat ragu. Ia menoleh ke kanan-kiri gang, seolah takut ada yang mendengar.

"Saya pernah lihat," katanya akhirnya. "Hari Minggu, subuh. Ada yang nyapu teras sebelah. Pakai topi, pakai jaket. Saya pikir maling, mau saya teriaki. Tapi dia nyiram tanaman juga. Maling mana nyiram tanaman?" Bu Narti tersenyum tipis. "Saya nggak pernah lihat mukanya. Tiap saya buka pintu, dia langsung pergi."

"Ibu pikir itu Rara?"

Bu Narti tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah amplop kecil.

"Ini saya temukan kemarin sore, terselip di pagar sebelah. Waktu itu kurir kalian baru pergi." Ia menyodorkan amplop itu kepada Bima. "Tulisannya buat yang kirim kerupuk. Saya nggak buka."

Amplop itu putih, polos, sedikit kusut. Di depannya, dengan huruf-huruf bulat:

Untuk yang kirim kerupuk.

Bima mengenali bentuk huruf itu. Huruf yang sama dengan tulisan pensil di bawah noda air di buku order Ibu.

Ia membukanya di tempat. Isinya selembar kertas kecil, sobekan dari buku catatan.

Tolong jangan bilang Kakek siapa yang ambil paketnya. Tolong tetap kirim setiap Selasa. Saya yang bayar.

Maaf merepotkan.

R.

Tika membacanya dari balik bahu Bima, lalu menatap rumah berjendela biru itu.

"Mas," katanya. "Kalau Pak Wir nggak tahu Rara yang ambil, berarti selama ini Pak Wir pikir paketnya diterima siapa?"

Bima tidak punya jawaban.

Ponsel Tika bergetar. Sebuah pesan masuk dari akun wiryo57. Pukul 09.11, Rabu pagi, padahal belum ada pesanan baru hari itu.

Nak, maaf mengganggu. Apakah minggu ini paketnya diterima? Saya hanya ingin tahu, apakah yang menerima masih makan kerupuk sambil membaca.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Paket untuk Rumah Nomor 17”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Jualan dari Rumah: 30 Hari Pertama

Punya produk rumahan tapi bingung harus mulai berjualan online dari mana? Buku ini memberimu jadwal 30 hari: satu atau dua tugas setiap hari, dari memilih produk sampai toko di Sho...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu