Leher Botol
Uang muka masuk Sabtu pagi pukul tujuh lewat lima menit: dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Sri melihat notifikasinya di layar ponsel dan merasa seperti baru saja menandatangani sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.
"Kembalikan saja," katanya kepada Mas Bambang di meja sarapan. "Bilang kita nggak sanggup."
Mas Bambang tidak langsung menjawab. Ia mengunyah nasi goreng sisa semalam pelan-pelan, lalu mengambil kertas folio yang terlipat di saku kemejanya dan membentangkannya di samping piring.
"Aku sudah hitung semalam," katanya. "Kamu tidur jam sebelas. Aku nggak."
Kertas itu penuh tabel. Di kolom paling kiri: nama kue. Di sebelahnya: berapa buah per loyang, berapa menit per loyang, berapa loyang yang dibutuhkan. Lalu kolom-kolom hari, dari Sabtu sampai Minggu depan, dengan kotak-kotak kecil yang diarsir.
"Masalahnya bukan bahan," kata Mas Bambang, telunjuknya mengetuk kolom oven. "Bukan juga tenaga. Masalahnya di sini. Leher botol."
"Leher botol?"
"Istilah di pabrik. Bagian paling sempit yang bikin semuanya antre." Ia menggambar lingkaran di sekitar kata oven. "Bolu dikukus, bisa dua dandang sekaligus. Risoles digoreng, bisa dicicil dan dibekukan dulu. Yang nggak bisa dipercepat cuma sus. Satu oven, dua puluh empat biji, empat puluh menit."
Sri menatap kertas itu. Ia sudah dua puluh tahun menikah dengan lelaki ini dan baru sekarang ia melihatnya bekerja.
"Kalau kulit sus dibuat lebih awal?"
"Bisa. Kulit sus kosong tahan tiga hari di toples rapat, kan? Kamu yang bilang dulu." Mas Bambang mencoret sesuatu. "Jadi sus dibagi ke lima hari. Tiga loyang sehari, kira-kira dua jam. Vla dibuat hari H minus satu, diisi pagi hari H. Risoles digulung Senin sampai Kamis, dibekukan, digoreng Minggu subuh. Bolu dikukus Sabtu malam."
"Kulkas kita nggak muat tiga ratus risoles."
"Freezer Bu Ratmi kosong. Anaknya jualan es lilin, tapi sekarang musim hujan." Mas Bambang hampir tersenyum. "Sudah kutanya kemarin."
Sri meletakkan sendoknya.
"Mas sudah tanya Bu Ratmi kemarin? Sebelum aku terima pesanannya?"
"Aku dengar teleponmu." Suaminya mengangkat bahu, gerakan yang sama persis dengan Nadia. Sri baru sadar dari mana anak itu mewarisinya. "Aku tahu kamu bakal bilang ya."
Mereka belanja bersama Senin pagi di grosir bahan kue dekat Pasar Johar: dua karung terigu, enam kilo mentega, sepuluh kilo gula, tiga peti telur, susu, maizena, dan tiga ratus dua puluh kotak, karena Mas Bambang bersikeras menyisakan cadangan. "Di pabrik selalu ada reject," katanya. Total belanja hampir dua juta. Sri membayar dengan perasaan seperti melempar uang ke sumur.
Hari-hari berikutnya rumah itu berubah menjadi pabrik kecil. Mas Bambang menempelkan jadwal di pintu kulkas. Setiap pagi ia mencoret kotak yang sudah selesai dengan spidol merah. Raka pulang sekolah dan langsung melipat kotak, dua puluh lima per hari, sambil menonton kartun di ponsel ayahnya. Setiap kali selesai satu tumpukan, ia melapor kepada ayahnya seperti prajurit melapor kepada komandan, dan Mas Bambang mencatatnya di kolom kecil yang khusus ia buat untuk Raka, berjudul Divisi Kotak. Bu Ratmi menitipkan kunci freezer-nya dan setiap sore mengintip ke dapur sambil berkomentar soal ketebalan kulit risoles.
Nadia tidak ikut. Ia mengerjakan PR di kamar, keluar hanya untuk makan, dan menjawab pertanyaan dengan satu kata. Ketika Raka memintanya membantu melipat kotak, Nadia bilang besok ada ulangan. Ketika besoknya Raka meminta lagi, ia bilang ada kerja kelompok.
Sri tidak memaksa. Ia ingat dirinya sendiri di usia enam belas, betapa ia dulu juga pernah berpura-pura tidak kenal ibunya saat melihatnya berjualan kue di depan sekolah. Ia ingat betapa ia menyesalinya bertahun-tahun kemudian. Tapi setiap malam, setelah semua orang tidur, ia melihat lampu kamar Nadia masih menyala, dan ia bertanya-tanya apakah anaknya juga tidak bisa tidur karena alasan yang sama dengannya.
Rabu malam, kulit sus sudah terkumpul seratus delapan puluh buah di empat toples besar. Risoles di freezer Bu Ratmi sudah dua ratus. Angka di jadwal Mas Bambang hampir semuanya tercoret sesuai rencana.
Lalu oven tangkring itu menyerah.
Bukan rusak total. Hanya engsel pintunya yang patah, sehingga pintunya tidak bisa lagi ditutup rapat, bahkan dengan ganjal sendok. Panasnya bocor ke samping. Loyang terakhir malam itu keluar dengan kulit sus yang pucat di satu sisi dan gosong di sisi lain.
Sri menatap dua puluh empat kulit sus gagal itu di atas rak kawat. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
"Beli oven baru," kata Mas Bambang.
"Pakai uang apa? DP sudah habis buat belanja."
"Pesangon."
"Itu buat sekolah Nadia, Mas."
Mereka diam. Di luar, hujan mulai turun, membuat atap seng dapur berbunyi seperti genderang yang dipukul tanpa irama.
Mas Bambang memutar kertas folionya, menatap kolom oven yang sekarang kosong untuk empat hari ke depan. Ia mengetuk-ngetukkan pensil ke meja, lama, sampai Sri hampir menyuruhnya berhenti.
"Ada satu oven gas besar di kampung ini," katanya akhirnya. "Muat empat loyang sekaligus. Aku pernah lihat waktu antar pesanan lewat belakang tokonya."
Sri tahu siapa yang ia maksud sebelum suaminya menyebut nama.
"Nggak."
"Sri, sewa saja. Dua malam. Bayar per jam."
"Aku lebih baik gagal daripada minta tolong ke dia." Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang Sri maksud. "Baru dua minggu lalu dia datang ke sini ngajarin aku soal harga. Sekarang aku datang ke dia bawa adonan? Mas mau aku jadi bahan omongan sekampung?"
Mas Bambang menatapnya. Sri menunggu suaminya marah, atau setidaknya membantah. Tapi lelaki itu hanya melipat kertas folionya pelan-pelan, menyimpannya ke saku, dan berdiri.
"Aku ngerti," katanya. "Aku juga belum bilang ke siapa-siapa kalau aku ditolak di Kendal dan Kaliwungu. Malu itu berat."
Ia mematikan lampu ruang tengah dan masuk kamar.
Sri duduk sendirian di dapur. Hujan makin deras. Di atas rak, dua puluh empat kulit sus yang gagal mulai dingin. Ia mengambil satu, menggigitnya. Pahit di bagian yang gosong, mentah di bagian yang pucat.
Di tangga, sebuah bayangan bergerak. Sri menoleh. Tidak ada siapa-siapa, tapi pintu kamar Nadia di lantai atas, yang tadi tertutup, sekarang terbuka sedikit.