Episode 1 dari 1

Sepat Tanpa Takaran

Resep yang Diwariskan · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Nek Sari tidak pernah memakai takaran. Itu masalah pertama.

Masalah kedua, Nek Sari sedang sakit pinggang, dan acara syukuran rumah baru Kak Fajar tinggal dua hari lagi. Sepat harus ada di meja. Tanpa sepat, kata semua orang di keluarga, syukuran di Sumbawa itu cuma makan-makan biasa.

Maka tugas itu jatuh ke tangan Dewi, cucunya yang baru pulang dari kuliah di Mataram, yang selama hidupnya baru memasak mi instan dan nasi goreng sisa semalam.


"Ikannya dibakar dulu," kata Nek Sari dari kasur di kamar depan. Ia tidak bisa berdiri lama, tapi suaranya masih bisa menembus dinding papan rumah panggung mereka di Sumbawa Besar. "Jangan sampai gosong. Bakar sampai kulitnya mau lepas, tapi belum lepas."

Dewi berdiri di dapur di depan bara arang, memegang dua ekor ikan kakap yang dibeli Paman Udin dari Pasar Seketeng subuh tadi. "Nek, itu kapan, persisnya? Berapa menit?"

"Sampai baunya bilang sudah."

Dewi menatap ikan itu, berharap ikannya bisa bicara.


Sepat, kata Nek Sari, bukan sup biasa. Ikannya harus dibakar dulu sampai ada rasa asap. Lalu kuahnya dibuat dari air dingin yang direndam bersama tomat, mangga muda serut, belimbing wuluh, bawang merah, cabai, dan perasan jeruk. Tidak direbus. Kuahnya segar, asam, pedas, dan wangi bakaran. Ikan bakar dimasukkan ke kuah itu, lalu diamkan sampai semua rasa berkenalan.

"Berkenalan, Nek?"

"Berkenalan. Seperti orang baru pindah rumah. Butuh waktu supaya akrab."

Dewi menulis semua di ponsel: Ikan bakar. Kuah tidak direbus. Rasa berkenalan.


Percobaan pertama gagal. Ikannya terlalu gosong di satu sisi, mangga mudanya terlalu banyak sampai kuahnya membuat gigi ngilu. Paman Udin mencicipi dan pura-pura batuk.

Percobaan kedua lebih baik, tapi Nek Sari, yang dibawakan semangkuk kecil ke kamar, mengernyit.

"Terlalu cepat kau masukkan ikannya. Kuahnya belum siap menerima tamu."

"Nek, aku harus tahu takaran pastinya. Besok lusa banyak orang."

Nek Sari meletakkan mangkuk. Ia memandang cucunya lama, lalu menepuk kasur di sebelahnya. "Duduk."

Dewi duduk.

"Waktu Nek seumur kau, Nek juga minta takaran ke ibu Nek. Kau tahu apa jawabnya?" Nek Sari tersenyum. "Dia bilang, 'Takarannya ada di lidah orang yang akan makan.'"

"Maksudnya?"

"Kak Fajar suka asam. Istrinya dari Bima, suka pedas. Paman Udin tidak tahan pedas, tapi selalu ambil kuah paling banyak." Nek Sari menghitung dengan jari. "Kau masak untuk orang, bukan untuk buku. Jadi kau harus kenal orangnya dulu."


Malam itu Dewi tidak memasak. Ia pergi ke rumah Kak Fajar dan bertanya macam-macam: siapa yang datang, siapa yang suka apa. Ia menelepon Bibi Nur di Bima dan bertanya seberapa pedas yang dianggap pedas di keluarga suaminya. Ia bertanya pada Paman Udin kenapa ia selalu ambil kuah paling banyak.

"Karena kuah sepat nenekmu itu obat," kata Paman Udin. "Waktu Paman kecil sakit, nenekmu bikin sepat, Paman minum kuahnya tiga mangkuk, besoknya sembuh. Mungkin cuma sugesti. Tapi sugesti yang enak."

Dewi tertawa, dan mencatat itu juga.

Sebelum tidur, Dewi duduk di samping neneknya dan memijat pinggang tua itu pelan-pelan. Nek Sari bercerita tentang syukuran-syukuran dulu, ketika satu kampung datang membawa sesuatu, dan sepat dibuat di panci sebesar drum. "Dulu yang bakar ikan itu kakekmu," katanya. "Dia tidak bisa masak apa-apa, tapi bakar ikan dia paling jago. Katanya karena dia sabar menunggu, seperti menunggu Nek mau dinikahi."

Dewi tertawa. Ia tidak pernah mendengar cerita itu. Ia sadar, resep bukan cuma tentang bahan dan cara, tapi juga tentang orang-orang yang dulu memasaknya.


Hari syukuran tiba. Dewi bangun subuh, membakar ikan dengan sabar, membalik dengan dua sendok kayu seperti yang ia lihat di tangan Nek Sari bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar memperhatikan. Kali ini ia mencium baunya. Ada saat ketika bau amis berubah menjadi bau gurih, ketika kulit ikan mulai mengelupas di pinggir tapi belum lepas.

Baunya bilang sudah.

Ia membuat dua panci kuah. Satu lebih pedas, untuk keluarga dari Bima. Satu lebih ringan, untuk Paman Udin dan anak-anak. Ia menambah belimbing wuluh sedikit lebih banyak di panci pertama karena Kak Fajar suka asam. Ia membiarkan kuah dan ikan "berkenalan" hampir satu jam, mencicipi setiap sepuluh menit, sampai rasanya tidak lagi berebut di lidah, melainkan duduk bersama.


Di syukuran, Nek Sari duduk di kursi plastik dengan bantal di punggung. Dewi membawakan semangkuk sepat untuknya.

Semua orang berhenti mengobrol. Mereka tahu, mangkuk itu sedang diuji.

Nek Sari menyeruput kuahnya, lalu mengunyah sepotong ikan. Lama. Terlalu lama. Dewi mulai berkeringat.

"Kurang garam sedikit," kata Nek Sari akhirnya.

Hati Dewi jatuh.

"Tapi Nek sengaja bilang begitu," lanjutnya, "supaya kau tidak sombong."

Semua orang tertawa. Paman Udin mengambil mangkuk ketiga.


Istri Kak Fajar dari Bima menghampiri Dewi di dapur dan meminta resep kuah yang pedas. Dewi membuka mulut, hendak menyebut takaran, lalu berhenti dan tersenyum. "Nanti aku ajari langsung, Kak. Resepnya harus disesuaikan dengan lidah orang di rumah Kakak."

Malamnya, setelah tamu pulang, Dewi membuka catatan di ponselnya. Ia menghapus semua kalimat tentang takaran dan menulis ulang dari awal:

Sepat Nek Sari.

Bakar ikan sampai baunya bilang sudah.

Kuah jangan direbus.

Kenali orang yang akan makan.

Biarkan rasa berkenalan.

Kalau Nek bilang kurang garam, jangan percaya sepenuhnya.

Ia menunjukkannya pada Nek Sari. Neneknya membaca, lalu terkekeh sampai harus memegangi pinggang.

"Itu baru resep," katanya.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu