📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Rawon yang Terlalu Hitam

Warung yang Datang Bersama Hujan · 22 Okt 2026 · 5 menit baca

Tamu yang keras kepala itu bernama Dimas, dan ia datang dengan payung yang patah separuh.

Galih sampai di warung lebih dulu sore itu. Ia baru saja meletakkan helm ketika pintu terbuka dan seorang lelaki muda berkemeja kantor masuk sambil mengumpat pelan. Sepatu kulitnya basah, rambutnya yang tadinya rapi kini menempel di dahi.

"Ini warung apa? Kok nggak ada di Maps?"

"Warung Mbok Sum," jawab Galih. "Buka kalau hujan."

Lelaki itu mendengus, seolah Galih baru saja melontarkan lelucon basi. Ia duduk di ujung meja, mengeluarkan ponsel, dan mengetik cepat.

"Saya cuma numpang neduh. Nggak usah dimasakin apa-apa, Bu."

Mbok Sum tidak menjawab. Ia sudah sibuk sejak Galih datang. Di atas tungku, panci tanah liat besar mengeluarkan uap yang berwarna gelap. Baunya dalam dan berat, bau bawang merah dan bawang putih yang ditumis lama, ketumbar sangrai, kunyit, jahe, serai, dan satu aroma khas yang hampir seperti cokelat pahit: keluak.

Galih mengenali bau itu. Rawon.


Mbok Sum mengiris daging sandung lamur yang sudah empuk, menyusunnya di mangkuk, lalu menyiram kuah hitam pekat di atasnya. Ia menambahkan tauge pendek, sejumput bawang goreng, dan seiris telur asin di pinggir. Nasi putih di piring terpisah. Sambal terasi dan kerupuk udang di piring kecil.

Mangkuk itu ia letakkan di depan Dimas.

"Saya bilang saya nggak pesan," kata Dimas, nada suaranya meninggi.

"Mbok tidak minta bayar," jawab Mbok Sum tenang. "Mbok cuma minta kamu cium baunya."

Dimas melirik mangkuk itu. Lalu wajahnya berubah. Rahangnya mengeras, dan tangannya yang memegang ponsel berhenti bergerak.

"Saya nggak makan rawon," katanya dingin. "Saya benci rawon."

Galih menoleh ke Mbok Sum. Perempuan tua itu hanya mengangkat bahu, lalu kembali ke tungku seolah tidak ada yang terjadi. Galih paham maksudnya. Gilirannya.


"Kenapa benci, Mas?" tanya Galih, pindah ke bangku dekat Dimas.

"Bukan urusanmu."

"Memang bukan. Tapi hujannya masih deras, dan kita sama-sama terjebak di sini."

Dimas diam lama. Hujan menderu di atap. Mangkuk rawon di depannya terus mengepul, dan uapnya seperti sengaja mengarah ke wajahnya.

"Bapak saya masak rawon setiap Minggu," kata Dimas akhirnya, nyaris berbisik. "Setelah Ibu pergi. Saya umur sepuluh. Ibu pergi ke Hong Kong jadi TKW, lalu tidak pulang. Bapak yang tinggal. Bapak yang tidak bisa masak apa-apa, tiba-tiba setiap Minggu masak rawon. Selalu kehitaman, selalu keasinan, selalu dagingnya alot."

"Terus?"

"Terus saya benci. Setiap Minggu, rawon yang sama. Saya pikir Bapak malas. Saya pikir Bapak tidak peduli saya bosan." Dimas tertawa pahit. "Umur delapan belas saya kuliah di Bandung. Sejak itu saya jarang pulang. Kalau pulang, saya makan di luar."

Galih teringat kamar kosnya sendiri, mi instan yang ia makan tiga kali seminggu, dan pesan-pesan dari Nini yang dulu sering ia balas dengan satu kata. Ia tidak berhak menghakimi siapa pun.

"Saya juga pernah begitu, Mas," katanya jujur. "Lama tidak pulang. Selalu ada alasan."

"Terus?"

"Terus saya makan nasi tutug oncom di sini, dan minggu depannya saya naik bus ke Garut."

Dimas meliriknya, setengah tidak percaya, setengah penasaran.

"Bapak masih di Surabaya?"

Dimas mengangguk pelan. "Kemarin ulang tahunnya yang ke-enam puluh. Saya cuma kirim pesan. Dua kata."


Dimas akhirnya mengambil sendok. Mungkin karena lapar, mungkin karena penasaran, mungkin karena uap itu terlalu keras kepala. Ia menyuap kuahnya saja dulu.

Matanya terpejam.

Galih tidak tahu apa yang Dimas lihat, tetapi ia melihat bahu lelaki itu turun perlahan, seperti beban yang lama dipikul akhirnya dilepas.

"Bapak," kata Dimas dengan suara serak. "Bapak di dapur jam empat pagi. Saya kebangun mau pipis. Bapak lagi menangis sambil mengupas keluak. Saya pikir Bapak menangis karena bawang." Ia membuka mata. "Saya tanya kenapa masak rawon terus. Bapak bilang, Karena ini masakan pertama yang Ibumu ajarkan ke Bapak. Kalau Bapak berhenti masak ini, Bapak takut lupa rasanya Ibumu."

Dimas menunduk. Sendok di tangannya bergetar.

"Saya lupa, Mas. Saya benar-benar lupa Bapak pernah bilang begitu. Yang saya ingat cuma bosan dan keasinan."

Galih tidak berkata apa-apa. Ia mendorong piring nasi lebih dekat ke Dimas. Mbok Sum, dari balik tungku, menambahkan sesendok kuah panas ke mangkuk tanpa diminta.

Dimas makan. Pelan, lalu cepat, lalu pelan lagi. Ia menghabiskan semuanya, termasuk telur asin yang ia sisihkan di awal. Ketika mangkuknya kosong, ia menatap Mbok Sum.

"Bu, eh, Mbok. Rawon ini rasanya sama persis kayak punya Bapak. Kehitaman. Agak keasinan."

Mbok Sum tersenyum untuk pertama kalinya sore itu.

"Mbok sengaja. Kenangan tidak bisa dipanggil pakai yang sempurna."


Hujan mulai melambat. Dimas mengeluarkan dompet, tetapi Mbok Sum menggeleng seperti kepada Galih dulu.

"Bayarnya nanti."

"Kalau saya sudah pulang ke Surabaya?" tebak Dimas.

"Kalau kamu sudah makan rawon Bapakmu lagi. Dan bilang enak, walaupun keasinan."

Dimas tertawa. Tawa yang benar-benar lepas. Ia bangkit, menepuk bahu Galih dengan kikuk, lalu berjalan ke pintu dengan payung patahnya.

Sebelum keluar, ia berbalik. "Mbok sendiri suka masak apa?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Galih melihat sesuatu berubah di wajah Mbok Sum. Senyumnya membeku sesaat. Tangannya yang memegang sendok kayu berhenti di udara.

"Mbok sudah lupa," jawabnya pendek. "Sudah, pulang sana sebelum reda."


Setelah Dimas pergi, Galih membantu mencuci mangkuk di bak tanah liat di belakang tungku. Untuk pertama kalinya ia memperhatikan sendok sayur yang selalu dipakai Mbok Sum. Sendok kuningan dengan gagang kayu yang menghitam, dan di pangkalnya ada ukiran kecil yang hampir aus:

Untuk Sumarni. Dari T. 1979.

"Mbok, T itu siapa?"

Mbok Sum mengambil sendok itu dari tangannya, mengelapnya dengan celemek, lalu menggantungnya kembali di paku dekat tungku.

"Kalau Mbok ingat, Mbok sudah lama tidak di sini," katanya. Lalu, lebih pelan, nyaris tertelan suara hujan terakhir: "Pergilah, Cep. Hujannya mau habis."

Galih melangkah keluar. Di trotoar, langit Bandung sudah bersih. Di ponselnya ada notifikasi dari nomor tak dikenal.

Mas kurir, ini Dimas. Saya pesan tiket kereta ke Surabaya Jumat ini. Terima kasih sudah memaksa saya bercerita.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Warung yang Datang Bersama Hujan”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu