📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 3

Bubur Kacang Hijau untuk Bu Guru

Warung yang Datang Bersama Hujan · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Galih pulang dari Garut membawa dua plastik dodol, satu karung kecil oncom, dan perasaan yang sulit ia jelaskan. Neneknya menangis ketika ia datang, lalu tertawa ketika nasi tutug oncom buatan Galih ternyata keasinan.

"Kencurnya kebanyakan," kata Nini sambil mengunyah. "Tapi enak. Enak sekali."

Tiga hari setelah kembali ke Bandung, hujan turun lagi. Kali ini pukul dua siang, di tengah antrean di depan gudang ekspedisi. Galih langsung menyalakan motor dan memacu ke Jalan Cikapundung.

Gang itu ada. Lampu kuning itu menyala.


"Telat," kata Mbok Sum tanpa menoleh. "Tamunya sudah dari tadi."

Di ujung meja panjang duduk seorang perempuan tua berkacamata tebal, rambutnya pendek dan putih, mengenakan kardigan biru yang dikancing sampai leher. Di depannya ada semangkuk bubur kacang hijau yang belum disentuh. Ia memandangi mangkuk itu seperti memandangi soal ujian yang terlalu sulit.

"Itu Bu Ratna," bisik Mbok Sum. "Sudah setengah jam begitu. Mbok tidak bisa memaksa orang makan. Tapi kamu bisa menemani."

"Saya? Saya bukan siapa-siapa, Mbok."

"Justru itu. Orang lebih berani bercerita pada yang bukan siapa-siapa."

Galih duduk dua bangku dari Bu Ratna. Ia berdeham.

"Buburnya keburu dingin, Bu. Sayang, wanginya enak sekali."

Memang wangi. Kacang hijaunya direbus sampai merekah, kuahnya kental berwarna cokelat keemasan karena gula aren, dan di atasnya Mbok Sum menuang santan yang dimasak dengan daun pandan dan sejumput garam. Ada potongan jahe tipis yang mengapung, dan sepotong roti tawar di piring kecil di sampingnya, untuk dicelup.

Bu Ratna tersenyum tipis.

"Saya dulu guru SD, Nak. Tiga puluh empat tahun mengajar. Saya tidak suka bubur kacang hijau. Tidak pernah suka."

"Lalu kenapa dipesan?"

"Saya tidak memesan," kata Bu Ratna. "Perempuan itu langsung menyajikannya. Dan entah kenapa, saya takut memakannya."


Galih menoleh ke dapur. Mbok Sum sedang mengaduk sesuatu di panci, punggungnya menghadap mereka, tetapi Galih yakin ia mendengar semuanya.

"Mbok Sum memasak yang kita butuhkan, Bu. Bukan yang kita suka," kata Galih. Kalimat itu keluar begitu saja, dan ia sendiri kaget mendengarnya.

Bu Ratna menghela napas. Tangannya yang berbintik cokelat meraih sendok. Ia menyendok sedikit, meniupnya, lalu memasukkannya ke mulut.

Sendok itu jatuh ke mangkuk dengan bunyi kecil.

"Wahyu," bisiknya.

Galih menunggu.

"Tahun sembilan puluh dua. Kelas empat. Ada murid namanya Wahyu. Anaknya pendiam, bajunya selalu kebesaran. Setiap hari Jumat dia bawa termos kecil berisi bubur kacang hijau. Buatan ibunya, katanya, untuk Bu Guru." Bu Ratna menelan ludah. "Saya tidak pernah memakannya. Saya taruh di meja, lalu saya buang sepulang sekolah. Saya pikir dia cuma mau cari muka supaya nilainya bagus."

Hujan mengetuk atap seng lebih keras.

"Suatu hari Wahyu tidak masuk tiga hari. Ketika kembali, dia tidak bawa termos lagi. Saya tanya kenapa, dia bilang ibunya sakit, tidak bisa masak." Suara Bu Ratna bergetar. "Lalu dia bilang, Ibu saya bilang, kalau Bu Guru sudah kenyang, nanti Bu Guru lebih sabar sama anak-anak. Saya marah, Nak. Saya pikir dia menyindir saya. Saya suruh dia berdiri di depan kelas sampai jam pulang."

Galih tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat mata tua itu berkaca-kaca di balik lensa tebal.

"Saya lupa semuanya. Benar-benar lupa. Sampai sesendok bubur ini."


Mbok Sum datang membawa teko kecil dan menuangkan teh jahe ke gelas Bu Ratna tanpa berkata apa-apa. Uapnya membawa aroma jahe bakar dan sereh. Bu Ratna memegang gelas itu dengan dua tangan, seperti orang yang sedang menghangatkan diri di depan api unggun.

"Kenapa saya bisa lupa?" tanyanya, entah kepada siapa.

"Karena Ibu menanggung terlalu banyak murid," jawab Galih, mencoba menghibur. "Tiga puluh empat tahun itu panjang."

Bu Ratna tersenyum sedih. "Tidak, Nak. Saya lupa karena saya tidak mau ingat."

Bu Ratna menghabiskan buburnya pelan-pelan. Setiap suapan diikuti diam yang panjang. Ketika mangkuknya kosong, ia membersihkan bibir dengan saputangan bersulam.

"Saya ingin minta maaf padanya," katanya. "Tapi itu tiga puluh tahun lalu. Saya bahkan tidak tahu nama belakangnya."

Galih teringat sesuatu. Ia membuka aplikasi di ponselnya, aplikasi pengiriman yang memuat ribuan nama dan alamat di Bandung.

"Bu, sekolahnya di mana dulu?"

"SD Negeri Babakan Ciamis. Sudah lama digabung dengan sekolah lain."

"Wahyu-nya sekarang umur berapa kira-kira?"

"Empat puluh, mungkin."

Galih mengetik. Ini mungkin melanggar aturan kantor, pikirnya, tetapi ia tidak mencari data siapa pun. Ia hanya ingat satu nama yang sering muncul di daftar pengirimannya: Wahyu, Warung Bubur Kacang Ijo Bu Imas, Jl. Babakan Ciamis. Pelanggan tetap yang setiap minggu mengirim paket gula aren dari Garut.

"Bu," katanya pelan, "ada warung bubur kacang hijau di Babakan Ciamis. Namanya Bu Imas. Pemiliknya Wahyu. Saya sering mengantar paket ke sana."

Bu Ratna menutup mulutnya dengan saputangan.


Ketika hujan mulai mereda, Mbok Sum meletakkan sebuah termos kecil di depan Bu Ratna. Termos plastik hijau tua dengan tutup merah, jenis yang dulu dijual di pasar-pasar.

"Bawa ini," kata Mbok Sum. "Isinya bubur. Berikan pada yang berhak."

"Tapi saya harus ke mana dulu?"

"Dia yang tahu jalannya." Mbok Sum menunjuk Galih dengan dagunya.

Galih mengantar Bu Ratna sampai mulut gang, memayunginya dengan payung pinjaman dari warung. Begitu mereka menginjak trotoar, hujan berhenti. Gang itu lenyap seperti sebelumnya, tetapi termos hijau itu tetap hangat di tangan Bu Ratna.


Esok paginya, Galih mengantar paket ke Warung Bubur Kacang Ijo Bu Imas seperti biasa. Kali ini ia tidak langsung pergi. Ia berdiri di seberang jalan dan melihat seorang perempuan tua berkardigan biru turun dari angkot, memegang termos hijau dengan dua tangan.

Lelaki di balik gerobak bubur, berkaus oblong dan bercelemek, mengangkat kepala. Ia memandangi perempuan itu lama, lalu memandangi termosnya.

"Bu Ratna?" katanya. "Ini termos Ibu saya."

Galih tidak mendengar sisa percakapan mereka. Ia hanya melihat Bu Ratna menangis, dan Wahyu, lelaki empat puluh tahun dengan bahu lebar, menangis juga, lalu menarik bangku plastik untuk gurunya dan menyajikan semangkuk bubur.

Galih menyalakan motor. Di kaca spion ia melihat langit Bandung mulai mendung lagi.

Di sakunya ada secarik kertas cokelat yang entah kapan diselipkan.

Kamu lulus, Cep. Mbok tunggu hujan berikutnya. Ada tamu yang lebih keras kepala.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu