📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 4

Harga yang Tidak Pernah Dihitung

Dapur yang Tidak Pernah Tidur · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Bu Hartini duduk di kursi teras dengan punggung tegak, seperti sedang menunggu giliran di kantor kelurahan. Sri membawakan teh manis dalam gelas terbaik yang biasanya hanya keluar saat Lebaran.

"Saya dengar kotak snack Bu Sri lima belas ribu," kata Bu Hartini tanpa basa-basi.

"Iya, Bu."

"Isi tiga. Ada sus, risoles, bolu."

"Iya."

Bu Hartini meletakkan gelasnya. "Bu Endah biasanya pesan di saya. Empat puluh kotak, tiap bulan, sudah tiga tahun. Bulan ini beliau bilang pindah ke Bu Sri karena lebih murah lima ribu."

Sri merasakan wajahnya panas. "Saya nggak tahu, Bu. Beliau yang menghubungi saya."

"Saya tahu Bu Sri nggak merebut. Saya bukan mau marah." Bu Hartini menghela napas, dan untuk sesaat bahunya turun. "Saya cuma mau tanya satu hal. Bu Sri sudah hitung tenaga?"

"Tenaga?"

"Tenaga Bu Sri sendiri. Bangun jam tiga, goreng risoles, kukus bolu. Gas, listrik, kotak, tisu, stiker. Bensin suami Bu Sri antar pesanan." Bu Hartini menatapnya lurus. "Kalau semua dihitung, lima belas ribu itu untung atau tombok?"

Sri membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Saya jual dua puluh ribu bukan karena serakah," lanjut Bu Hartini. "Lima belas tahun lalu saya juga jual murah. Dua tahun kemudian saya hampir tutup, karena saya kerja dari subuh sampai malam dan uangnya nggak pernah cukup buat ganti oven yang rusak. Harga murah itu bukan kebaikan, Bu Sri. Itu cuma capek yang belum ketahuan."

Ia berdiri, merapikan kerudungnya.

"Silakan jualan. Kampung ini cukup besar buat dua dapur. Tapi jangan jual di bawah modal. Nanti Bu Sri yang tumbang duluan, dan orang-orang jadi mikir kue saya kemahalan." Ia tersenyum tipis. "Nastarnya dimakan, ya. Itu resep almarhum suami saya."


Malam itu Sri menghitung ulang. Kali ini ia melakukannya dengan benar, dengan buku tulis Raka dan semua nota belanja yang ia simpan di kaleng biskuit.

Bahan per kotak: delapan ribu lima ratus. Kotak, tisu, dan stiker: seribu lima ratus. Gas dan listrik, dibagi rata dari tagihan bulan ini yang naik hampir dua kali lipat: delapan ratus. Bensin antar: rata-rata empat ratus per kotak. Totalnya sebelas ribu dua ratus. Lalu tenaga.

Sri berhenti di baris itu lama. Ia tidak pernah menghitung tenaganya sendiri. Ibunya juga tidak pernah. Tenaga ibu selalu dianggap gratis, seperti udara.

Ia mencoba menulis angka. Untuk dua puluh kotak, ia bekerja hampir sepuluh jam. Kalau ia membayar orang lain, upah harian di kampungnya sekitar delapan puluh ribu. Empat ribu per kotak.

Sebelas ribu dua ratus ditambah empat ribu sama dengan lima belas ribu dua ratus.

Ia sudah menjual setiap kotak dengan rugi dua ratus rupiah, dan menganggapnya untung.

"Kenapa?" Mas Bambang muncul dari kamar, melihat istrinya menatap buku tulis seperti menatap hasil laboratorium.

Sri menunjukkan angka-angka itu. Suaminya membacanya dengan dahi berkerut, lalu mengambil pensil dan menambahkan satu baris: Penyusutan oven & mixer.

"Di pabrik, mesin juga dihitung biayanya. Nggak kelihatan, tapi lama-lama rusak dan harus diganti."

Mereka menghitung sampai tengah malam. Ketika selesai, angka di bagian bawah halaman berbunyi: harga pokok sekitar lima belas ribu lima ratus. Harga jual yang masuk akal, dengan untung yang layak: delapan belas ribu.

"Masih di bawah Bu Hartini," kata Mas Bambang.

"Sengaja. Aku nggak mau ambil pelanggannya." Sri menutup buku. "Tapi aku juga nggak mau tumbang."


Kenaikan harga itu tidak berjalan mulus. Bu Endah membalas pesan dengan singkat: Oh naik ya, Bu. Saya pikir-pikir dulu. Dua pelanggan dari perumahan sebelah tidak membalas sama sekali. Seorang ibu menulis kok baru seminggu sudah naik, lalu memblokir nomornya.

Minggu itu, pesanan turun separuh. Sri berbaring di malam hari dengan pikiran bahwa Bu Hartini mungkin sengaja menjebaknya, membuatnya menaikkan harga supaya pelanggannya kembali. Lalu ia teringat bahu Bu Hartini yang turun sesaat, dan nastar yang ia bawa, dan Sri tahu bukan itu.

Mas Bambang mendapat dua surat penolakan minggu itu. Satu dari pabrik sepatu di Kendal, satu lagi dari gudang distribusi di Kaliwungu. Ia membacanya di teras, melipatnya rapi, dan memasukkannya ke saku. Sorenya ia tetap melipat kotak. Ia tidak bicara banyak, tapi tabel di kertas folionya bertambah panjang.

Nadia masih menghindar. Ia berangkat sekolah lebih pagi dan pulang lebih sore. Suatu malam Sri mendengarnya menelepon Tika dengan suara pelan, dan Sri tidak berusaha mendengar isinya. Ia hanya meletakkan segelas susu hangat di depan pintu kamar anaknya, dan paginya gelas itu sudah kosong dan dicuci.

Hanya Raka yang tampak tidak terpengaruh. Ia mulai menghias stiker Dapur Bu Sri dengan gambar cangkir kecil, dan menyebut dirinya "direktur pemasaran" setelah membaca istilah itu di buku pelajaran.


Jumat sore, ketika Sri sedang menimbang terigu untuk pesanan sepuluh kotak, ponselnya berbunyi. Panggilan, bukan pesan. Nama yang tertera: Bu Lurah.

"Bu Sri? Saya mau pesan untuk syukuran kelurahan. Peresmian balai warga yang baru, Minggu depan, tanggal dua puluh sembilan. Pak Camat datang, Pak Wali juga mungkin."

"Berapa kotak, Bu?"

"Tiga ratus."

Sri menurunkan sendok takar. Terigu tumpah sedikit ke lantai.

"Tiga ratus, Bu?"

"Iya. Isi tiga, seperti yang di arisan itu. Harga delapan belas ribu, kan? Saya sudah lihat di status WhatsApp Ibu." Suara di seberang terdengar riang. "Saya transfer DP-nya besok pagi, ya. Separuh."

Sambungan terputus. Sri menatap ponselnya, lalu menatap oven tangkringnya, lalu menghitung dengan cepat: tiga ratus kotak berarti tiga ratus kue sus, tiga ratus risoles, tiga ratus potong bolu. Oven tangkring itu hanya muat satu loyang sus, dua puluh empat buah, empat puluh menit sekali.

Tiga ratus dibagi dua puluh empat. Tiga belas loyang. Hampir sembilan jam hanya untuk kulit sus.

Waktunya sembilan hari.

Di ruang tamu, Mas Bambang mengangkat kepala dari kertas folionya.

"Siapa?"

Sri menjawab dengan suara yang tidak ia kenali sebagai suaranya sendiri.

"Pesanan pertama kita yang bisa bikin kita bangkrut."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Dapur yang Tidak Pernah Tidur”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Kue & Katering Pre-order

Masakanmu sering dipesan tetangga, tapi kamu tidak pernah tahu persis berapa untungnya? Buku ini mengubah dapur rumahan menjadi usaha kue dan katering yang rapi dengan satu sistem...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu